Image Slider

Sang Syahid KH Abdullah Sajjad dalam Kesaksian Seorang Santri (Bagian 1)

Oleh: K Ahmad Fauzan Rofiq

Berkah Temu Alumni
Sekitar tahun 2003 Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep mengadakan Temu Alumni untuk pertama kalinya. Salah satu hal penting yang dipersiapkan guna mensukseskan gawe tersebut adalah penerbitan buku “Jejak Masyayikh Annuqayah”.

Maka, dibentuklah tim khusus yang bertugas untuk menelusuri sejarah Masyayikh Annuqayah dari para saksi yang masih hidup. Tim lalu bergerak ke beberapa daerah, seperti Karduluk, Kemisan, Kalabaan, dan sebagainya.

Saya adalah bagian dari tim khusus tersebut yang kebetulan bertugas untuk menelusuri kehidupan dan perjuangan Kiai Haji Abdullah Sajjad. Saya pun meluncur ke daerah Guluk Manjung, Kapedi. Di sana ada seorang saksi hidup yang bernama H. Abdurrahman. Masyarakat setempat biasa menyebutnya “Kyae Rahman”.

Kyae Rahman
Perawakannya agak tinggi, kulit kuning, kurus dan sedikit bungkuk karena dimakan usia, namun masih terlihat sehat dan lincah. Wajahnya cerah, tenang, dan bibirnya selalu basah, yang menyiratkan bahwa beliau seorang ahli ibadah.

Menurut pengakuannya, beliau saat itu berumur 113 tahun. Saat itu beliau tinggal bersama salah satu putrinya dari salah satu istrinya. “Lebih dari 10 perempuan yang pernah saya nikahi,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi masyarakat sekitar, Kyae Rahman tak lebih dari lelaki tua yang sudah uzur. Hal itu wajar karena beliau lebih banyak menghabiskan waktu gagahnya di luar Madura, sehingga banyak yang tidak mengenalnya secara mendalam.

Selepas Agresi Militer Belanda tahun 1947, beliau berpetualang ke Jawa dan Kalimantan. Di mana bumi dipijak, di situlah beliau membangun masjid. Termasuk, di mana bumi dipijak, di situlah dia punya istri baru (Hmmm…mungkin ini yang bisa membuatnya panjang umur). Jadi wajar jika dia kemudian meninggalkan banyak masjid dan istri di daerah rantauan.

Masyarakat sekitar juga tidak banyak tahu bahwa menjelang kejatuhan Soeharto, tahun 1998, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkunjung ke Kyae Rahman ini. Hal ini dibenarkan oleh putrinya yang juga sudah lanjut usia. Tak mungkin keduanya bersepakat untuk berbohong.

Ketika diajak berbicara, beliau bersemangat sekali apalagi yang berkenaan dengan Annuqayah di masa lalu. Ingatan dan gelora perjuangannya seakan muncul kembali.

Belanda Memasuki Annuqayah
“Ketika saya ngaji ke Kiai Ilyas, putra-putri beliau masih kecil-kecil kecuali Kiai Khazin, saya masih ingat dulu saya sering menggendong Kiai Warits,” Kyae Rahman memulai ceritanya. “Kiai Khazin itu bagi saya adalah pendekar yang pemberani, malah terkadang nekad. Di antara aksi nekadnya adalah, jika menunggang kuda, beliau tidak menghadap ke depan, tapi ke belakang sambil mengendalikan kuda. Dan beliau tidak pernah pelan kalau menunggang kuda,” tuturnya.

Saat Belanda datang pada tahun 1947, ada instruksi dari KH Abdullah Sajjad selaku pimpinan Laskar Sabil, bahwa Pesantren Annuqayah harus dikosongkan karena Belanda berhasil mematahkan pertahanan Sabil di Pakong dan sudah bergerak menuju Guluk-Guluk. Menurut Kyae Rahman, Kiai Ilyas tidak serta merta mengosongkan pesantren. Bahkan beliau berkata, “Saya tetap di sini saja bersama santri.”

Benar saja, Belanda datang dan langsung melakukan penyisiran. Mereka menggeledah dan mengobrak-abrik semua tempat, tapi yang dicari tidak ditemukan. Setelah puas mengobrak-abrik Pesantren Annuqayah, salah seorang pimpinan Belanda memberi aba-aba bahwa pesantren kosong, dan mereka pun meninggalkan Annuqayah dengan tangan hampa.

“Aneh..,” kata Kyae Rahman, “Padahal waktu penggeledahan itu Kiai Ilyas sedang morok santri di Masjid Annuqayah, saya juga sedang ikut ngaji meski tubuh basah bermandikan keringat dingin karena takut ketahuan Belanda,” imbuhnya. “Rupanya, Kiai Ilyas sedang menampakkan kejunilannya (karomahnya),” hela Kyae Rahman. Subhanallah.

Belanda memang menggeledah semua tempat di Annuqayah, tapi tidak sejengkal pun mereka menapakkan kaki di daerah Lubangsa. Menurut Kyae Rahman, mereka hanya tercengang ketika melihat daerah Lubangsa laksana melihat kolam besar yang penuh air. Wallahu a’lam.
[Selanjutnya di Bagian 2]

*) K Ahmad Fauzan Rofiq, alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep, sekaligus Pengasuh LPI Babul Ulum Nyalaran Pamekasan.

_______________
Sumber: https://www.facebook.com/100003286128943/posts/2372491029537078/ dikutip Senin, 16 Agustus 2021 pukul 22.45 WIB.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga