Image Slider

Profesi Guru dan Pergeseran Nilai

Oleh: Lukmanul Hakim*

Ibarat serdadu, guru di medan pendidikan mengemban misi memerdekakan generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berada di garda terdepan dalam menciptakan generasi-generasi muda yang cerdas, pintar, terampil, tangguh, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, berwawasan luas, memiliki basis spiritual yang kuat, dan beretos kerja andal, sehingga kelak mampu menghadapi kerasnya tantangan peradaban. Mengemban misi tersebut, jelas bukan tugas yang mudah dan ringan. Ia harus memiliki bekal integritas kepribadian yang tinggi dan keterampilan mengajar dapat diandalkan, sehingga mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif, sehat, dan menyenangkan. Hanya dengan bekal ideal tersebut, guruh akan tampil sebagai figur yang benar-benar mumpuni, wibawa, disegani, serta digugu nan ditiru.

Sementara itu, jika kita melihat fakta-fakta di lapangan, banyak kalangan yang mulai meragukan kapabilitas dan kredibilitas guru. Perannya sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misinya sebagai pencetak generasi yang unggul, terampil, dan bermoral belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar kita justru semakin menjauh dari kondisi ideal seperti yang diharapkan dan yang paling parahnya lagi para pelajar itu dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, terbius dalam atmosfer zaman yang serba gemerlap, tersihir oleh kehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, serta terjebak ke dalam sikap hidup yang serba instan. Tawuran antar pelajar merajalela, pesta “pil setan” menyeruak, dan pergaulan bebas semakin mencuat ke permukaan.

Zaman memang sudah berubah. Modernisasi yang melanda berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dinilai memiliki imbas yang cukup kuat dalam mempengaruhi sikap dan pola hidup masyarakat. Pergeseran nilai menyergap di segenap lini dan sektor kehidupan. Nilai kesalihan, baik pribadi maupun sosial, mulai dikebiri dan dimarginalkan. Nilai-nilai lama yang semula dipegang kukuh kini mulai memudar. Akibatnya, anak-anak (generasi) Indonesia saat ini telah mengalami alienasi kultural, karena mereka sudah tidak bisa mengenal lagi budayanya sendiri.

Pergeseran nilai yang melanda masyarakat milenial agaknya juga membawa dampak terjadinya penilaian masyarakat terhadap dunia pendidikan. Urusan pendidikan anak-anak hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan (sekolah atau madrasah), sehingga jika ada pelajar yang terlibat dalam perilaku amoral—misalnya—, masyarakat dengan entengnya menuding guru sebagai biang keladinya, lantaran dianggap telah gagal dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik.

Seiring dengan itu, posisi sosial guru dalam strata masyarakat pun tampaknya juga mulai bergeser. Guru tidak lagi memiliki legitimasi sosial yang terhormat dan bermartabat. Guru tidak lagi dijadikan sebagai sumber informasi, bahkan dalam banyak hal, guru tidak lagi dijadikan patron teladan. Peran guru di masyarakat sebagai sumber informasi telah digantikan oleh “anak buah” teknologi yang lebih canggih lewat media sosial, internet, dan televisi. Makna luhur yang tersirat di balik hymne guru, “pahlawan tanpa tanda jasa” pun telah berubah menjadi sebuah elegi getir yang sarat parodi dan sindiran.

Sosok guru yang bermartabat dan terhormat pernah muncul ketika institusi pendidikan kita masih berbentuk pertapaan dan padepokan yang begitu bersahaja. Konon, guru atau resi pada masa itu benar-benar menjadi figur panutan, pinunjul, mumpuni, berwibawa, dan disegani. Apa yang dikatakan sang resi merupakan “sabda” yang tak terbantahkan. Institusi pertapaan tak ubahnya “kawah candradimuka”, tempat seorang resi menggembleng para siswa (cantrik) agar kelak menjadi sosok yang arif, tangguh, kaya ilmu, memiliki kepekaan moral, dan sosial yang tinggi. Di mata masyarakat, kehadiran sang resi pun begitu tinggi citranya; bermartabat, terhormat, dan memiliki legitimasi sosial yang mengagumkan. Masyarakat benar-benar respek kepadanya. Apresiasi masyarakat terhadap profesi resi atau guru sangat kental, sehingga tidak jarang sang resi menjadi sumber figur informasi masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul.

Apakah guru masa kini masih mampu menginternalisasikan sifat-sifat seorang resi dalam mengemban misinya sebagai pengajar dan pendidik? Masihkah masyarakat memiliki apresiasi yang tinggi dan memadai terhadap profesi guru? Mampukah lembaga pendidikan (sekolah atau madrasah) dengan fasilitasnya yang lebih komplit dan modern mencetak manusia-manusia unggul dan maju?

Oleh karena itu, melihat beratnya misi dan berbagai persoalan yang mesti dipikul oleh guru masa kini jelas memerlukan perhatian serius dari berbagai kalangan untuk memosisikan guru pada arasy yang lebih proporsional dan manusiawi. Reaktualisasi peran dan gerakan penyadaran dari semua pihak sangat diharapkan untuk memulihkan citra guru. Guru harus lebih meningkatkan profesionalismenya, sehingga tidak “gagap” ketika mengemban misinya sebagai penyemai intelektual, pemupuk nilai kemanusiaan, dan penyubur nilai moral kepada peserta didik. Tentu saja, misi luhur guru ini harus diimbangi dengan intensifnya pendidikan keluarga di rumah. Orang tua juga harus mampu mengembalikan fungsi keluarga sebagai basis penanaman dan pengakaran nilai moral, budaya, dan agama kepada anak. Sehingga, pada babak selanjutnya meraka mampu mengontrol perilakunya sesuai dengan ajaran-ajaran luhur. Wallahu A’lam. (*)

*) Mahasiswa Semester VIII-B Prodi PAI Instika Guluk-Guluk Sekaligus Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Periode 2020-2021 M.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga