Image Slider

NU dan Tantangan Zaman: Menjama’ahkan Jam’iyah dan Menjam’iyahkan Jama’ah

Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*

Ingat NU didirikan dengan tujuan mulia yaitu لإحياء وإعلاء دين الإسلام (untuk menghidupkan dan meninggikan syiar agama Islam) yang nanti muaranya pada لإعلاء كلمة الله (untuk meninggikan kalimat Allah).

Tujuan mulia ini kemudian diartikulasikan di dalam AD & ART NU yaitu Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta.

Kita sadar bahwa setiap zaman ada tantangannya dan setiap tantangan ada zamannya. Tidak ada tantangan yang melampaui zaman dan tidak ada zaman yang tanpa tantangan. NU sudah memasuki abad ke-2 yang sudah barang tentu sudah cukup dewasa keberadaannya di pentas dunia ini.

Namun, kedewasaan NU tentu terus menerus akan diasah sesuai dengan tantangan zaman yang ada. Dalam hal ini ada dua pendekatan yang tak terpisahkan dan saling melengkapi (simbiosis) dalam memperkokoh benteng NU yaitu menjama’ahkan jam’iyah dan menjam’iyahkan jama’ah.

Hal ini diperlukan dalam rangka adanya keseimbangan antara jama’ah yang merupakan kekuatan basis massa NU di akar rumput dan jam’iyah sebagai penyanggah dalam barisan struktur organisasi.

Menjama’ahkan Jam’iyah
Ingat.! Jangan karena kita sebagai pengurus di Jam’iyah NU kemudian menyebabkan kita lupa daratan. Hindari bersikap priyayi yang maunya disungkem dan didatangi.

Maunya dihormati tidak mau menghormati. Jangan sampai ada sekat atau jarak antara Jam’iyah ini dengan jama’ahnya.

Tugas pengurus tidak sesimpel ia mengisi jabatan struktural, tapi harus menjalankan fungsinya melayani dan mengayomi jama’ah.

Pengurus di Jam’iyah ini adalah pemimpin bagi jama’ahnya, maka kata Nabi Muhammad سيد القوم خادمهم (pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya).

Sebagai pemimpin, maka pengurus harus peka pada realitas kehidupan yang dihadapi jama’ah. Hadir memberikan solusi dan jangan sampai menjadi ilusi.

Jam’iyah harus hadir di tengah-tengah jama’ah dan tidak membiarkan jama’ah tidak menemukan arah.

Kehadiran jam’iyah jangan sampai berjarak. Berpenampilan seperti penampilan jama’ah atau dalam kata lain berpenampilan sesuai dengan tempat dan keadaan. Low profile adalah pilihan yang realistis dan etis. Ibnu Athaillah mengatakan:

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِي أَرْضِ الخُمُوْل فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ

Artinya: “Tanamlah dirimu dalam kerendahan diri (low profile). Sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”

Program-program NU harus benar-benar menyentuh masyarakat. Harakah NU tidak untuk melayani ambisi pribadi dan kepentingan golongan, tapi bertujuan memurnikan atau menjaga agama (رعاية الدين).

Berpegang teguh pada syariat dan prinsip-prinsip ajaran Islam secara totalitas bukan hanya untuk kepentingan NU secara Jam’iyah semata tapi untuk memakmurkan bumi secara umum (عمارة الأرض).

Memakmurkan bumi merupakan kewajiban agama sebagai hamba Allah SWT dan kewajiban nasional sebagai anak bangsa. Memakmurkan bumi dan menjaga atau memelihara agama merupakan inti dari kekhalifahan yaitu peran manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Semua itu tentu harus dijalankan dengan prinsip dasar NU yaitu tasamuh, tawasuth, tawazun, dan i’tidal yang harus menjadi karakter dalam berjam’iyah.

Wujud dari itu semua tentu kehadiran jam’iyah di tengah-tengah jama’ah mutlak dibutuhkan.

Menjam’iyahkan Jama’ah
Berdasarkan survei LSI Denny JA pada Agustus 2023 yang lalu lebih dari separuh populasi penduduk Indonesia menyatakan sebagai bagian dari NU.

Angka yang muncul adalah 56,9. Ini hanya hitungan angka yang bukan merupakan jaminan mereka ber-NU karena ideologis. Ber-NU karena faktor biologis banyak kita temukan di lapangan, tapi mereka labil yang bisa saja karena faktor tertentu mereka suatu saat akan berubah haluan.

Sering kita dapati di bawah orang mengaku menjalankan amaliyah NU tapi tak mau tahu menahu tentang NU. Mereka apatis dengan NU dan programnya. Bahkan ada yang dengan terang-terangan mengkritik habis-habisan pengurus NU baik dari pusat sampai ke bawah.

Bukan NU tanpa kritik, tapi kritik yang berlebihan dan diumbar di media sosial justru akan merugikan dan dimanfaatkan oleh mereka yang memang benci dan tidak suka dengan NU dan ajarannya.

Kepentingan mereka bukan hanya pada NU-nya, tapi lebih pada penghancuran negara dan bangsa Indonesia ini. Mereka bukan hanya menyerang NU dari luar, tapi ingin menggerogoti NU dari dalam. Ini yang harus diwaspadai.

Penulis sering membaca teori konspirasi, tapi sekali lagi ini teori konspirasi yang tak didukung oleh bukti faktual dan kredibel bahwa ada kelompok tertentu dengan penyandang dana terbesarnya adalah beberapa negara digdaya dunia yang mempunyai program depopulasi. Di mana mereka ingin mengurangi separuh populasi penduduk dunia yang hari ini sudah mencapai 8 milliar lebih itu.

Perjalanan kehidupan dunia yang sekian itu dianggap tidak efektif sehingga harus dikurangi. Caranya harus ada yang dikorbankan. Nah, kalau kita melihat bagaimana yang terjadi di Timur Tengah dengan gerakan ISIS, siapa yang jadi korban dan siapa aktor di balik itu semua?.

Kita lihat lagi bagaimana etnis Islam di Eighur China dan Rohingya Myanmar. Coba kita juga flashback ke wabah korona beberapa tahun yang lalu, jangan-jangan itu bagian dari konspirasi mereka.

Bukankah kita sering mendengar, tapi lagi-lagi ini teori konspirasi bahwa virus sengaja mereka ciptakan sekaligus vaksinnya juga telah mereka persiapkan.

Kita tidak tahu agenda-agenda terselubung mereka di dunia ini untuk wujudkan mimpi mereka yaitu “Tatanan Dunia Baru” atau New Word Order. Bisa jadi demi merealisasikan ambisinya itu apa saja bisa mereka lakukan baik melalui korporasi-korporasinya ataupun kekuatan negaranya.

Baik juga dengan cara yang agresif maupun yang asertif atau dengan perlahan. Bisa jadi juga dengan mencegah atau pembatasan keturunan (tahdid al-nasl). Maka, di sini penting kiranya gagasan kemandirian ekonomi jam’iyah segera diwujudkan.

Pernah juga ada yang membahas bahwa Indonesia ditargetkan menjadi negara bubar tahun 2025 walaupun sudah lewat tapi tanda-tandanya sudah kita rasakan terutama saat pencalonan Prabowo dan Jokowi di 2014 dan 2019.

Masyarakat terpolarisasi menjadi kelompok yang secara pejoratif dijuluki cebong dan kampret. Untung Prabowo masuk kabinet pemerintahan Jokowi 2019 sehingga itu bisa diredam.

Beberapa bulan terakhir ini juga kita lihat bagaimana pesantren dan NU diserang. Untung juga NU bukan organisasi kemarin sore. NU sudah sadar dari awal kalau menjadi target tapi tetap harus waspada terutama bagaimana merawat jama’ahnya.

Membangun ekosistem bisnis berbasis potensi jama’ah seperti pemberdayaan UMKM atau juga optimalisasi BUMNU atau program lain demi mencapai kedaulatan ekonomi jama’ah.

Lebih dari itu, mereka tentu harus dirawat dengan pemahaman yang baik bahwa NU itu adalah jam’iyah atau organisasi yang lebih sering kita menyebutnya dengan jam’iyah diniyah ijtimaiyah (organisasi sosial keagamaan).

Sebagai organisasi tentu ada aturan yang mengikat bagi mereka yang mengklaim dirinya sebagai NU.

NU adalah jam’iyah, maka ber-NU adalah berjam’iyah, berbaris dan membangun harakah yang terorganisir demi cita-cita mulia di atas. Sebagai jam’iyah, maka sudah barang tentu kita harus menjadi role model atau uswah (memberikan contoh yang baik) bukan hanya memberikan mau’idhah (menyampaikan kebaikan).

  • * Penulis adalah santri alumnus PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga