Image Slider

KH. Abuya Busyro Karim: Pesantren Rumah Persatuan dan Ilmu

Gapura, NU Online Sumenep

KH. Abuya Busyro Karim Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep menyampaikan bahwa pesantren merupakan rumah persatuan dan pusat ilmu yang telah melahirkan banyak ulama serta menjaga harmoni umat di tengah keberagaman.

Hal tersebut disampaikannya saat mengisi sambutan sebagai tuan rumah pada acara pelantikan pengurus PCNU Sumenep di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah Baraji, Gapura, Sumenep, Sabtu (16/05/2026).

Kiai Busyro Karim mengaku merindukan sosok-sosok sesepuh pesantren yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman dan tetap teguh dalam dzikir serta pikir.

“Saya rindu pesantren seperti dulu, dipimpin para sesepuh yang jiwanya besar, yang mampu bersatu dalam keberagaman,” pungkasnya.

Di hadapan para kiai, pengurus, dan warga nahdliyin, ia menegaskan bahwa pesantren memiliki nilai spiritual yang tidak dapat disamakan dengan tempat lain.

“Pesantren itu luar biasa. Baunya berbeda dengan hotel. Di sana doa para santri dan kiai tidak pernah berhenti, terus naik ke langit tanpa jeda,” ungkapnya dengan penuh haru.

Menurutnya, kegiatan-kegiatan besar ke-NU-an selayaknya dilaksanakan di lingkungan pesantren karena memiliki keberkahan.

“Oleh karena itu, acara besar seperti muktamar lebih baik digelar di pesantren,” ujarnya.

Kiai Busyro Karim juga menilai bahwa pesantren memiliki posisi yang sangat strategis dalam kehidupan bangsa. Bahkan, menurutnya, perhatian negara terhadap pesantren semestinya lebih besar.

“Pesantren bukan sekadar layak diurus oleh direktur jenderal, tetapi sudah pantas ditangani setingkat menteri,” ujarnya.

Selain menjadi pusat pendidikan agama, pesantren disebutnya sebagai rumah ilmu yang melahirkan keluasan pandangan dan kekayaan intelektual. Di pesantren, para santri mempelajari kitab-kitab ulama dari berbagai zaman dan latar belakang pemikiran.

“Santri belajar banyak pendapat ulama. Dari situ lahir wawasan yang luas dan cara pandang yang kaya,” katanya.

Namun demikian, di tengah penyampaiannya, Kiai Busyro Karim mengaku prihatin ketika pesantren mulai dijadikan kendaraan kepentingan tertentu, sehingga memunculkan perpecahan antarpesantren maupun antarkelompok.

“Ketika pesantren dijadikan kendaraan perjuangan tertentu, pesantren akhirnya tidak lagi satu arah. Yang satu berbeda dengan yang lain,” ungkapnya.

Menurut Pengasuh PP. Al-Karamiyyah Baraji ini, keberagaman yang semestinya menjadi kekuatan justru berubah menjadi sumber benturan apabila tidak dikelola dengan jiwa besar dan semangat persaudaraan.

“Pesantren sejak dahulu dibangun di atas semangat kebersamaan. Karena itu, perbedaan jangan sampai menghilangkan rasa persaudaraan antarsesama,” pungkasnya.

Suasana haru pun menyelimuti forum ketika suara beliau mulai tertahan. Air mata tampak jatuh saat mengenang pesantren di masa lalu yang penuh persatuan dan keteladanan para masyayikh.

Editor: Moh. Khoirus Shadiqin

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga