Image Slider

Sekretaris PW LFNU Jatim, Targetkan Uji Akurasi Waktu Ashar Minimal 1 Tahun

Talango, NU Online Sumenep
Fathur Rozi, Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur melakukan observasi awal waktu shalat Ashar menggunakan teori yang ada dalam kitab Sullam Al-Munajat di halaman Mushalla Al-Hidayah Gapurana, Talango, Selasa (25/01/2022).

Alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu mengawali observasinya dengan mengulas sejarah singkat kitab Sullam Al-Munajat.

“Sullam Al-Munajat merupakan elaborasi (syarah) kitab Safinatus Shalat. Kitab ini disusun oleh ulama Nusantara yaitu Kiai Nawawi Banten. Kitab ini memuat tentang akidah dan tuntunan salat praktis dalam koridor mazhab Syafi’i, termasuk tanda-tanda awal waktu shalat fardlu,” ujar alumni Pondok Pesantren Annuqayah ini.

Ketua Keluarga Alumni Falak Annuqayah (KAFA) Guluk-Guluk itu juga menerangkan terkait hal menarik dan unik yang terdapat dalam kitab Sullam Al-Munajat.

“Hal yang menarik dalam kitab tersebut yaitu tentang awal waktu shalat Ashar. Secara teori, Kiai Nawawi menjelaskan bahwa awal waktu shalat Ashar adalah apabila panjang bayangan suatu benda sama dengan panjang benda tersebut ditambah panjang bayangan saat matahari transit di Meridian (kulminasi). Misalnya, panjang benda 5 cm, saat matahari berkulminasi terdapat bayangan sepanjang 1 cm. Maka, secara teori, waktu Ashar masuk jika panjang bayangan benda tersebut mencapai 6 cm. Nah, teori tersebut menarik untuk diteliti dengan observasi langsung di lapangan,” tegasnya.

Dalam observasi tersebut, instrumen yang digunakan adalah istiwaaini. Sebuah instrumen Falak yang dibuat oleh Kiai Slamet Hambali, salah satu ahli Falak Nasional dan Dosen Ilmu Falak di UIN Walisongo Semarang.

“Observasi dilakukan dengan cara yaitu menentukan Utara Sejati (True North). Ketika bayangan matahari menyentuh utara sejati tersebut, maka saat itu terjadi kulminasi (istiwa’). Lalu, ukurlah panjang bayangan benda saat itu,” tuturnya sambil lalu mempraktikkan alatnya.

“Setelah itu, kita menunggu beberapa jam kemudian. Lalu, kita ukur lagi panjang bayangan benda tegak, hingga bayangan benda tersebut sama dengan panjang bendanya dan ditambah panjang bayangan saat kulminasi. Saat itulah masuk waktu Ashar,” jelasnya.

Dalam observasi yang dilakukannya, didapatkan data Panjang Gnomon (tongkat tegak) adalah 10 cm. Panjang bayangan saat kulminasi adalah 1,7 cm. Panjang saat Ashar adalah 11,7 cm.

“Observasi ini akan terus dilakukan hingga mendapatkan data yang benar-benar valid. Penelitian itu tidak cukup 1 sampai 2 kali. Kami targetkan penelitian ini selama 1 tahun, yaitu ketika matahari di belahan langit selatan, ketika di ekuator dan ketika di belahan langit utara. Kalau sekarang matahari ada di selatan, sehingga bayangan ada di utara benda tegak,” pungkasnya.

Editor : Ach Khalilurrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga