Ambunten, NU Online Sumenep
Dalam rangka menyambut Hari Lahir (Harlah) ke-88 Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Ambunten menggelar halaqah ke-Ansor-an dengan tajuk ‘Nuzulul Qur’an dan Harlah GP Ansor’, Senin (25/04/2022) malam di halaman kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat.
Kiai Abdul Wasid yang didaulat sebagai penceramah menyampaikan, Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, mempelajari agama ini pun haruslah dengan guru, yang rentetan rawinya sampai kepada Rasulullah SAW.
“Orang yang belajar ilmu agama tanpa guru dikhawatirkan akan menyesatkan dirinya sendiri dan lingkungan. Dari itu, sanad keilmuan berperan penting. Kaum Muslimin pun dinilai perlu menjaga tradisi tersebut, apalagi dalam era digital kini,” kata Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu.
Menurutnya, dengan tradisi sanad, maka prinsip-prinsip keislaman yang dipraktikkan bisa sama persis dengan yang dipraktikkan baginda Nabi Muhammad SAW. “Metode sanad adalah modal peradaban istimewa kaum Muslimin. Metodologi ini hanya dimiliki umat Islam,” ujar Kiai Wasid.
Dirinya menambahkan, tanpa sanad, manusia bisa menyampaikan pengetahuannya. Karena itu, sistem sanad adalah bagian dari pondasi agama. Andaikan tidak ada sanad, maka orang akan berbicara agama sesuai hawa nafsu dan kepentingannya.
“Mari kita jaga tradisi sanad ini dengan terus mengajarkan metode belajar agama secara talaqqi (bertatap muka) kepada para guru yang sanad keilmuan jelas bersambung, tinggi akhlaknya, dan menjadikan agama sebagai ladang berjuang membangun peradaban dan kemaslahatan umat,” ungkap Mantan Sekretaris Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sumenep ini.
Di kesempatan yang sama, Kiai Qumri Rahman Ketua PC GP Ansor Sumenep menegaskan dalam sambutannya bahwa pergerakan GP Ansor ialah untuk menegakkan agama Allah SWT.
“Kita bergerak tentunya dengan keyakinan yang kuat dan ada alasan serta tujuannya. Kita harus yakin dan menanamkan dalam jiwa bahwa pergerakan kita, jam’iyah kita, organisasi kita, Ansor kita, NU kita tak lain dan tak bukan ialah li i’lai kalimatillah,” tegas alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur ini.
Dijelaskan pula, para kader harus memperkuat dan memperkokoh rasa persaudaraan sesama kader Ansor serta berlomba-lomba dalam kebaikan. “Kita semuanya sama, kita sama-sama mengabdi dalam satu garis sebagai khudamai li Masyayikhi Nahdlatil Ulama, maka seharusnya kita mempererat ukhuwah,” jelasnya.
Lantas, ia meneruskan, yang membedakan Ansor dengan yang lain yakni terletak pada Fastabiqul Khairat, berlomba-berlomba dalam kebaikan dan berkegiatan.
“Bukan malah Tembangan, artinya ketimbang tidak sama sekali, makanya kami di PC GP Ansor Sumenep ini sering kali berebut untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan Ansor di manapun, minimal ada perwakilannya, bahkan kadang dengan formasi lengkap seperti malam ini,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Mandataris PAC GP Ansor Ambunten, Kiai Abdullatif Muhammad menerangkan, tujuan kegiatan ini sebagai sarana dan upaya untuk memperkuat militansi kader dengan menggalakkan kegiatan-kegiatan di bulan Ramadhan.
“Meskipun sebenarnya kepengurusan PAC masih dalam masa transisi setelah pergantian periode kepengurusan dan Surat Keputusan (SK) dari Piminan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur masih belum turun,” terang alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, Jawa Timur itu.
Kendati demikian, pihaknya telah melaksanakan beberapa kegiatan berupa bagi-bagi takjil bersama PAC Fatayat NU dan santunan anak yatim bersama MWCNU Ambunten.
Acara ini diikuti oleh 75 orang yang terdiri jajaran pengurus PAC dan Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor se-Kecamatan Ambunten, Badan Otonom (Banom) NU, serta Grup Pemuda Bershalawat Pengebar.
Editor : Firdausi

