Image Slider

KAFA Guluk-Guluk Siap Kembangkan Ilmu Falak di Sumenep

Talango, NU Online Sumenep

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa mempelajari Ilmu Falak sangat sulit sehingga minat orang untuk mempelajari Ilmu Falak menjadi minim. Padahal Ilmu Falak menjadi pijakan utama dalam praktik ibadah sehari-hari. Ini juga menyangkut penentuan arah kiblat, waktu shalat, awal puasa Ramadhan, penentuan awal bulan qamariyah, hingga terjadinya gerhana.

“Atas dasar itulah, Pengurus Keluarga Alumni Falak Annuqayah (KAFA) Guluk-Guluk akan mengadakan beberapa program dalam rangka mengajarkan dan mengembangkan Ilmu Falak di Annuqayah dan Sumenep,” demikian dikatakan Fathurrozi, Ketua KAFA Guluk-Guluk di acara Silaturahim ke-Falak-an, Rabu (27/04/2022) di Desa Gapurana, Talango.

Ia mengatakan, praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak bisa lepas dari Ilmu Falak. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang kurang memahami dan tidak memperhatikan aspek arah kiblat dalam pembangunan tempat ibadah dan dalam hal penentuan waktu shalat. “Padahal ini berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah kita,” ucapnya.

Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur ini menyatakan, salah satu tugas KAFA Guluk-Guluk yaitu memberikan pemahaman tentang pentingnya Ilmu Falak kepada Nahdliyin di Sumenep.

“Kami turut bertanggungjawab atas praktik keagamaan di masyarakat, sehingga dituntut untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat,” tutur alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk itu.

Dewan Konsultan Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-Guluk ini menambahkan, program yang akan dilaksanakan nantinya juga melibatkan banyak disiplin ilmu dari Astronomi, Fisika, Matematika, hingga Fiqih.

“Mempelajari Ilmu Falak harus dimulai dari dasar, kemudian memahami istilah-istilah, sampai proses perhitungan,” tambah Alumni Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu.

Lantas, ia menerangkan, dunia sudah memasuki era digital, suatu zaman yang berbagai macam hal diubah bentuknya menjadi digital, tidak terkecuali hal-hal yang mengenai Ilmu Falak. Ponsel umat Islam saat ini sudah bisa dilengkapi dengan aplikasi waktu shalat. Setiap kali waktu shalat tiba, ponsel akan berbunyi mengingatkan pemiliknya.

“Ada pula aplikasi penunjuk arah kiblat. Cukup dengan membuka aplikasi melalui ponsel dan arahkan ponsel ke berbagai penjuru untuk mencari kiblat. Jika sudah muncul gambar Kakbah di layar, ke sanalah, kiblat mengarah,” terangnya.

Kendati demikian, maraknya aplikasi digital mengenai Ilmu Falak tidak berarti harus menghentikan pembelajaran ilmu yang mulai langka dipelajari itu. Rozi, yang juga akademisi Ilmu Falak, mengungkapkan bahwa pembelajaran Ilmu Falak tetap penting dan harus terus dikembangkan. “Khazanah keilmuan harus tetap dikembangkan,” ungkapnya.

Menurutnya, digitalisasi hanyalah bentuk kemudahan untuk mengetahui hasil dari penghitungan Ilmu Falak. Sementara kajian dan pengajaran Ilmu Falak tetap harus dilakukan. “Digitalisasi hanya dari sisi kemudahan mengoperasikannya. Proses pemaknaan dan pengkajian harus tetap dilakukan. Justru dengan pengkajian itu, ilmu itu akan semakin berkembang,” ujar alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa aplikasi juga tidak dapat dipastikan keakuratannya. Ada banyak koreksi yang selama ini belum ditambahkan dalam algoritmanya, sehingga bukan tidak mungkin aplikasi malah semakin tidak akurat dalam penentuannya.

“Saya kira aplikasi itu hanya sebagai tool untuk memudahkan mempelajari, mempraktikkan Ilmu Falak itu sendiri,” pungkas Pengurus Bidang Hisab dan Rukyat (BHR) LFNU Sumenep itu.

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga