Image Slider

Pesan Mendalam Kiai A’la Basyir: Pemimpin NU adalah Pelayan Umat

Kota, NU Online Sumenep

Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk, Prof. Dr. KH. Abd A’la Basyir, menekankan pentingnya sosok pemimpin NU yang benar-benar hadir sebagai khadim (pelayan) umat, bukan sekadar figur yang memberi instruksi.

Pesan itu disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) PCNU Sumenep 2025, Ahad (7/12/2025).

Dalam pidatonya, Kiai A’la mengawali dengan menyampaikan permohonan maaf apabila selama penyambutan dan pelaksanaan terdapat kekurangan—mulai dari tempat duduk peserta hingga kondisi cuaca.

“Saya berdiri di sini sebagai khadim al-ma’had. Pemimpin umat itu adalah pelayan umat. Seorang pemimpin itu terlebih dulu adalah ayah sebelum ia menjadi pemberi perintah. Maka jangan suka memerintah, tapi dengarkanlah umatmu,” tegasnya.

Menurutnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengemong, merangkul, dan memperhatikan warganya sebagaimana seorang ayah memperhatikan anak-anaknya.

“Sebaik-baik pemimpin adalah yang mampu ngemong umatnya. Saya berharap pemimpin NU yang terpilih nanti benar-benar menjadi ayah bagi warga Nahdliyyin dan masyarakat Sumenep,” ujarnya.

Harapan NU Sumenep Jadi Pelayan Masyarakat

Kiai A’la menegaskan bahwa NU Sumenep harus berdiri sebagai pelayan masyarakat, meneruskan spirit khidmah yang telah digariskan para masyayikh, termasuk KH Ahmad Basyir.

Ia juga menyinggung perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, Konfercab bisa menjadi momentum lahirnya literasi dan gerakan intelektual yang mandiri.

“Kita bisa membuat AI ala Indonesia. Jangan sampai kita tergantung sepenuhnya kepada AI. NU harus tetap menjadi pelayan bagi masyarakat Sumenep,” ungkapnya.

Pesan kepada Pemerintah Daerah

Dalam sambutannya, Kiai A’la turut menitip pesan agar pemerintah daerah—khususnya Bupati Sumenep—memberikan perhatian serius kepada organisasi keagamaan.

“Sampaikan kepada bupati, jangan jadikan organisasi keagamaan itu nomor dua. Setiap ada kegiatan, hadirlah. Ini representasi masyarakat Sumenep yang mayoritas Nahdlatul Ulama, juga ada Muhammadiyah. Mohon diperhatikan, bukan untuk meminta, tetapi karena organisasi keagamaan memegang peran penting,” ucapnya.

Pesantren adalah Tiang Indonesia

Kiai A’la juga mengingatkan sejarah pengabdian para kiai terhadap bangsa, termasuk perjuangan KH Abdullah Sajjad yang gugur ditembak penjajah Belanda.

“Tolong pesantren diperhatikan. Pesantren adalah tiang Indonesia. Kalau NU ambruk, jangan-jangan Indonesia ikut goyah,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa kontribusi besar pesantren dan para ulama telah menjadi fondasi kokoh bagi keberlangsungan bangsa, sehingga perhatian pemerintah terhadap lembaga keagamaan tidak boleh setengah-setengah.

Khidmah sebagai Ruh Konfercab

Sambutan Kiai A’la menjadi pengingat bahwa Konfercab bukan sekadar agenda organisatoris, tetapi ruang meneguhkan kembali nilai khidmah, pengabdian, dan kepemimpinan yang berpihak kepada umat.

Konfercab NU Sumenep 2025 resmi dibuka pada pagi hari dan dihadiri oleh jajaran pengurus, para kiai, peserta dari MWCNU se-Kabupaten Sumenep, badan otonom, lembaga NU, serta tamu undangan. Suasana pembukaan berlangsung khidmat di kompleks Pondok Pesantren Annuqayah Latee.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga