Image Slider

Yang Merusak Wajah Islam

Oleh: Moh. Fathor Rois

Islam lahir dengan wajah yang indah. Ya, benar-benar indah. Memang fitrahnya, bukan karena rekayasa kosmetik. Tetapi akhir-akhir ini, keindahan wajah Islam itu tampak memudar dan semakin tidak sedap dipandang.

Orang-orang yang baru melihat wajah Islam saat ini tentu akan beranggapan bahwa Islam itu memang buruk. Tetapi orang yang melihatnya di masa lalu, dia pasti yakin bahwa penampakan wajah Islam yang buruk ini bukan dari asal kejadiannya, melainkan karena ulah para pemeluknya sendiri. Mereka melihat Islam ini secara parsial, tidak lengkap.

Dari pengamatan yang sepotong-sepotong itu muncullah pengagungan dan pemujaan pada satu organ keagamaan. Pengagungan dan pemujaan itu memang benar sesuai kenyataan. Tetapi di tangan orang-orang yang lupa, diputar ke arah penghinaan pada organ yang lain.

Lihatlah. Yang menggeluti ilmu agama meremehkan ilmu umum. Yang mempelajari ilmu-ilmu umum merendahkan ilmu agama. Bahkan sesama pemburu ilmu agama itu sendiri juga saling silang. Yang mendalami ilmu Falak meremehkan ilmu Faraid. Penganut hisab menyerang penganut rukyat, dan penganut rukyat menghantam penganut hisab. Ulama menghina umara’. Umara’ tidak menghargai ulama. Yang zuhud mencaci yang kaya. Yang kaya menghina yang papa. Yang ningrat menghina yang jelata. Yang jelata menyombongi yang ningrat. Yang ningrat bilang, “Satu orang ningrat yang bodoh lebih mulia daripada tujuh puluh jelata yang alim”. Lalu yang jelata tidak terima, “Barangsiapa yang mengatakan satu orang ningrat yang bodoh lebih mulia daripada tujuh puluh jelata yang alim, berarti dia itu muridnya Iblis”.

Penceramah yang suka melawak mencaci ceramah yang serius, “Pengajian serius terus. Ya ditinggal tidur oleh jamaahnya”. Yang suka serius mencemooh yang melawak, “Pengajian mahal-mahal biayanya, isinya kok lawak terus”.

Kalau ketua partai bilang pengajian tidak ada gunanya, itu sih tidak mencoreng wajah agama. Yang mencoreng wajah agama adalah penghinaan-penghinaan yang dilakukan oleh agamawan itu sendiri. Perbuatan yang sebenarnya dilarang oleh agama itu justru dipertontonkan di atas mimbar ceramah dan podium pengajian. Tidak bisa dielakkan lagi bahwa ini merupakan suatu jinayah diniyah atau kriminal keagamaan.

Penulis tak punya harapan untuk mereka yang terlanjur kesurupan. Namun setidaknya penulis berharap kepada pembaca yang masih sadar ini agar bisa berpikir waras.

Pertama, memahami teks. Kalau Rasulullah bersabda, “Kelebihan seorang alim di atas seorang abid seperti kelebihanku di atas orang yang paling rendah di antara kalian”, apakah maksud dari sabda ini adalah larangan untuk menjadi abid? Kalau dikatakan dalam kitab Bidayatul Hidayah, “Ghibah satu kali lebih berat daripada zina tiga puluh kali”, apakah maksud dari pernyataan itu adalah perintah untuk berzina?

Maka, keutamaan-keutamaan yang disematkan oleh Islam kepada perorangan maupun kelompok, baik karena suatu sifat maupun karena keistimewaan yang lain, itu bukan lampu hijau untuk merendahkan yang lain. Buktinya, di berbagai kesempatan, Rasulullah mengungkapkan pernyataan yang berbeda tentang amal yang paling utama. Suatu saat beliau menyatakan bahwa amal yang paling utama itu adalah bersalat di awal waktunya. Tapi di saat yang lain beliau menyatakan bahwa amal yang paling utama adalah memasukkan kebahagiaan di hati orang-orang mukmin. Kok bisa begitu? Wallahu a’lam, itu karena keadaan atau orang yang dihadapi berbeda. Sama seperti logika Imam Ghazali, “Lebih baik mana makanan dan minuman?” maka tergantung orangnya. Kata beliau, bagi orang yang kelaparan, lebih baik makanan. Tetapi bagi yang kehausan, lebih baik minuman. Berarti, makanan dan minuman sama-sama penting.

Kedua, selain memahami teks, sangat penting juga membaca sejarah para figur yang menjadi panutan keberagamaan dalam Islam, seperti Rasulullah sendiri, sahabat, dan tabi’in. Bagaimana mereka mengamalkan teks-teks penghargaan dalam Islam. Sebagai contoh, kita lihat bagaimana Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas saling menghormati. Ibnu Abbas bilang, “Begini perintah Rasulullah kepada kami untuk ulama dan orang-orang tua”. Sebaliknya, Zaid bin Tsabit bilang, “Begini perintah Rasulullah kepada kami untuk kerabat-kerabat beliau”. Jelas, kan ? Ibnu Abbas punya keistimewaan sebagai ahlul bait tetapi dia tidak minta dihormati oleh Zaid karena dia orang jelata. Melainkan Ibnu Abbas yang menghormati Zaid bin Tsabit karena melihat keilmuan dan senioritasnya. Begitu juga Zaid bin Tsabit tidak melihat dirinya sebagai orang alim dan lebih tua sehingga menuntut Ibnu Abbas untuk memuliakannya, melainkan Zaid bin Tsabit sendiri yang memuliakan Ibnu Abbas karena dia adalah ahlul bait.

Nah, hari ini orang-orang juga tahu bahwa nasab Itu adalah keistimewaan, dan ilmu juga keistimewaan. Cuma cara mengamalkannya yang berbeda. Yang punya nasab merendahkan yang tidak punya nasab walaupun punya ilmu, begitu juga yang punya ilmu merendahkan yang tidak punya ilmu walaupun punya nasab.

Teks yang dikoleksi sama, tetapi menyelami pesan teks itu yang berbeda. Maka benarlah sebuah pernyataan dalam kitab Ta’limul Muta’lim yang menyatakan, “Kerusakan besar bagi agama bila orang yang berilmu itu nakal, tetapi lebih besar lagi orang yang beragama tetapi tidak berilmu”. Benih yang ditanam adalah kalimat-kalimat suci keagamaan, tetapi tumbuhnya jadi sikap yang arogan.
Kalau yang sudah tidak sadar tidak bisa disadarkan, paling tidak, yang masih sadar jangan sampai ikut-ikutan tidak sadar.

Wallahu a’lam

*Ketua PC LFNU Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga