Image Slider

Kejayaan Intelektual dan Kematian Spiritual

Oleh: Lukmanul Hakim*

Bangsa kita saat ini memang tengah mengalami pergulatan melawan cengkeraman krisis moneter yang berkepanjangan. Akibat krisis moneter, banyak orang miskin, kelaparan, dan bahkan dihinggapi penyakit pengangguran. Namun, krisis lain yang jauh lebih fatal akibatnya ialah krisis spiritual yang bukan hanya melanda orang-orang miskin, tetapi juga orang-orang kaya dan bahkan kalangan pejabat pemerintah yang tengah menjalankan laju pemerintahan bangsa ini. Akibat-akibat krisis spiritual itu terasa sekali pada segala dimensi kehidupan negeri ini, dari eskalasi politik yang serba sikut sana-sini, percaturan ekonomi yang sarat korupsi, penegakan hukum yang selalu pandang bulu, pergunjingan budaya yang kental dengan perilaku kekerasan dan kejahatan, serta diskusi tentang wacana sosial yang semakin jauh dari norma kesantunan dan keadaban. Demikanlah krisis spiritual yang telah mengoyak-ngoyak bukan hanya aspek ekonomi, namun semua sendi yang menjadi pilar-pilar kejayaan negeri ini. Para pejabat pemerintah mulai dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif bukannya tidak pintar dalam mengatur laju perkembangan ekonomi, akan tetapi mereka telah diperbudak oleh setan dengan memberanikan diri untuk melakukan korupsi. Korupsi yang dilakukan mereka dengan berjama’ah telah merugikan negara triliunan rupiah. Akibatnya banyak rakyat kelaparan dan nasib mereka kian tergadaikan. Ini menandakan bahwa saat ini negara kita telah terjangkit wabah penyakit kronis kejayaan intelektual dan kematian spiritual.

Di kalangan remaja, krisis spiritual terlihat sangat transparan pada setiap tindak-tanduk mereka, baik yang bertalian dengan dimensi pribadinya atau pun dimensi sosialnya. Kasus-kasus kekerasan dan kejahatan yang melibatkan kaum remaja telah menunjukkan grafik yang sangat mengerikan. Jika kita menyempatkan diri menyimak acara-acara televesi atau bahkan berita di koran-koran yang berisi reportase kriminalitas, maka kita setiap saat akan disuguhi fakta betapa maraknya peredaran dan pengkonsumsian narkoba yang notabene para remaja sehingga mereka tidak akan menikmati nilai kebaikan apa pun kecuali malah menghancurkan mentalitas dan kreativitas mereka. Seolah-olah narkoba telah menjadi gaya hidup (life trend) kaum remaja saat ini. Mereka yang terlibat narkoba mayoritas adalah anak muda. Belum lagi kasus-kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, pencurian, perampokan, dan bahkan penipuan. Disitu selalu saja ada keterlibatan anak muda. Menurut hemat penulis, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi krisis spiritual di kalangan remaja saat ini yang sering terjadi.

Pertama, penanaman pendidikan agama yang tidak lagi menjadi perhatian utama dari orang tua, termasuk para pendidik dan tenaga kependidikan hingga pemerintahan. Di sekolah-sekolah umum, mata pelajaran agama hanya diberikan 2 jam dalam seminggu, atau 8 jam dalam sebulan. Kita bisa bertanya, apa yang bisa mereka tangkap tentang agama dalam rentang waktu yang sangat minimal tersebut? Jelaslah mereka tidak akan mengantongi pemahaman yang baik tentang ajaran-ajaran agama.

Kedua, pudarnya kontrol dan pendampingan pihak orang tua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Utamanya di kalangan perkotaan yang mana para orang tua terlalu sibuk dengan segala pernak-pernik pekerjaan, bisnisnya, dan sekian juta kegiatan yang sangat menyita waktu dan konsentrasinya pada pertumbuhan mentalitas anak-anaknya. Mereka lalu memilih pembantu, sekolah, pondok pesantren, dan fasilitas-fasilitas sebabagai “pengganti orang tua.” Padahal, baik pembantu, sekolah, pondok pesantren, dan fasilitas-fasilitas semewah apa pun sama sekali tidak bisa menggantikan dimensi “kasih sayang” orang tua. Sama sekali tidak! Akibatnya, anak-anak muda yang diperlakukan demikian merasa kehilangan perhatian dan kontrol dari orang tua sehingga mereka berusaha menemukan “penggantinya” di luar rumah, misalnya pergaulan, klub motor, diskotik, mall, pecinta alam, clubbing, bilyard, narkoba hingga dunia gemerlap (dugem).

Ketiga, ditopang oleh pertumbuhan fisiologis dan biologisnya anak-anak muda yang kemudian mencari “pasangan” yang bukan hanya dapat memberinya perhatian dan kasih sayang, namun juga penyaluran hasrat-hasrat seksualnya. Semua itu bermula dari gersangnya semesta spiritual dari kedalaman batin kaum remaja. Mereka pada gilirannya turut mengidap penyakit jiwa “anomie”, yakni suatu kondisi hidup yang merasa kehilangan ikatan-ikatan kemanusiaannya sehingga lahir kegilisahan jiwa, disorientasi, ambivalensi dan frustasi yang sangat parah. Penyalurannya bisa bermacam-macam, mulai dari menganut gaya hidup bebas, narkoba, hingga tidak jarang juga adalah bunuh diri.

Sekedar sebuah perbandingan, krisis spiritual ini secara esensial dipicu dan dipacu oleh derasnya gelombang modernitas yang hanya mengusung nilai-nilai materialisme (entah itu yang berwujud ilmu pengetahuan atau teknologi) dalam kehidupan manusia. Akibatnya, eksistensi manusia yang jelas memiliki dua unsur yaitu intelektual dan spiritual menjadi timpang. Sains dan teknologi begitu melonjak sedangkan dimensi spiritual jiwa manusia sangat kering kerontangan. Itulah awal mula lahirnya virus anomie tersebut. Wallahu A’lam.

*) Mahasiswa Semester VIII Prodi PAI Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga