Pragaan, NU Online Sumenep
Peristiwa Isra’ Mi’raj bagian dari melestarikan budaya nenek moyang. Karena pada saat itu Nabi Muhammad SAW mendapat intimidasi dan desakan ilmiah dari pembesar Quraisy pasca wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah Al-Kubra.
Pernyataan itu disampaikan oleh Kiai Ach Rofiq Syuja’, Wakil Sekretaris Aswaja NU Center Sumenep di acara peringatan Isra’ Mi’raj dan Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU. Acara ini diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumenep, Selasa (01/03/2022) malam di aula Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat.
“Banyak pemuka Quraisy meragukan nabi bertemu dengan Allah SWT, bahkan ragu bahwa Rasulullah adalah nabi terakhir yang menjadi penyempurna agama sebelumnya. Mereka meminta bukti-bukti konkrit kepada Rasulullah. Karena nabi-nabi sebelumnya diturunkan di Baitul Maqdis atau Palestina. Di saat yang sama, ada 2 agama besar yang memiliki tatanan sosial dan politik yang kuat, yakni Nasrani dan Yahudi,” ujarnya mengawali materi.
Kemudian, pemuka Quraisy menanyakan pada Rasulullah tentang hubungan ajaran nabi dengan 2 agama tersebut. Pasalnya kitab-kitab suci nabi sebelumnya tidak jauh dari Palestina. Selain itu ia menanyakan tentang bentuk tubuh Nabi Musa a.s hingga Masjidil Aqsa.
Ketua Aswaja NU Center Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu mengutarakan, yang menjadi persoalan besar bagi nabi adalah monumen peninggalan leluhurnya.
“Yang membangun Ka’bah adalah leluhur pemuka Quraisy. Jika tau, di manakah batu pertama yang diletakkannya? Di manakah letak Ismail a.s saat membantu ayahnya? Di manakah Siti Hajar mencari air untuk anaknya? Pertanyaan itulah yang membuat nabi bingung sehingga terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj,” ungkap Kiai Rofiq.
Saat Isra’ Mi’raj, lanjutnya, nabi bertemu dengan nabi-nabi sebelumnya. Salah satunya Nabi Ibrahim a.s sebagai sesepuh Nabi Muhammad SAW.
“Nabi Adam a.s menegaskan pada Rasulullah bahwa yang membangun tugu Ka’bah adalah dirinya sebagai tanda bahwa ia berada di bumi. Nabi Ibrahim a.s hanya meninggikan dengan bebatuan yang tersusun rapi. Di sana pula ada bekas telapak Nabi Ismail a.s yang dikenal Hijir Ismail serta ada pula maqom Ibrahim,” tutur alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk daerah Lubangsa Selatan itu.
Ada juga bukit Shafa dan Marwah, romyul jumarat, sumur zamzam, dan lainnya. “Andai saja tak ada monumen itu, nama Nabi Ibrahim tidak diabadikan dalam shalat. Dengan demikian, Allah SWT mengajarkan pada nabi untuk menghargai tradisi nenek moyangnya. Karena tak akan maju suatu umat jika tidak berpegang pada tradisi leluhurnya,” tegasnya.
Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Pragaan itu mengatakan bahwa Isra’ Mi’raj memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah pada Nabi Muhammad SAW. Tujuannya agar memiliki kompetensi keilmuan. Karena tidak hanya mengulas napak tilas leluhurnya, tetapi keilmuan lainnya.
“Sejak itulah nabi bisa menjawab pertanyaan para koleganya Abu Jahal. Intinya, para kolega percaya lewat diskusi ilmiah,” imbuh dosen Instika Guluk-Guluk itu.
Selain itu, Kiai Rofiq juga menjelaskan penguatan potensi relgius di saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Menurut kacamatanya, manusia memiliki 3 kekuatan. Pertama, Al-Quwwah Annabatiyah atau potensi vegetatif. “Manusia itu tumbuh, membesar, berkembang, menua, dan mati,” jelasnya.
Kedua, Al-Quwwah Hayawaniyyah atau Assiba’iyah. Manusia buas, jahat, diktator, otoriter, eksploitatif, dan semacamnya. Ketiga, Al-Quwwah Al-Ilahiyah, potensi ketuhanan, seperti Ar-Rahman, Al-Wadud, Ar-Rahim dan semacamnya.
“Saat nabi tertidur di Hijir Ismail, didatangi oleh malaikat Mikail dan Israfil. Kemudian digotong ke dekat sumur zamzam. Lalu disucikan hatinya guna mencopot potensi kesombongannya. Dengan demikian, seorang pemimpin harus memiliki wawasan intelektual yang mapan. Memiliki kekuatan tauhid spiritual,” pungkasnya.

