Pragaan, NU Online Sumenep
KH Moh Salahuddin A Warits, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk menegaskan, Makkah berkembang menajdi kota besar, karena Nabi Muhammad Saw menjadi membawa kepemimpinan yang transformatif.
Pernyataan ini disampaikan saat mengisi orasi kepemimpinan pasca pelantikan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pragaan masa khidmat 2022-2024 di Aula KH Ahmad Basyir Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Arrahmah Jaddung, Pragaan, Sumenep, Sabtu (29/10/2022).
“Dulu Makkah tidak memiliki suatu sistem sosial yang stabil di Jazirah Arab yang memanjang dari utara ke selatan. Padahal di bagian selatan, orang Yaman beradab. Artinya sudah ada tata kelola perkotaan, perkebunan, permukiman, pertanian, dan irigasi. Sebaliknya juga di Syam, Persia, Romawi juga tertata rapi,” ujar Ra Mamak sapaannya.
DiMakkah tidak seperti negeri-negeri tersebut, lanjutnya, orang Makkah dikenal masyarakat yang organik atau Badawi dan banyak ragam komunitas di sana. Artinya, di sana multi faksi, mirip dengan keadaan sekarang yang banyak partai dan memiliki klan.
“Dari beragam suku, banyak yang terpecah, karena rebutan sumur dan sebagainya. Terpecahnya suku di Makkah, karena tidak ada tata kelola pemerintahan,” tutur alumni Al-Azhar Kairo Mesir itu.
Bayangkan, sambungnya, kota lama yang ratusan tahun dibangun Nabi Ibrahim As menjadi pusat perdagangan, tidak terkelola rapi. Ra Mamak menyebutkan, masyarakat yang tradisonal itu disebut jahili, karena mereka punya kebebasan mengekspresikan sikap hidupnya.
“Tidak ada yang mengatur, suka membunuh anak perempuan, tapi tidak semua orang Makkah, melainkan klan-klan, faksi dan kesukuan tertentu. Kendati demikian, Makkah menjadi tempat persinggahan jalur perdagangan. Baik yang dari Yaman, Syam, dan sebagainya, singgah di tengah-tengah Jazirah Arab itu. Tak hanya perdangan, mereka bikin pasar, festival, pameran. Setelah selesai, mereka pergi,” terangnya.
Menurut padangannya, sebelum turunnya risalah, pusat bisnis ada di Makkah. Sama dengan Prenduan yang menjadi tempat orang berlalu-lalang atau pusat perdagangan di Kecamatan Pragaan.
“Masyarakatnya multikultural, Persia tidak memiliki kepentingan politik tertentu di Makkah, pasalnya tidak bisa mengatur banyaknya klan. Yang menjadi perhatian hanya perdagangannya saja,” papar alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.
Setelah turunnya nabi, tiba-tiba titik kecil yang disebut Makkah itu menjadi episentrum baru dari berbagai kepentingan besar. Dari sinilah banyak negeri seperti Persia, Afrika Utara hingga sampai ke Eropa Timur takluk pada model kepemimpinan nabi yang transformatif.
“Untungnya nabi tidak memberi landasan tentang bentuk pemerintahan yang kita kenal saat ini seperti republik, demokrasi, kesultanan dan sejenisnya. Jika demikan, Madura akan akan mendeklarasikan sebagai negara. Karena notabene warganya bermaulid,” tandasnya.

