Image Slider

Penyematan Laqab Gus Mus pada Santri

Di acara Pelatihan Kader Literasi (PKL) Zona Madura Raya yang dihelat di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, ada salah satu pemateri yang ngebanyol saat mengisi materi. Hal itu dilakukan agar peserta tidak mengantuk.

Di sela-sela sesi penyampaian materi teknik penulis tokoh NU, Mukani Ketua Literary Center Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur menceritakan masa lalunya saat masih menempa ilmu di perguruan tinggi.

“Kami memiliki teman yang sangat unik. Salah satunya teman yang aktif mushala-mushala di daerah perumahan. Luar biasa, teman kami suka membantu takmir, mengisi kegiatan dan sejenisnya. Sehingga mendapat perhatian dari pihak takmir,” kenang pria yang menyatakan dirinya berasal dari Kayangan itu.

Saking sering berdiam diri di mushala, lanjutnya, ia menjulukinya dengan sebutan Gus Mus. Nama yang keren, persis panggilan KH Ahmad Mustofa Bisri, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Bro, saya tidak memiliki trah kiai. Saya datang ke kota ini untuk menuntut ilmu. Kebetulan kondisi ekonomi kami lemah. Sehingga memutuskan diri untuk beristirahat di mushala sambil memakmurkan layaknya langgar-langgar atau surau di desa kami,” curahnya sembari mengingat-ingat kisah perjalanan temannya.

Mukani menjelaskan pada temannya soal penyematan laqab Gus Mus. Yang dimaksud Gus Mus adalah Gus-gus yang suka di mushala.

“Betul kan, Gus Mus adalah gus yang di mushala. Saking dekatnya sama Allah, Allah memberikan jalan kepadamu. Yakni, mendapat kos-kosan dan makanan gratis di mushala,” ungkapnya sambil melepas tawa.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga