Image Slider

Mahsiswa Instika Guluk-Guluk, Bedah Film Korea To My Star

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Drama Korea ‘To My Star’ yang disutradarai oleh Hwang De Seul menjadi pro-kontra di kalangan pelajar. Sebab Kang Seo Joon dan Han Ji Woo selaku bintangnya mampu berakting di luar karakternya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Tasawuf dan Psikoterapi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, membedah film itu dalam sudut pandang Tasawuf dan Psikologi. Acara yang dipusatkan di aula Asy-Syarqawi, hanya diikuti oleh kalangan mahasiswi, terutama mahasiswi Fakultas Ushuluddin, Kamis (29/7/2021).

Menurut pembedah, Kiai Zamzami Sabiq Hamid mengatakan, film ini mengisahkan gangguan kejiwaan berupa penyimpangan orientasi seksual yang dialami oleh dua tokoh utama dalam film itu, yaitu seorang aktor dan chef yang terlibat hubungan sesama jenis atau hubungan asmara dua orang pria muda.

“Fenomena menyukai sesama jenis memang ada di sekitar kita dan perlu kita waspadai, tetapi kita tak harus menjauhinya, apalagi memusuhinya. Semestinya kita selaku kaum terpelajar berusaha membimbingnya untuk kembali pada kondisi normal,” ujarnya sebagaimana dilansir oleh NU Online Jatim.

Secara psikologis, menyukai sesama jenis merupakan masalah kejiwaan sesuai dengan Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ). Kemudian ia menjelaskan faktor khusus yang mengakibatkan seseorang bisa menjadi memiliki kelainan seksual.

Tak sampai di situ, secara teoritis, tahapan perkembangan identitas seseorang bisa menjadi penyuka sesama jenis karena identity confusion, merasa bingung dengan identitas dirinya terutama orientasi seksualnya. Bisa pula karena identity comparasin, mulai membandingkan dengan orang lain. Bahkan identity tolerance, mulai merasa yakin akan pilihannya menyukai sesama jenis.

“Semakin memuncak, maka dikatakan identity acceptance, mulai menganggap wajar. Selanjutnya, identity pride atau mulai muncul kebanggaan diri. Dan identity synthesis, situasi final atau merasa nyaman dan sulit berubah,” ungkap Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto itu pada audien.

Kiai muda yang menjabat sebagai Sekretaris Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Sumenep mengapresiasi kegiatan ini. Sebab sangat baik dilakukan untuk lebih memahami fenomena sosial yang ada di masyarakat. Sehingga mahasiswi dan santriwati bisa tahu dan bisa menjadi agen perubahan sosial ke arah yang lebih baik.

“Ingat, perilaku tersebut tidak sesuai dan menyalahi kodrat manusia atau perbuatan yang menyimpang, alias tidak normal,” pungkasnya.

Pewarta: Firdausi
Editor: A Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga