Image Slider

Jejakku di Bumi Rafflesia

Cerpen: Amik Widyawati

Di ujuk timur matahari belum terbit, udara masih menggigil terasa menusuk sampai ke sumsum tulang, semilir angin mengusap lembut pipi. Aku duduk di teras pondok mungilku, larut dalam ratap keheningan. Kutatap dedaunan yang masih basah, tanah, dan bebatangan yang masih lembap karena curah hujan yang semalaman mengguyur bentangan alam ini. Tak terasa dari sudut pelupukku, buliran bening menetes lalu jatuh membasahi lantai semen yang retak.

“Assalamualaikum bidadari surgaku, Zahra,” suara Mas Anwar membuyarkan lamunanku.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh”. “Pagi-pagi kok sudah melamun?” tanyanya.

Secepat kilat kuusap buliran itu dengan punggung tanganku agar tak terlihat jejaknya. Kucoba mengumpulkan segenap kekuatan untuk membendung agar buliran berikutnya tak sampai menetes, sebab ketika jatuh bukan hanya air mata yang jatuh, tapi harapan dan kekuatan pun akan ikut luruh.

Ya, kini aku berada jauh dari keluargaku, berjarak ribuan kilometer dari kota kelahiranku; Pulau Garam, sebagai bentuk takzimku pada suami, aku menemani perjuangan dakwah beliau di Kota Rafflesia, tepatnya di Desa Talangsari Kabupaten Seluma. Sungguh tak pernah terlintas dalam benakku akan menjadi penghuni hutan angker di Kota Bengkulu. Angker bukan karena diganggu hantu atau setan, tapi “penghuni hutan” ini sering bertamu di pondokku. Babi hutan, harimau, dan monyet kerapkali turut mencicipi masakan dan buah-buahan yang tersedia di dapurku. Dulu, kukira pondok yang ada di sini sama megahnya dengan pondok yang ada di Pulau Jawa. Namun, setelah kuinjakkan kaki pertama di kota ini, “jleb” hatiku teriris menyaksikan bangunan yang berada di tengah hutan. Bangunan mungil yang berdinding kayu ini disebut pondok.

“Aku pergi dulu ya! Ada tugas dakwah di Kampung Sukaraja,” pamit Mas Anwar padaku.

“Ya mas, hati-hati! Semoga Allah memudahkan segala urusanmu,” doaku mengiringi kepergiannya.

Setelah punggung Mas Anwar sudah lenyap dari pandangan aku segera bergegas ke dapur. Ada suara aneh bergemuruh di sana, dengan tangan gemetar dan berkeringat kubuka perlahan daun pintu dapur.

”Hah, Astaghfirullahhaladzim,” pekikku seketika karena kaget. Benar saja, tepat di hadapanku seekor babi hutan yang gagah perkasa siap menyerudukku. Kuambil sapu ijuk yang bersandar di belakang pintu untuk menghalaunya. Dan Alhamdulillah berkat perlindungan Allah, babi itu akhirnya pergi.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Langit cerah, sedikit diselimuti awan hitam yang bergelayut manja dicakrawala, usapan cahaya matahari mulai menghangatkan raga. Kumandang azan sayup-sayup terdengar, memanggil jiwa-jiwa untuk segera memuji kebesaran Sang Khalik. Tapi masih belum terlihat tanda-tanda kedatangan Mas Anwar, sementara di atas meja makan sudah kusediakan tumis kangkung dan telur dadar untuk santapan makan siang. Hanya hidangan itu yang bisa kumasak, maklum belasan tahun tinggal di pondok, membuatku tak cukup piawai dalam hal masak-memasak.

“Tet..tet.”

Terdengar bunyi klakson sepeda motor Mas Anwar. Kemudian kami menunaikan salat zuhur berjamaah. Seusai salat, Mas Anwar tak pernah lupa menyampaikan tausiyah penyiram kalbu agar jiwa ini tetap kokoh menghadapi riak-riak kehidupan. Bukannya Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 153 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Siang telah berlalu, matahari beringsut meninggalkan celoteh cahaya. Senja mulai menabur jingga, pertanda anak-anak di desa ini belajar merapal kalam illahi di pondok tempat tinggalku. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan Mas Anwar mengajari anak-anak mengaji. Bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga menanamkan nilai ketauhidan di dalam sanubarinya. Seusai salat Isya berjemaah, mereka berhamburan pulang ke rumah masing-masing.

“Dik, aku berangkat dulu ya! Insya Allah nanti pulang pukul 12.00 malam,”.

“Ya, Mas,” jawabku singkat.

Begitulah aktivitas keseharian yang kujalani, Alhamdulillah kini aku juga turut berjuang mendukung dakwah sang suami dengan rutin menghadiri acara pengajian di desa-desa. Aku selalu mendapat tawaran sebagai pembicara di perbagai acara pengajian di tingkat daerah maupun di tingkat pemerintahan provinsi. Dengan ikhlas dan sabar, aku menjalani perjuangan ini, kedamaian senantiasa menyelimuti kehidupanku. Allah memudahkan rezeki dan segala urusanku. Aku yakin dengan janji Allah dalam Al-Quran Surat Al-Maa’idah ayat 54 “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui”.

Ayat itulah yang selalu terngiang di telingaku, menjadi cambuk perjuanganku untuk meniti cahaya surga.

Hingga tiba suatu sore………..

“Huek..huek,” entah sudah berapa kali dalam sehari aku selalu memuntahkan kembali makanan yang kumakan.

“Kamu kenapa, Dik?” tanya Mas Anwar cemas. Ayo kita periksa ke dokter!” ajaknya sambil menuntunku.

Aku menuruti saja ajakan beliau karena aku memang benar-benar pusing, badanku lemas tak berdaya.

“Alhamdulillah, sebentar lagi ustaz akan menjadi seorang ayah, selamat ustaz,” suara lantang dokter menyampaikan hasil pemeriksaan. “Alhamdulillah” syukur kami yang terucap hampir bersamaan, Air mata bahagia turut menjadi saksi kebahagiaan kami, doa yang selama bertahun-tahun terpanjatkan akhirnya terkabul. Ternyata Allah tidak akan mengabulkan langsung setiap doa-doa hambaNya. Allah memang selalu mendengar doa hambaNya, namun Allah akan mengabulkan doa itu bukan di saat yang kita inginkan, melainkan di waktu yang tepat.

Pada hari-hari berikutnya, kehidupanku dengan Mas Anwar semakin bahagia. Kami menunggu lahirnya buah hati sambil terus berdakwah. Di antara kebahagiaan itu, adakalnya kami juga cemas, karena tenaga kesehatan yang mengurusi masalah persalinan jaraknya jauh. Aku dan Mas Anwar hanya berdoa semoga nanti selamat hingga lahir.

Pada hari yang tak kami sangka, aku lahir di begitu saja di beranda pondok. Tangisa bayiku membuat kera, anjing, harimau, dan hewan lainnya berdatangan membuat tubuhku gemetar. Beruntung, di saat Mas Anwar mengumandangkan azan pada telinga bayiku, binatang-binatang itu perlahan menjauh seperti paham bahwa kami sedang berjuang.

Amik Widyawati, ibu dari dua anak, pemilik nama pena Ummu Qizzah. Tinggal di Jalan Trunojoyo Sumenep-Madura. Penulis masih aktif mengajar di SMP Integral Luqman Al Hakim Sumenep. Jejaknya bisa diikuti di medsos dengan nama yang sama.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga