Image Slider

Ijazah Tersembunyi KH Hasyim Asy’ari untuk Jam’iyah dan Jama’ah NU

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Ijazah ini terungkap dari penjelasan KH M Zainurrahman Hammam Wakil Rais Syuriyah PCNU Sumenep saat acara Bahtsul Masail di Pulau Giliraja, Ahad (10/05/2026).

Ijazah ini tertulis dalam Qanun Asasi yang ditulis oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Dikatakan tersembunyi karena ayat yang disebutkan seolah tidak nyambung atau berdiri sendiri di antara beberapa ayat yang disebutkan di atasnya.

Sebelum ayat yang disebut tersembunyi ini, ayat sebelumnya disebutkan secara konsisten dan sistematis berbicara masalah fikrah dan harakah NU.

Nah, ketika ayat ini dimaknai sebagai ijazah yang diberikan Kiai Hasyim Asy’ari baru nyambung sebagai bagian terpenting dalam perjuangan NU yang tidak hanya dalam ranah konseptual, kontekstual dan operasional tapi juga spritual.

Tidak hanya bersifat teoritis dan praktis, tapi juga spiritualis. Integrasi ketiganya menjadi kekuatan NU dari dulu, sekarang dan masa depan.

Berikut ijazah yang diberikan Hadratussyeikh tersebut:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا

Artinya: “Katakanlah, Segala puji bagi Allah yang tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong (yang melindungi-Nya) dari kehinaan! Agungkanlah Dia setinggi-tingginya!.” (QS. Al-Isra’: 111).

Ayat yang ditulis Kiai Hasyim Asy’ari ini dimaknai sebagai ijazah karena dari beberapa mufassir termasuk Ibnu Katsir yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menamai ayat ini dengan ayat Al-Izz’ آيةالعز (ayat kemuliaan).

Imam As-Shawi menjelaskan maksud dari dinamai dengan ayat Al-‘Izz (ayat kemuliaan) adalah ayat yang apabila dibaca dengan penuh keimanan akan mendatangkan kemuliaan dan ketinggian derajat bagi pembacanya.

Cara Mengamalkannya
Ada sebuah riwayat dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada keluarganya tentang ayat ini.

Beliau mengajarkannya kepada anggota keluarganya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.

Kata Ibnu Katsir dalam sebagian atsar disebutkan bahwa ayat ini apabila dibaca di suatu rumah pada malam hari, maka rumah itu tidak akan ditimpa pencurian ataupun musibah. Wallahu A’lam. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim Juz V, Riyadh. Darun Thayyibah linnsyr wat-Tauzi’ hlm.131).

Jika Rasulullah SAW mengajarkan ayat ini kepada keluarganya, maka menjadi legitimate kiranya ketika Kiai Hasyim Asy’ari meneruskan warisan tersebut sebagai ijazah kepada jam’iyah dan jama’ah NU.

Imam As-Shawi menyebutkan dalam beberapa amalan bahwa ayat tersebut dibaca sebanyak 351 kali setiap hari, dengan diawali bacaan:

تَوَكَّلْتُ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوْت

Kemudian dilanjutkan dengan membaca:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا

Artinya: “Aku bertawakal kepada Allah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Katakanlah, Segala puji bagi Allah yang tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong (yang melindungi-Nya) dari kehinaan! Agungkanlah Dia setinggi-tingginya!.” (Hasyiyah As-Shawi ‘Ala Tafsir Al-Jalalain Juz II. Beirut Daar Al-Jeel hlm. 347).

Orang yang mengamalkan ini akan mendapat kemuliaan dan ketinggian derajat. Jika konteksnya adalah Jam’iyah dan Jama’ah NU, maka akan menambah kewibawaan dan kharisma pembacanya.

Ayat di atas bukan hanya mengandung ajaran tauhid yang sangat kuat, tetapi juga menyimpan pesan spiritual yang relevan bagi kehidupan dan perjalanan NU.

Ayat tersebut juga mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari manusia, melainkan dari Allah SWT. Sekaligus mengandung filosofi yang sangat mendalam.

Banyak manusia menggantungkan harapannya kepada makhluk baik untuk mendapatkan jabatan, kekayaan, kekuasaan, bahkan jodoh. Padahal ia tidak dapat mengubah apapun karena tidak punya kuasa untuk itu.

Sementara Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Dia adalah tempat bergantung segala sesuatu. Manusia hanya wajib berusaha dan tidak dapat menentukan hasilnya.

Oleh karena itu, tawakal bukanlah sikap pasif, tapi energi spiritual yang membuat seseorang tetap kuat menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Dalam konteks ini, ijazah dalam surah Al-Isra’ ayat 111 tersebut yang diawali dengan توكلت على الحي الذي لا يموت menjadi salah satu instrumen perjuangan, ikhtiar bathin serta pengikat antara jam’iyah dan jama’ah.

Organisasi boleh berkembang dengan berbagai program modern, tetapi ruh spiritualnya tetap dipelihara melalui amalan-amalan yang menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Editor: Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga