Ganding, NU Online Sumenep
Firdausi, Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep menyatakan, menjadi pengelola media NU harus ikhlas. Karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimilikinya hum minal mukhkisin.
Pernyataan ini disampaikan saat memberi sambutan di acara opening ceremony Sekolah Jurnalistik yang dihelat oleh Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Asy’ariyah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (Stidar) Ganding, Selasa (30/05/2023).
“Mengelola media dakwah NU ataupun pesantren kotuh sabber, naremah, asokkor tor nyokkoreh, ehlas,” ucapnya saat memberi motivasi kepada peserta ngaji jurnalistik yang berkumpul di Majlis Dirasah Al-Hamidi Gaddu Barat, Ganding.
Diceritakan, saat diberi amanah oleh syuriyah, ia bersama krunya merintis media dakwah dengan bermodalkan 0 persen. Kendati demikian, ia menjalankannya setulus hati atau tidak pragmatis saat berkhirmah.
Mantan pengurus komisariat PMII Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan ini meyakinkan peserta bahwa menjadi jurnalis NU akan memperoleh keberkahan dan pahala di akhirat nanti, layaknya para syuhada.
“Jika syuhada jihadnya di medan perang. Sedangkan jurnalis NU di media online, cetak ataupun penyiaran. Konten dakwah yang kalian sajikan pada khalayak akan ditimbang layaknya darahnya syuhada,” ungkapnya.
Ia berharap, kerja sama antara PMII Asy’ariyah Stidar dengan LTNNU Sumenep akan menelorkan kader-kader yang istiqamah mewarnai jagat maya lewat konten edukasinya.
Bagi yang pemula, lanjutnya, mereka akan dikenalkan dengan tulisan straight news. Dilanjutkan mengenal news values, hingga kelak mahir menulis feature.
“Pasca kegiatan, ada follow up, pengembangan materi atau bimbingan khusus, baik secara online ataupun secara langsung. Peserta akan didampingi oleh mentor setelah panitia mengelompokkan peserta. Kami akan mengevaluasi perkembangan peserta,” tandasnya.
Diketahui, Ketua PK PMII Asy’ariyah Stidar Ganding dan Ketua LTNNU Sumenep menandatangani surat kerja sama yang disaksikan oleh pengasuh pesantren Raudlatul Iman, yakni Kiai Muhammad Sahli Hamid.

