Ketegangan Ora
Ini pulau tak lagi aman, Kekasih
Sebagaimana asap perbincangan yang
Kita hirup belakangan ini. Suara berat
Dihidangkan, menabuh gendang telinga
Dengan kasar. Jari-jari angin yang terulur
Dari laut menyaru ratusan lidah maut
Kita kehilangan hasrat untuk melanjutkan
Percintaan. Bahkan untuk sekadar
Bercengkerama serasa tiada hari yang
Merestui. Udara dipenuhi serbuk rahasia
Dunia kian berisik dan bau besi
Ke mana mesti berlindung, Kekasih?
Monster sudah tiba. Jerit tidak didengar
Jerat akan segera digelar. Satu-persatu
Anak kita bakal jadi tumbal. Sementara
Kita cuma bisa menelan batu penantian
Jakarta, 2020
Obituari Lombang
Kau belum bosan menunggu kawanan
Sampan yang dibawa pergi bala’ taon asing itu
Kau masih ingin melihat mereka menjadi
Pengantin malam, berhias untaian doa moyang
Berzikir sepanjang pantai keselamatan
Tak lama datanglah kiriman untuk
Memperpanjang remai waktu. Arus pesing
Melubangi ketenteraman pasir, menaklukkan
Biru wajahmu, biru kenangan; bocah-bocah
Ringkih terangkat ke permukaan, terapung-
Apung bagai masa depan yang sia-sia didamba
Jakarta, 2020
Tafakur Bukit Kapur
Maka aku pergi dari bentukku
Semula, memanja kehendak
Benak manusia
Detik ke detik kulit dikelupas
Lempeng-lempeng runtuh
Membungkam rintih
Mereka ambil daging-daging
Pilihan. Dipotong sama rata
Disusun menimang harga
Jadilah sisa tubuh ini dinding-
Dinding batu berukir ricik air
Laksana bangunan kota salju
Bocah-bocah berdatangan
“Alangkah indah!” Lalu menyalin
Bimbangku ke album ponselnya
Sedang bagian tubuh yang lain
Entah di mana mencoba bangkit
Melindungi kesepiannya sendiri
Sumenep, 2021
Kasur Pasir
Bermula dari tuntunan semesta
Kaki-kaki yang menyemai tapak
Hitam saban waktu menuju laut
Meniti peta samar atas kemelut
Kaki-kaki lain datang menunggu
Menimbang jarak tempur perahu
Sebagian menjemur buah harap
Biar sekaku kulit dililit terik hayat
Kemudian menyalalah keinginan
Pasir jadi sekotak kasih di kamar
Mengasuh dan mengasah mimpi
Sampai berbunga bertandan duri
Alam terbuka dalam kedalaman
Mata penghuni kampung pesisir
Kampung yang melanggengkan
Wangi peluhnya di denting piring
Butir-butir pasir menyerap dingin
Semisal cahaya melerai air mata
Udara panas pun lenyap disesap
Umpama api tertimpa ruah cinta
Yogyakarta, 2021
Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Kini tinggal dan bekerja di Warung Puitika, Yogyakarta. Buku puisinya, Kampung Kekasih (2019).

