Tulisan ini pada mulanya adalah tema diskusi yang penulis ajukan untuk Forum Mahasiswa Ushuluddin Lubangsa (Formula). Pada diskusi itu, penulis mengutarakannya secara singkat. Tulisan kali ini hendak menjabarkannya lebih luas.
Nun jauh di Prancis, Jacques Derrida, sang filsuf besar postmodernis, mengumandangkan pernyataan singkat, namun bermakna padat, “Jene Sais Pas. Il paut croire“: Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya beriman. Pernyataan ini ia tujukan pada dahsyatnya samudera kebenaran. Kebenaran baginya terlalu luas untuk direnangi, terlalu dalam untuk diselami, terlalu tinggi untuk didaki, terlalu luas untuk dilalui, terlalu panjang untuk dijalani dan terlalu-terlalu lainnya yang sukar dijamah oleh nalar dan imajinasi. Oleh sebab pesatnya “terlalu” pada kebenaran, Derrida lantas insaf, tunduk dan mengakui betapa kebenaran takkan ia jumpai. Yang tersisa dalam dirinya hanyalah keyakinan atau keimanan bahwa kebenaran itu memang ada. Akan tetapi, manusia tak ubahnya sebutir debu dalam keluasannya.
Pengantar ini hendak penulis jadikan sebagai batu loncatan menuju ke-takterhingga-an Tuhan. Jika kebenaran pada ranah ciptaan saja membuat Derrida takluk tak berkutik akan ke-terlalu-annya, maka apalagi dengan ke-terlalu-an Tuhan. Tuhan melampaui segalanya, bahkan kata “Tuhan” tidak mampu menampung siapa Dia yang sebenarnya. Itu karena kata “Tuhan” adalah konsepsi manusia, sedangkan manusia dengan segenap yang ada padanya adalah terbatas. Sebaliknya, Tuhan Maha Tak Terbatas. Akan tetapi, ini bukan berarti mengetahui Tuhan adalah kemustahilan. Dalam hal ini, penulis akan mengutip dua sifat kontradiktoris Tuhan ala Ibnu ‘Arabi. Dua sifat ini adalah gerbang yang bakal mempertemukan Tauhid Akhlaqi dan Tauhid Falsafi; dua aliran tasawuf sekaligus tauhid yang selama ini dianggap bertentangan.
Ibnu ‘Arabi membagi sifat Tuhan – dari segi hubungannya dengan makhluk – kepada dua. Pertama, tasybih yaitu sifat kesamaan antara Tuhan dan ciptaan, seperti kasih sayang, melihat, mendengar dan lain sebagainya. Melalui sifat ini, ciptaan, terutama manusia mampu mengetahui dan mengenal Tuhan. Berdasarkan sifat ini, ulama Aswaja merumuskan tauhid yang selama ini menjadi landasan ortodoks bagi umat Islam. Tauhid ini adalah apa selama ini kita kenal dengan 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil dan 1 sifat ja’iz bagi Allah SWT.
Kedua, tasbih yaitu sifat yang khas dimiliki oleh Tuhan. Pada tataran sederhana, sifat ini bisa berupa sombong (al-mutakabbir). Pasalnya, sombong adalah sifat preriogatif bagi-Nya dan tak ada satu pun yang berhak merampasnya. Sementara itu, pada tataran yang lebih rumit, tasbih sejatinya mencakup segala sifat-Nya. Gampangnya, Allah itu Maha Pengasih, sedangkan manusia juga punya kasih. Berpatokan pada sifat tasbih}, kasih Tuhan itu tak terhingga dan tak bisa dijangkau oleh nalar, imajinasi dan hati manusia. Artinya, totalitas pemahaman atas sifat itu, entah pemahaman pikiran atau pemahaman perasaan takkan mungkin bisa diraih oleh manusia dan segala ciptaan. Demikian pula dengan 20 sifat yang wajib bagi Tuhan, seperti wujud; ada. Adanya Allah terlalu luas untuk dipikirkan, diangankan dan dirasakan. Inilah yang dimaksud sifat tasbih, yakni sisi di mana Tuhan Maha Tak Terjangkau. Dia adalah sebagaimana Dia yang sebenarnya dan tak ada satu pun makhluk mampu menjangkau keparipurnaan tentang-Nya.
Melalui sifat tasbih ini, para sufi falsafi, seperti Dzunnun al-Mishri, Abu Yazid al-Bustami, al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, Syekh Siti Jenar dan Hamzah Fansuri mencoba menyelami siapa itu Tuhan. Lantas apa yang mereka dapatkan? Mereka mendapatkan ketiadaan. Ketiadaan dalam arti Allah itu tak bisa lagi dicerna oleh pikiran dan perasaan. Dalam tasawuf, ini disebut fana’. Pada keadaan ini, mereka sebenarnya mengingkari Tuhan. Itu mereka lakukan sebagai keimanan kepada-Nya.
Ini bisa kita perjelas dengan contoh sederhana. Kita menganggap batu itu ada, karena batu pernah terlintas dalam pikiran kita, entah melalui penglihatan, pendengaran atau indera lainnya. Seandainya satu pun indera kita tidak pernah berjumpa dengan batu, kita tentu takkan pernah berpikir tentang batu dan takkan pernah menganggap batu itu ada. Demikian juga dengan pengembara sifat tasbih Tuhan. Ketika mereka memasuki sifat ini, mereka sampai pada keadaan di mana segala pemahamannya entah berdasarkan pikiran atau berdasarkan perasaan tentang Tuhan tidak lagi memadai dalam mengenal siapa Dia yang sebenarnya. Dalam keadaan itu, mereka membuang segala pemahaman tadi, lantaran tidak memadai. Ketika sudah dibuang, mereka berada dalam keadaan seperti pada kasus batu. Mereka seakan tidak pernah memikirkan dan tidak pernah merasakan Tuhan. Akibatnya, Tuhan absen dari diri mereka. Absen di sini bukan berarti mereka kafir. Akan tetapi, mereka tenggelam dalam keadaan di mana segala kemampuannya tidak mampu menggambarkan Tuhan, sehingga Tuhan tidak tertampung dalam diri. Karena tidak tertampung, maka Tuhan itu tidak ada. Tidak ada dalam pemahaman pikiran dan perasaan mereka. Ketika sudah tidak ada dalam pikiran dan perasaan, maka otomatis mereka menganggap-Nya tidak ada. Tidak ada bukan berarti kenyataannya Tuhan tidak ada, melainkan anggapan kita saja bahwa Dia tidak ada. Pada gilirannya, Tuhan adalah sebagaimana ada-Nya. Di sinilah, segala tentang Tuhan musnah, karena Tuhan jauh melampaui “tentang” dan “tentang”. Tuhan bukan lagi menurut si A, si B, si C dan siapa pun itu. Tak ayal, tatkala mereka mau melukiskan Tuhan berdasarkan sifat tasbih-Nya, pernyataan mereka penuh kiasan dan sangat rumit. Pasalnya, mereka mau melukiskan keberadaan yang tak lagi dijangkau pikiran dan perasaan. Tauhid Aswaja sejatinya telah memberi sinyal tentang hal ini, seperti yang disinggung sebelumnya bahwa Tuhan itu ada, tapi ada-Nya tak bisa kita pikirkan dan kita rasakan, lantaran terlalu Maha Dimaha. Inilah yang penulis maksud sebagai mengingkari Tuhan dalam rangka beriman. Wallahu A’lam.
*) Alumnus PP Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep

