Oleh: Mirok (Nama Lapang)
Jika pernah menonton film layar lebar yang berjudul Gie produksi Miles Films, ternyata film yang disutradarai Riri Riza itu terinspirasi dari catatan harian Soe Hok Gie yang fenomenal, yakni Catatan Seorang Demonstran. Buku yang ditemukan itu mengisahkan kembali sisi kehidupan seorang demonstran dan aktivis lingkungan hidup pada tahun 1970-an.
Dalam film tersebut Soe Hok Gie keturunan Tionghoa yang lahir pada tanggal 17 Desember 1942. Masa kecilnya, Gie memasuki sekolah di Sin Hwa School, Kanisius, hingga ia melanjutkan ke Universitas Indonesia, tepatnyan di Fakultas Sastra.
Kebiasaan kecilnya adalah suka mengunjungi perpustakaan umum dan taman bacaan pinggir jalan bersama kakaknya Soe Hok Djin. Jadi, Gie lahir dari keluarga penulis sehingga ia dekat dengan dunia sastra. Dalam penelitian menyebutkan, saat sekolah dasar, Gie gemar membaca karya-karya sastra kelas berat, seperti karya Pramoedya Anata Toer.
Film yang dibintangi Nicholas Saputra dan Wulan Guritno itu menjelaskan bahwa kesadaran Gie pada dunia sastra dan sejarah membawanya pada pendalaman ilmu politik. Dari catatannya menggambarkan, Gie sosok aktivis dan penulis kritik sosial yang tajam, terutama dalam surat kabar. Kritikannya penuh dengan idealisme, kaya dengan gagasan orinsinal, dan memiliki gairah hidup.
Gie merupakan aktivis di era pemerintahan Soekarno yang sangat peduli pada nasib bangsa, sehingga ia rela menghabiskan masa mudanya hanya untuk demo, baik melalui tulisan sampai terjun ke lapangan. Wajar dalam film itu dilengkapi ulasan-ulasan dari beberapa surat kabar yang terkemuka di masanya.
Pendiri Mapala
Satu-satunya anak muda yang bergelut dalam dunia buku itu berhasil mendirikan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI. Salah satu kegiatan unggulannya adalah naik gunung demi bertadabur alam atau merenungkan beberapa problem kebangsaan yang tak kunjung selesai.
Pada tanggal 8 Desember 1969 ia menaklukkan Puncak Mahameru dengan berbekal buku terbitan Belanda tahun 1930 tentang panduan naik Semeru. Pada pendakian kali ini sangat istimewa, lantaran Gie akan merayakan ulang tahunya ke 27. Inilah alasan Gie dan tim menggunakan jalur lain.
Sebagaimana dikutip dari kompas.com (22/9/2019), Gie bersama temannya, Aristides Katoppo, Herman Onesimus Lantang, Abdurrachman, Anton Wijana, Rudy Badil, dan dua anak didik Herman Idhan Dhanvantari Lubis serta Freddy Lodewijk Lasut, Hok Gie berangkat dari Stasiun Gambir pukul 07.00 ke Stasiun Gubeng Surabaya.
Sebelum berangkat ke Semeru, Gie sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Begitulah catatannya yang tertera dalam www.merdeka.com
Pada tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Gie meninggal di Gunung Semeru bersama rekannya Idhan Dhanvantari Lubis akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut.
Jika kita melakukan pendakian ke Semeru, setiap pendaki akan menjumpai plakat in memoriam sebagai bukti bahwa Gie sebagai sang pelopor Pecinta Alam Indonesia yang wafat di tempat itu. Plakat tersebut persis ditempatkan di lokasi gerbang masuk para pendaki dari lereng bawah menuju area Puncak Mahameru 3.676 mdpl, pada di titik koordinat S 08°06’26.8” E 112°55’17.7”.
Dengan demikian, sutradara film Gie sangat mengagumi tokoh tersebut. Ia memperhatikan sejarah dan literatur sejak Gie berusia 14 tahun dan hingga Gie wafat di Gunung Semeru. Sebab sejak lahir Gie memperhatikan dunia sosial bahkan pada batu nisan sang aktivis lingkungan tersebut tertetra sebuah tulisan “No body knows the troubles I see. No body know my sorro.”
*) Perintis UKM Mastapala IAIN Madura

