Gapura, NU Online Sumenep
Peluncuran Aplikasi Niagari dan Rumah Niaga milik Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura kerja sama dengan Koperasi Nyior, Dik-Kodik, Gapura Timur, Kamis (28/10/2021) di aula setempat.
Selain sederet acara yang dikemas seremonial, yang juga menarik dalam acara ini adalah adanya keterlibatan produsen lokal yang memasarkan produknya secara langsung, salah satu produsen yang hadir langsung di acara ini adalah Masyani, penjual cendol asal Dusun Banjeru, Gapura Tengah.
Menurut pengakuan Masyani, selama ini dirinya menjajakan cendol sejak pagi sampai sore hari. Ia harus mendatangi rumah warga satu per satu demi menawarkan dagangannya sambil melawan terik matahari atau dinginnya hujan.
“Saya biasanya menjajakan cendol mulai pagi sampai sore hari, berangkat dari rumah di Tobato, Gapura Tengah pagi dan pulang sore hari,” ungkapnya.
Perempuan berusia 56 tahun itu setiap hari memperoleh pendapatan sekitar Rp. 200.000,- setelah berjalan sambil menyunggi dagangannya ke beberapa tempat, antara lain Gapura Timur, Longos, dan Banuaju Barat.
“Menjual dengan cara kuno (manual,red) tentu saja membutuhkan banyak waktu dan banyak tenaga,” akunya kepada NU Online Sumenep.
Ditanya tentang harapannya mengenai peluang berjualan secara online di aplikasi Niagari, dirinya berharap agar produksi cendolnya bisa meningkat dengan adanya sistem jual beli online melalui aplikasi itu. Selain itu, ia berharap agar tak perlu lagi berjalan jauh untuk menjual dagangannya sehinga waktu yang ada lebih efisien digunakan untuk hal lain yang juga bermanfaat.
“Jika bisa dipesan lewat Niagari, kan enak tinggal mengirimkan saja, tak usah lagi berjualan ke mana-mana, tak banyak makan waktu, asal dibantu dengan anak-anak ini,” ungkapnya seraya menunjuk ke beberapa tim Rumah Niagari yang ada di depannya.
Menanggapi hal itu, Herman, salah satu tim Niagari, sekaligus ketua pantia Grand Launching saat dihubungi NU Online Sumenep mengatakan, bahwa hadirnya penjual cendol itu memang sebagai simbol produk lokal sesuai dengan semangat Niagari yaitu spirit berbisnis dengan masyarakat kelas bawah. Pihaknya siap untuk memasarkan cendol dan penganan lokal lainnya dengan cara sistem prapesan.
“Di Niagari itu ada dua jenis barang, ada yang raedy (memang sudah tersedia) dan ada yang bersifat PO (preorder atau prapesan). Kalua cendol ini sifatnya harus melaui PO. Jika mau beli maka harus pesan dulu. Pokoknya asal produk lokal pasti kami layani,” jelasnya.
Herman menambahkan, syarat bisa disebut produk lokal versi Niagari harus meliputi empat hal; 1. Bahan baku lokal, 2. Namanya lokal, 3. Menggunakan sumber daya manusia (SDM) lokal, dan 3. Pemodalnya juga lokal. Sedang setiap produk yang dijual di marketplace tersebut sistem pembagiannya 2% untuk Niagari dan Rp. 500,- untuk NU Care – Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU).
“Pembagian itu akan terpotong secara otomatis di aplikasi,” imbuhnya.
Ketika ditanya lebih jauh tentang Rumah Niaga, lelaki yang menjabat Wakil Ketua Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Gapura Timur itu menjelaskan bahwa ada dua hal penting sebagai perhatian dasar dalam Rumah Niaga, yaitu optimalisasi dan mobilisasi.
“Optimalisasi meliputi branding, kapasitas, dan kualitas produk. Sedangkan mobilisasi adalah cara produk cepat dan mudah sampai ke konsumen,” pungkasnya.
Editor: A Habiburrahman

