Image Slider

Produk Lokal yang Go Publik

Oleh: Moh. Lutfi, S.E

Di era pandemi covid 19 saat ini ada tiga hal yang tidak terkena disrupsi ekonomi, yaitu pangan, kesehatan, dan teknologi digital. Tiga aspek tersebut mengalami kenaikan grafik salama pandemi covid 19. Orang semakin sadar perlu adanya ketahanan pangan lokal yang berkualitas di saat gerakan ekspor impor semakin dibatasi. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan sehingga mengonsumsi pangan yang langsung berasal dari petani karena lebih bernutrisi dan higienis. Ekonomi digital menjadi jalan baru di saat lock down, jaga jarak, dan PSBB yang diterapkan oleh setiap negara.

Fakta di atas menjadi momentum bagi kita untuk membangun produk lokal yang berbasis agraris, kesehatan alami, dan ekonomi digital. Indonesia kaya dengan sumber daya alam sehingga perlu keberanian dan keyakinan yang kuat untuk membangun produk lokal dari pertanian, peternakan, dan hasil laut. Pelaku usaha produk lokal memiliki kesempatan emas untuk diorganisir menjadi ketahanan pangan nasional dan menjadi fondasi ekonomi Indonesia sebagai negara agraris dan maritim. Dampak dari proses ini akan membuat kedaulatan petani, kedaulatan nelayan, dan kedaulatan peternak.

Selanjutnya kesadaran akan pentingnya kesehatan menjadi lanjutan dari membangun produk lokal berbasis pertanian. Kita bisa lihat bagaimana tumbuhan rimpang yang dulunya kurang laku, saat pandemi menjadi buruan utama untuk memperkuat imun tubuh bersamaan dengan diminatinya ikan laut karena mengandung protein yang sangat tinggi. Ayam kampung juga menjadi lauk premium yang terus meningkat karena dinggap lebih sehat. Dalam literasi kesehatan, riset semakin digalakan terhadap pengobatan yang berbasis lingkungan. Produk lokal yang berbasis agraris dan kesehatan alami perlu dimobilisasi menggunakan digitalisasi ekonomi. Pelaku usaha produk lokal harus melek literasi digital kalau ingin memiliki daya saing.

Jadi, saat pandemi seperti sekarang membangun produk lokal berbasis agraris, kesehatan alami, dan ekonomi digital sangat diminati dan bahkan diprediksi sampai pascapandemi. Kita memiliki fondasi menuju ke sana dengan kekayaan sumber daya yang kita miliki. Kemudian langkah-langkah apa yang perlu dipersiapkan untuk membangun produk lokal agar go public ?

A. Literasi manajemen bisnis

Pengetahuan ekonomi bukan hanya masalah produk baik dan dapat untung tetapi literasi ekonomi ini bekaitan dengan aktivitas ekonomi secara menyeluruh mulai dari kuantitas aktivitas dan kualitas aktivitas ekonomi, kualitas, dan nilai manfaat produk, proses distribusi ke konsumen, kepuasan konsumen, kerjasama tim, etos kerja sampai kecerdasan keuangan. Secara umum literasi manajemen ekonomi adalah

1. Manajemen produk
Produk lokal rata-rata memiliki kualitas dan nilai manfaat yang bagus tetapi sangat lemah dalam packing produk, ketersediaan produk, efisiensi proses produksi, dan kemudahan menggunakan produk. Sebagai salah satu contoh Tolak Angin mampu membuat kemasan cair dan kemasan dalam bentuk permen yang sangat mudah untuk dipakai konsumen tetapi produk lokal kita masih berbentuk serbuk dan bahan baku. Oleh karena itu, dalam manajemen produk perlu memperhatikan bagaimana produk itu dibeli, digunakan, dan disimpan dengan mudah oleh konsumen. Dengan mengacu pada tiga aspek tersebut value creation dan inovasi produk akan menjadi prioritas utama.

2. Manajemen keuangan
Manajemen keuangan berkaitan dengan proses aktivitas pengumpulan dana dan penggunaan dana secara efektif, efisien, dan dipertanggungjawabkan secara transpransi. Banyak sekali pelaku usaha produk lokal selalu mempermasalahkan keuangan yang sedikit. Hal ini karena pengetahuan tentang financial education (pendidikan keuangan) sangat rendah. Manajemen keuangan bukan hanya masalah modal usaha tetapi lebih pada perencanaan, efisiensi, transparansi keuangan dengan kombinasi berbagai input untuk menghasilkan out put. Hal yang sering terjadi adalah banyak pelaku usaha lokal belum mampu memisahkan antara kekayaan pribadi dan keuangan usaha. Kesalahan kedua, pelaku usaha lokal ketika melakukan pembiayaan banyak yang tidak dianggarkan untuk kebutuhan usahanya tetapi sebagian digunakan untuk keperluan konsumtif seperti motor, HP, dan gaya hidup yang lain. Oleh karena itu, pelaku usaha produk lokal harus paham financial education dengan benar.
Industri 4.0 dengan adanya digitalisasi ekonomi dapat membantu pelaku usaha melakukan efisiensi dan transparansi keuangan. Akses keuangan dengan adanya digitalisasi ekonomi juga dapat mempermudah dan mempercepat pencairan uang antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana.

3. Manajemen pemasaran
Pemasaran bukan hanya tentang selling (penjualan), bukan juga masalah service (pelayanan), tetapi berhubungan dengan nilai produk, perilaku konsumen dan budaya kerja yang dibungkus dalam bentuk brand (merek). Banyak produk lokal tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar sehingga kurang diminati padahal secara kegunaan produk lokal sangat bagus. Di sinilah pentingnya sentuhan manajemen pemasaran dalam meningkatkan kompetensi keunggulan bersaing yang berkelanjutan.

Ada tiga elemen kunci dalam pemasaran, yaitu differensiasi, positioning, dan branding. Pertama, differensiasi adalah nilai unik yang membedakan suatu produk atau jasa dengan yang lain sehingga menjadi pilihan utama untuk digunakan oleh konsumen. Differensiasi merupakan bagian terpenting untuk membawa pesan nilai produk atau jasa di antara sekian banyak kompetitor produk yang ada di pasar. Tanpa differensiasi yang jelas maka sebuah produk lokal akan kalah bersaing dengan brand yang telah terkenal. Differensiasi bisa berasal dari konten, yaitu nilai produk itu sendiri seperti nilai lebih produk lokal, packing, dan kualitas. Bisa juga berasal dari konteks yaitu bagaimana cara menawarkan produk tersebut seperti cara menikmati produk, cara mendapatkan produk, dan cara memperoleh pengalaman yang menakjubkan. Differensiasi aspek konten merupakan sisi rasional usaha dan aspek konteks merupakan sisi emosional usaha. Kedua, positioning adalah menempatkan posisi produk atau jasa di benak konsumen dengan membangun keyakinan dan kepercayaan. Nilai unik produk yang dijanjikan kepada konsumen harus ditepati agar mendapatkan tempat di benak konsumen. Nilai rasional dan emosional produk lokal tersebut akan terekam secara natural di benak konsumen seperti kalau mendengar sabun Lifebuoy maka yang ada dibenak konsumen adalah sabun kesehatan. Ketiga, branding adalah karakter produk yang memberi pengaruh terhadap kehidupan konsumen. Branding bukan hanya sekadar nama yang bagus tetapi nilai yang dibangun sehingga memiliki daya tarik dan energi yang besar dalam menginspirasi dan memberi keyakinan kepada konsumen. Untuk membentuk ekuitas merek maka harus didukung positioning yang jelas dan defferensiasi yang kuat. Oleh karena itu, brand menjadi representasi dari keseluruhan pengalaman konsumen. Jika pengalaman itu memberi manfaat yang bagus maka secara otomatis menunjukan integeritas brand dan memenangkan kepercayaan konsumen sehingga tercipta loyalitas brand begitu juga sebaliknya.

4. Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam meningkatkan pertumbuhan produk lokal. Tanpa pengetahaun, skill dan attitude sangat mustahil produk lokal berkembang dengan pesat. Manajemen SDM selalu membantu meningkatkan kinerja pelaku produk lokal mulai dari rekrutmen, penempatan posisi kerja, motivasi, pengetahuan, skill, attitude, dan budaya kerja yang menunjang terhadap kreativitas dan produktivitas. Training juga menjadi bagian dalam meningkatkan pengetahuan, skill, dan attitude. Manajemen SDM harus mampu membuat tempat kerja sebagai wadah untuh melakukan ekspresi diri yang ditunjukan dengan desain ruangan, atribut, nilai-nilai usaha, dan budaya kerja agar inovasi berjalan natural. Dalam membangun produk lokal, manajemen SDM dapat meningkatkan employees engagement dengan 4 (empat) E: enjoy (menikmati pekerjaan), easy (merasa mudah dalam bekerja) excellent (meraih hasil yang optimal) dan earn (member nilai tambah bagi usaha produk lokal). Di samping itu, membangun team yang solid akan berdampak terhadap produktivitas usaha. Team yang hebat akan diisi oleh orang-orang yang hebat sehingga dalam melakukan rekrutmen tenaga kerja perlu selektif.

B. Keberlanjutan usaha (Sustainability)

Konsep usaha produk lokal yang harus diperhatikan setelah manajemen bisnis adalah keberlanjutan usaha. Usaha bukan hanya masalah profit tetapi juga mengenai keberlanjutan usaha, yaitu relevansi produk atau jasa dalam menjawab berbagai masalah di masyarakat. Kita banyak menyaksikan usaha produk lokal hanya hidup sementara tetapi tidak bisa melanjutkan kejayaannya. Bisa saja karena ada pesaing yang lebih bagus, mungkin brandnya sudah tidak mampu menjawab ekspektasi konsumen atau memang bisnisnya kurang adaptasi terhadap perubahan. Dalam merancang usaha produk lokal kita harus memiliki pemahaman yang benar mengenai apa saja perubahan yang terjadi di lingkungan kita.

Change (perubahan) yang terjadi harus bisa diakses dengan cepat oleh usaha produk lokal. Kalau lambat menangkap perubahan maka kita akan segera terdisrupsi. Perubahan biasanya selalu diawali oleh kekuatan teknologi. Industri 1.0 diawali dengan ditemukannya mesian uap, industri 2.0 diawali dengan ditemukanya tenaga listrik, industri 3.0 diawali dengan ditemuknnya computer, kemudian disusul dengan adanya internet, dan industri 4.0 sekarang diawali dengan ditemukannya digital conection. Sehingga usaha produk lokal kalau ingin tetap sustainable maka perlu adaptif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis dengan melakukan transformasi dari usaha konvensional ke platform digital.

Perubahan di lingkungan bisnis tidak hanya perubahan teknologi, tetapi bisa berupa political-legal, economy, socio-cultural, dan market. Perubahan begitu dinamis dan inilah yang disebut dunia VUCA : votality (berjejolak), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kerumitan), ambiguity (ketidakjelasan), dan screwy (kegilaan). Perubahan juga tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga perubahan karakter pelaku usaha atau karyawan. Generasi melenial mempunyai banyak karakter yang tidak sama dengan generasi sebelumnya. Pemicunya adalah internet yang menyebabkan kemudahan informasi dan keberlimpahan yang menyebabkan kemudahan materi. Milenial bekerja tanpa batas waktu. Jika sebelumnya bekerja dari jam 07.00 sampai jam 16.00 maka milenial tidak lagi menggunakan patokan jam kerja, mereka cenderung menentukan sendiri waktunya. Milenial juga bekerja tanpa batas tempat. Jika generasi sebelum bekerja harus ke kantor dengan pakain formal, milenial bekerja bisa dilakukan di mana pun, di rumah, caffee, di kebun bahkan di tempat rekreasi dengan pakaian yang santai. Oleh karena itu, lingkungan kerja harus dibuat semirip mungkin dengan lingkungan di mana milenial tumbuh.

Menganalisis perubahan bukan hanya mampu melihat perubahan yang terjadi sekarang tetapi juga mampu mempredikasi perubahan yang akan datang sehingga usaha produk lokal selalu tampil trendy sesuai eranya. Sebagai salah satu contoh era 2000-an lembaga keuangan selalu memanjakan nasabahnya dengan berbagai hadiah menarik, tetapi saat ini lembaga keuangan lebih memanjakan nasabahnya dengan kemudahan transaksi, kecepatan aktivitas proses, dan kenyaman pelayanan online. Lanskap bisnis produk lokal di era VUCA mengharuskan mampu menyesuaikan diri dan bergerak ke arah yang lebih lincah.

Terakhir, sustainability harus dibangun dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Kejujuran, kepercayaan, kepedulian, kesopanan, dan transparansi menjadi pijakan dasar keberlanjutan usaha. Nilai-nilai ketuhanan menjadi spirit yang terdalam sebagai makhluk Tuhan, sedangkan nilai-nilai kemanusiaan berkaitan dengan karakter alamiah kita sebagai makhluk sosial. Jika produk lokal mampu menciptakan nilai tersebut maka kehadiran produk lokal bukan hanya untuk kesejahteraan ekonomi tetapi juga memberikan manfaat yang berharga bagi umat manusia.

C. Mobilisasi Sumber Daya Dan Platform Digital
Sebuah era untuk menjadi sukses tidak harus memiliki asset. Dulu, untuk membuat usaha perlu modal besar untuk membuat tempat usaha, melakukan promosi, melakukan distribusi barang, dan tentu membutuhkan tenaga kerja yang begitu besar. Tetapi era digital saat ini tidak membutuhkan banyak asset cukup melakukan mobilisasi sumber daya. Untuk membuat usaha ojek, Nadim Makarim makarim cukup melakukan mobilisasi orang yang memiliki sepeda motor, untuk membuat usaha di bidang perhotelan, traveloka cukup melakukan kolaborasi dengan hotel untuk memberi informasi dan kemudahan melakukan transaski bagi yang membutuhkan, begitu juga untuk membuat usaha di ritel, tokopedia cukup memobilisasi UMKM dengan memasarkan produknya di marketplace, begitu juga di dunia keuangan, kitabisa.com cukup mempertemukan antara orang yang memiliki kelebihan modal dengan orang kekurangan modal sehingga orang yang butuh dana usaha tidak perlu ada jaminan yang ribet seperti lembaga keuangan pada umumnya cukup kualitas produknya yang jadi jaminan. Industri farmasi membuat kejutan dengan hadirnya halodoc yang setiap orang di mana pun berada dengan berbagai latar belakang status ekonomi bisa konsultasi dengan tenaga medis spesialis tanpa harus antre lama di klinik kesehatan.

Mobilisasi sumber daya menjadi perubahan besar di era digital connection yang membuat pelaku usaha old power kewalahan menghadapi star up baru yang diprakarsai oleh pemuda milenial. Produk lokal juga harus mampu melakukan mobilisasi produk untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Untuk melakukan mobilisasi sumber daya ekonomi produk lokal membutuhkan platform yang berbasis digital ekosistem. Dengan membentuk platform tersebut maka dengan sendirinya crowd menjadi sebuah kekuatan besar dalam connected society yang membentuk konsumen dengan partisipasi aktif. Bahkan connected society sebagai konsumen partisipan ikut membiayai (funding) dan ikut menjadi pemilik. Connested society menyimpan potensi besar berupa kegiatan produksi. Hasilnya, produk lokal ketika masuk dalam platform ekosistem digital bisa dipasarkan tidak hanya dalam pasar lokal tetapi juga bisa tembus pasar nasional dan internasional.

Platform digital adalah teknologi yang menciptakan value dengan mempertemukan permintaan dan penawaran. Dampaknya adalah dapat memecahkan masalah bagi yang kekuarangan dan yang kelebihan produk sehingga memungkinkan sumber daya ekonomi yang terbuang terserap oleh pasar dan membuat pasar lebih inklusif dan aktif. Platform digital dan ekosistem ekonomi menjadi bukti era yang memberi kesempatan untuk semua warga dalam melakukan aktivitas ekonomi secara lebih baik. Karena produktivitas dan value creation dilakukan oleh sebuah ekosistem bisnis.

Seorang penjual produk lokal yang berada di kampung bisa memasarkan produknya di platform digital. Inilah ekosistem ekonomi yang memberi kekuatan bagi pelaku usaha lokal untuk melakukan transformasi dunia usaha menjadi magnitude yaitu memiliki daya jangkau dengan kemudahan dan kecepatan melalui penggerak layanan ujung jari dalam bingkai connected society. Platform digital ini bagi pelaku usaha produk lokal bisa berkolaborasi, melakukan mobilisasi, dan sharing bersama demi tujuan yang mulia. Untuk meningkatkan keunggulan kempetitif, pelaku usaha produk lokal harus berkolaborasi dengan pihak lain dan melibatkan partisipasi konsumen. Di era digital connection melibatkan konsumen menjadi wajib dalam proses usaha, seperti menerima ide, kreasi, dan kritik konsumen. Pelibatan konsumen tersebut menjadikan konsumen merasa memiliki. Ketika konsumen merasa dilibatkan maka tercipta kepastian, keselarasan, dan kesesuaian dengan kebutuhan dan ekspektasi konsumen. Pada akhirnya platform digital berbasis ekosistem ekonomi merupakan realitas yang dibentuk oleh anak milenial berdasarkan peresepsi orang lain yang dianggap sebagai sebuah solusi.

D. Spirit kemanusiaan
Banyak tokoh bisnis menyatakan bahwa masa depan ekonomi bisnis terletak pada penciptaan produk, jasa, dan kultur usaha yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Integritas dan kepecayaan menjadi harga mahal di saat teknologi menjadi kekuatan penggerak ekonomi bisnis. Di platform digital yang terus mendunia, sentuhan kemanusiaan menjadi differensiasi baru. Sehingga brand yang dimanusiakan menjadi ekuitas merek yang kuat. Pelaku produk lokal yang berorientasi pada spirit kemanusiaan, akan melakukan pendekatan pada konsumen sebagai manusia utuh dengan mind, hati, dan jiwa. Artinya produk lokal tidak hnya memenuhi kebutuhan fungsionalnya saja tetapi juga memenuhi kebutuhan emosional dan kebutuhan spiritual konsumen seperti kejujuran, kepercayaan, kesopanan, dan kehalalan. Inilah fase di mana usaha produk lokal berorientasi pada kualitas produk, kepuasan konsumen, dan human spirit secara bersamaan.

Bisnis yang digerakan oleh total teknologi tidak akan berjalan lancar. Usaha yang digerakkan total manusia juga tidak akan efektif dan efisien. Kita perlu mengintegerasikan tekonlogi dengan spirit kemanusiaan. Teknologi yang baik adalah yang mengabdi kepada kemanusiaan. Pola relasinya bukan hanya teknologi ke teknologi tetapi juga human to human. Dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, usaha produk lokal yang masuk dalam platform digital akan melakukan ativitas ekonomi untuk kebaikan (Tech for Good). Produk lokal yang berorientasi pada Tech for Good akan menjamin sustainibility (keberlanjutan) usaha dan keberlangsungan kehidupan manusia secara universal.

*CEO NYIOR Cooperative dan anggota LPNU MWCNU Gapura.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga