Image Slider

Disebabkan Cuaca Mendung, Hilal Dzulhijjah Tidak Terlihat di Sumenep

Menjelang penentuan Hari Raya Iduladha 1447 H, kegiatan rukyatul hilal kembali dilaksanakan oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LF PCNU) Sumenep pada Ahad sore (17/5/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar penentuan awal bulan Dzulhijjah yang setiap tahunnya menjadi perhatian umat Islam.

Dalam pelaksanaannya, LF PCNU Sumenep berkolaborasi dengan Seksi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Sumenep. Pengamatan hilal dilaksanakan di kawasan Asta Gumuk, Kalianget, yang selama ini menjadi salah satu titik observasi hilal di Kabupaten Sumenep. Titik pengamatan tersebut berada pada koordinat lintang -7°01’41.00″ dan bujur 113°53’44.00″ dengan ketinggian sekitar 3 meter di atas permukaan laut.

Sejak pukul 16.30 WIB, para peserta telah berkumpul di lokasi pengamatan. Kegiatan ini diikuti sekitar 20 peserta yang terdiri dari unsur LF PCNU Sumenep, Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, serta sejumlah penyuluh KUA. Berbagai perangkat observasi seperti teleskop dan alat bantu rukyat lainnya telah dipersiapkan untuk mendukung proses pemantauan hilal.

Acara diawali dengan laporan dari Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Sumenep, Masrur, kemudian dilanjutkan dengan arahan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Abdul Wasid. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya sinergi antara ulama dan pemerintah dalam pelaksanaan rukyatul hilal guna memberikan kepastian kepada masyarakat terkait awal bulan hijriah.

Berdasarkan hasil hisab yang telah dilakukan sebelumnya, posisi hilal pada 29 Dzulqa’dah 1447 H atau bertepatan dengan 17 Mei 2026 menunjukkan tinggi hilal mencapai 5°15’16.58″ dengan sudut elongasi 9°46’15.16″. Secara astronomis, posisi tersebut telah memenuhi kriteria Imkanur Rukyat Nahdlatul Ulama (IRNU), sehingga hilal secara teori memungkinkan untuk dapat dirukyat.

Namun demikian, saat proses observasi berlangsung mulai matahari terbenam hingga hilal terbenam, hilal tidak berhasil terlihat. Ufuk barat tertutup mendung tebal sehingga menghalangi pandangan tim perukyat terhadap keberadaan hilal.

Ketua LF PCNU Sumenep, Kiai Moh. Fathor Rois, menyampaikan bahwa tidak terlihatnya hilal bukan berarti hasil hisab keliru, melainkan lebih disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak mendukung.

“Secara hisab posisi hilal sebenarnya sudah sangat memungkinkan untuk dirukyat dan telah memenuhi kriteria imkanur rukyat NU. Akan tetapi dalam praktik rukyat, faktor cuaca tetap menjadi penentu utama. Sore ini ufuk barat tertutup mendung cukup tebal sehingga hilal tidak berhasil teramati,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa rukyatul hilal bukan hanya kegiatan astronomi, tetapi juga bagian dari syiar dan tradisi ilmiah yang terus dijaga oleh Nahdlatul Ulama.

“Kegiatan rukyat ini merupakan bentuk ikhtiar ilmiah sekaligus pelaksanaan sunnah yang diwariskan para ulama. Karena itu, meskipun hilal tidak terlihat, proses observasi tetap penting dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab keilmuan dan pengabdian kepada umat,” tambahnya.

Hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Dzulhijjah yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga