Image Slider

Tiga Kunci Sukses NU dalam Nadrah KH Hasyim Asy’ari

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Kata KH A Washil Hasyim bahwa khidmat itu sama dengan orang yang ingin memberikan cincin. Tidak boleh tanggung. Kalau orang ingin memberikan cincin tidak boleh separuh cincin harus utuh. Kalau separuh bukan cincin namanya. Jadi kalau berkhidmat harus serius tidak boleh tanggung.

Tiga poin penting yang disampaikan oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Majalah “Berita Nahdhatoel Oelama” tahun 1937 sebagai kunci sukses perjalanan Jam’iyah Nahdhatul Ulama (NU).

Hal tersebut disampaikan kembali sebagai pengingat oleh Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep KH A Washil Hasyim saat Rapat Kerja (Raker) PCNU Kabupaten Sumenep pada Ahad, (03/05/2026) di PP Attaufiqiyah Bluto Sumenep.

Poin-poin penting dalam Nadrah KH Muhammad Hasyim Asy’ari tersebut kita uraikan sebagai berikut:

Menyatukan Barisan Ulama
Pertama, kata Kiai Hasyim bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh Jam’iyyah Nahdhatul Ulama (NU) adalah menyatukan barisan para ulama dan mengikat mereka dalam satu ikatan yang sama. Bagi beliau bukan rahasia lagi bahwa persatuan dan kesatuan adalah senjata ampuh yang digunakan manusia untuk mencapai tujuan-tujuannya, dan instrumen yang dipakai untuk menuju cita-citanya.

Jadi, titik tekannya bagi Kiai Washil adalah ada pada kalimat “توحيد صفوف العلماء وربطهم برابطة واحدة ” “Menyatukan barisan ulama dan mengikat mereka dalam satu ikatan (Jam’iyyah) yang sama.” Penyatuan ulama dalam satu barisan yang diikat dalam sebuah wadah Nahdhatul Ulama sudah selesai dilakukan.

Harapannya kemudian adalah bukan hanya penyatuan wadah secara simbolis, tapi segala fikrah dan harkah harus bersatu tidak boleh bercerai berai dan tidak boleh menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Karena bagi Kiai Hasyim urgensi penyatuan ulama dalam satu barisan itu sangat penting dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan mengabdikan diri dalam menegakkan kalimat Allah. Kemudian beliau mengutip firman Allah:

الۤمّۤۗ,اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?.

Loyalitas kita dalam pengabdian itu tidak akan lepas dari dinamika yang ada karena itu bagian dari ujian. Orang yang mengaku beriman bukan hanya sekadar ucapan, melainkan komitmen yang dibuktikan melalui ketabahan dan keteguhan dalam menghadapi cobaan hidup dan dinamikanya.

Kiai Hasyim sangat prihatin pada situasi zaman pada waktu itu, di mana nilai-nilai agama sudah mulai tidak berharga, ajaran agama disepelekan, tidak lagi dihormati, atau dipandang rendah oleh sebagian besar manusia.

Maka, kata Kiai Hasyim tidak diragukan lagi bahwa kita berada di zaman di mana orang-orang memandang agama dengan pandangan yang jauh dari rasa hormat. Kita sebaiknya memperhatikan tempat-tempat umum, seperti jalan raya dan pasar, untuk memahami betapa lemahnya semangat beragama mereka.

Maka, tugas ulama adalah bagaimana mengayomi mereka dan mendidiknya dengan jalan yang benar. Hal itu dapat terwujud dengan satu barisan dan persatuan ulama. Bersatu padu dalam satu barisan yang dapat mengokohkan perjalanan Jam’iyah NU kedepan.

Harapan besarnya bagi Kiai Washil adalah para ulama NU harus satu komando. Ibaratnya orang shalat berjamaah jika imam i’tidal maka semuanya harus i’tidal. Jika imam ruku’, maka semuanya harus ruku’. Begitu seterusnya. Jika hal ini terwujud dengan baik, maka siapa yang dapat merobohkan Jam’iyah Nahdhatul Ulama?.

Satu lidi akan terasa sulit membersihkan kotoran, tapi sapu lidi pasti berhasil menyapu bersih noda yang berserakan. Sebatang lidi akan mudah dipatahkan, tapi kalau sudah jadi sapu lidi tidak akan mudah dikalahkan. Begitu juga dengan ulama, jika satu komando dalam satu barisan, kejahatan apa yang tidak bisa dikalahkan?.

Dalam hal ini ada sebuah syair yang dikutip oleh KH Hasyim Asy’ari dalam Qanun Qasasi yaitu:

كونُوا جميعَاً يا بَنِيَّ إِذا اعتَرى # خَطْبٌ ولا تتفرقُوا آحادَا ·

تأبَى القِداحُ إِذا اجتمعْنَ تكسُّراً # وإِذا افترقْنَ تكسَّرتْ أفرادَا

“Bersatulah wahai anak-anakku jika ada bencana/kesulitan, dan janganlah kalian tercerai-berai satu per satu.”

“Anak panah itu jika berkumpul tidak akan mudah dipatahkan, namun jika terpisah, niscaya akan mudah dipatahkan satu per satu.”

Ini juga diperkuat dengan perkataan Sayyidina Ali:

ان الحق يضعف بالإختلاف و الافتراق و ان الباطل قد يقوي بالاتحاد و الاتفاق.

Artinya: “Sesungguhnya kebenaran bisa menjadi rapuh karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan bisa menjadi kokoh oleh karena persatuan dan kekompakan.”

Ini mengajarkan pada kita bahwa sinergi dan soliditas dalam organisasi akan melahirkan energi yang luar biasa, sedangkan perpecahan akan membuat kita lemah dan berantakan. Pribahasa yang sering kita dengar adalah “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”

Maka, kata Kiai Washil dalam bahasa Kiai Hasyim “ْاَن يَلُمُّوا شَعْثَهُمْ” adalah menyatukan mereka yang bercerai berai menjadi satu kesatuan yang utuh dalam satu barisan Jam’iyyah Nahdhatul Ulama agar menjadi kuat dan tak terkalahkan serta program yang dicanangkan akan mudah direalisasikan.

Butuh Kontribusi Nyata dan Keaktifan Anggota Organisasi
Kata Kiai Hasyim peran aktif semua anggota sangat dibutuhkan dalam organisasi. Bahkan beliau menyampaikan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).

Lanjut Kiai Hasyim bahwa nampaknya pertolongan Tuhan bagi kita bergantung pada pertolongan kita pada-Nya (mentaati perintah-Nya). Jika kita ingin Tuhan menolong kita, kita harus menolong Dia terlebih dahulu (patuh, tunduk dan taat), dengan menegakkan atau menjunjung tinggi kalimat-Nya (agama Allah) yang mulia, melakukan dakwah secara sempurna, membela agama-Nya, dan mempertahankan tanah airnya.

Intinya Kiai Hasyim ingin menegaskan bahwa organisasi sangat membutuhkan dukungan atau kontribusi nyata dari anggota organisasi untuk berperan aktif dalam menjalankan program kerja dan roda organisasi. Tujuannya adalah untuk kemaslahatan umat karena itu bagian dari ketaatan kita pada-Nya.

Program kerja keummatan harus dengan totalitas tanpa batas dan loyalitas tanpa syarat. Ini cerminan dari dedikasi yang tinggi dan komitmen yang kuat dari anggota organisasi. Tanpa itu semua, maka program kerja tidak akan berjalan dengan baik.

Berkhidmat dalam organisasi terutama di Jam’iyah NU ini dilandaskan tanpa perhitungan. Bukan karena siapa yang lebih intens bekerja dan yang tidak, tapi karena demi perjalanan roda organisasi yang lebih efektif.

Kemudian kata Kiai Hasyim hal ini hanya akan terwujud jika kita merealisasikan janji, perjanjian, dan kesepakatan bersama (berupa program kerja) yang kita sepakati. Sebagaimana yang telah tertulis di Qanun Asasi Nahdhatul Ulama.

Tanpa memperdulikan kesulitan materi, kerugian finansial, beban, dan pengeluaran pribadi. Dalam hadits shahih Bukhari disebutkan:

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ – وَكَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ، وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ ومَن كان في حاجةِ أخيه كان اللهُ في حاجَتِه

Artinya: “Sesungguhnya orang yang berusaha membantu menyantuni janda dan orang miskin, seperti orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang salat malam tak jemu-jemu dan seperti orang yang puasa tak pernah berhenti. Dan barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.”

Jadi, berkhidmat di organisasi seperti di NU misalnya tidak akan membuat kita menjadi miskin. Totalitas berkhidmat dengan tulus karena Allah pasti menemukan jalan keluar atau solusi dari masalah yang kita hadapi dan mendapatkan rezeki dari arah yang tak terduga sebelumnya. Ini sesuai dengan janji Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 2-3).

Maka, tidak perlu risau dengan khidmat yang kita lakukan. Kita cukup berkontribusi nyata dan aktif dalam merealisasikan program-program organisasi.

Bangun Reputasi yang Baik Jangan Khianat
Kata Kiai Hasyim masyarakat sangat membutuhkan peran nyata para ulama dalam mewujudkan kebaikan mereka di dunia dan akhirat. Hal tersebut berlandaskan atas manhaj Salafush Shalih.

Maka wajib bagi ulama agar tidak boleh melupakan masalah penting ini yaitu kemaslahatan masyarakat umum, membimbing mereka, mengeluarkan mereka dari kegelapan kesesatan menuju cahaya petunjuk, dan menuntun mereka dari lubang kebodohan dan kemaksiatan menuju puncak ilmu dan kebajikan.

Semua itu dipikul oleh para ulama kami, karena ulama adalah pemegang amanah Allah terhadap hamba-hamba-Nya.

Para ulama kita harus bersungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin dalam merealisasikan apa yang diriwayatkan oleh imam Bukhari:

يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ! اسْتَقِيمُوا فَقَدْ سُبِقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا”

Artinya: “Wahai para pembaca (penghafal) Al-Qur’an! Bersikap istiqomahlah (tetaplah di jalan lurus), karena sesungguhnya kalian telah mendahului (manusia lain) dengan keunggulan yang sangat jauh. Namun, jika kalian belok ke kanan atau ke kiri (menyimpang), niscaya kalian tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.”

Maka, lanjut Kiai Hasyim biarkanlah mereka tetap disebut sebagai pemegang amanah Allah atas hamba-hamba-Nya, sampai tidak ada lagi orang yang mengatakan: “Jika orang-orang yang amanah telah berkhianat, lalu kepada siapa lagi manusia akan percaya?”

Kemudian lanjutnya lagi saya bertanya-tanya apakah mereka harus melakukan itu ketika mereka saling mendukung dan bahu membahu dalam naungan Jam’iyah Nahdhatul Ulama sebagaimana yang telah menjadi maklum bahwa pertolongan Allah bersama jama’ah.

Poinnya adalah hilangnya kepercayaan pada orang-orang yang kita percaya seperti para ulama adalah puncak dari rusaknya moral masyarakat. Jika moral suatu masyarakat hancur, maka hancurlah bangsa ini.

Maka, selagi masyarakat percaya pada ulama, jangan rusak dengan penghianatan. Bangun reputasi yang baik dan jangan berkhianat. Jaga amanah untuk menunaikan program keummatan.

Inilah beberapa poin dari yang disampaikan Kiai Hasyim Asy’ari dalam Majalah Berita Nahdhatoel Oelama tahun 1973 M yang penulis analisis dan perdalam dengan logika sederhana. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga