Bluto, NU Online Sumenep
Ketua Keluarga Alumni Falak Annuqayah (KAFA) Guluk-Guluk, Fathurrozi menjelaskan, Ilmu Falak (astronomi) tidak hanya terkait pada masalah penetapan awal dan akhir bulan Hijriah saja. Tetapi, meliputi beberapa aspek. Antara lain arah kiblat, awal waktu shalat, terjadinya gerhana bulan dan matahari, bulan purnama, serta masalah zakat.
“Memang di antara yang paling rawan terjadinya perbedaan hanyalah mengawali dan mengakhiri Ramadhan itu,” ujarnya dalam acara Reuni Alumni (Astro Reunion) Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-Guluk, Selasa (10/05/2022) di Desa Sera Barat, Bluto.
Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur ini ini menambahkan kerawanan lain yang sedang ramai belakangan ini adalah masalah arah kiblat.
“Semua ini karena kekritisan masyarakat perihal kebenaran arah kiblat. Di daerah Sumenep misalnya, setelah diukur ada pemahaman keliru kalau kiblat itu barat padahal kiblat mengarah ke ka’bah,” tutur alumni Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah Semarang ini.
Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini menegaskan, ada dua kaidah kiblat yakni kiblatul wahyi yang berarti penentuan kiblat yang disampaikan nabi berdasarkan wahyu Allah SWT dan kiblatul ijtihad yang ditentukan berdasarkan penelitian.
“Ilmu Falak itu dibangun atas dasar penelitian. Karena itu, kita berlaku hukum penelitian,yang valid itu yang mu’tabar,” tegas alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk itu.
Menyinggung arah kiblat masjid atau mushala yang kurang tepat menghadap kiblat perlu diubah atau tidak, alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini menyatakan tergantung kesiapan masyarakat saja.
“Kalau melenceng tetapi masyarakatnya tidak siap, kami kira masih bisa ditolerir. Intinya yang jelas penentuannya harus menggunakan kaidah kiblat yang ada,” tambah pria asal Desa Palasa, Talango itu.
Pengurus Bidang Hisab Rukyat (BHR) LFNU Sumenep ini mengungkapkan, pihaknya ke depan akan mengadakan beberapa program dalam rangka pengajaran dan pengembangan Ilmu Falak di Annuqayah Guluk-Guluk secara khusus, dan Sumenep pada umumnya.
“Karena, praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat tidak bisa lepas dari ilmu Falak. Masih banyak masyarakat yang kurang memahami dan tidak memperhatikan aspek arah kiblat dalam pembangunan tempat ibadah dan dalam hal penentuan waktu shalat. Padahal ini berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah kita,” ucapnya.
Di akhir penyampaiannya, untuk di Annuqayah sendiri nantinya akan diadakan program rutin setiap 2 bulan sekali dalam rangka mempererat tali silaturahim dan memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) LFA Guluk-Guluk.
“Bulan Juli ini, kami akan ke Annuqayah dan kembali menggelar acara Seminar Falakiyah yang akan mendatangkan penyaji dari luar negeri. Doanya saja, semoga cita-cita ini akan tercapai dengan baik,” pungkas Dewan Konsultan LFA Guluk-Guluk itu.
Editor : Firdausi

