Pada Suatu Subuh
I/
Menjelang malam, sukmaku seakan hanyut diambang palung kesedihan
Menjelang pagi, sepi mencekik, pekik suara burung gagak
Menjelang siang, aku bersembunyi di bawah atap meratap
Menjelang sore, aku merebah diatas tanah tandus berselimut bunga tujuh rupa
II/
Aroma karsa masih terasa hampa
Perihal merayakan kematian
Dengan lumatan api-api setan
Lantaran, kau selalu menyiramnya
dengan embun-embun diam
III/
Mengirim subuh di antara
Fajar shodiq dan kadzib
Melesap segala maya, melahap segala niskala
Tarian kematian menghiasi hari-hari basah
Di ruang tunggu aku melebur
Menyigi keeping-keping maaf
Tersuluhku telah sadar
(2020)
Dua Sisi Gelap
Dua sisi gelap
Tiga titik hitam
Benderang sebelum karat menjelma jadi hujan
Menggagalkan metafor adam dan hawa
Beralih ke tepi telaga kautsar
Kuhembuskan suara yang bernoktah layaknya kabar
Diorama di tepi bibir
Membuat ruangan baru
Sengaja ku tempel epitaf-epitaf berlumut
Melipat waktu
mengubahnya jadi tanah dan susu
Aku memerlukan serangkaian asap
Yang kau ucapkan di antara rumah dan kaca
“Terima kasih untukmu yang sudah bersedia, apapun itu.”
Seperti serpihan-serpihan sorga yang tergeletak di selasar masjid dan jalan menuju Tuhan
Pakaian topeng adalah pakaian sehari-harimu
Terkadang kau lupa mencucinya dan menjemur di desa-desa yang hampir redup
“Aku tak bermaksud seperti itu!”
Selalu dilema
Selalu bulan yang kau persembahkan kepadaku.
Tak ada yang lain selain itu, kasih?
Yogyakarta, 2020.
Bunga tidur
Mimpi adalah awal sebuah kehidupan
Seorang anak memesan mati sementara
Diatas Kasur tapi ia berpesan:
“Jangan kau kubur mayatku, sebelum aku mati
ditanganMu”
Sebelumnya anak itu menenggak racun
Agar tidurnya senantiasa tenang
Dan bangun seperti telah lahir kembali
Dosa sebagai makanan sehari-hari
Mengaku pemilik dari segala
Kehidupan yang fana
Dan dianggap abadi oleh segelintir anak
Di sisa-sisa usia
Mereka tak menyisakan keberanian
Untuk menjadi manusia seutuhnya
Tapi sebagian bercampur malaikat, setan, tumbuhan dan hewani
Bahkan tuhan juga ikut andil didalamnya
Hendak menjelma madu
Yang mengalir ke telaga kautsar
Berdampingan di sungai-sungai susu
Yang kental tapi tak manis
Dan bidadari senantiasa menyirami
Bunga-bunga mimpi
(2020)
Seperti Hari Libur
Seperti hari libur
Kau selalu melebur tubuhmu pada jam-jam sebelum lidahmu menjulur
di koran dan majalah
Setengah terbakar
Lebah tak lagi menyengat
matahari menggantikannya beberapa hari saja
menerjemahkan musim
Menulis lagu
Menyelupkan setengah kaki di kolam matamu
Seolah taring-taring yang menguning
Kuuraikan segala suara
“Aku masih memakai baju putih dan bau laut yang sebentar lagi akan di jemput oleh maut.”
Tanpa sobekan-sobekan kertas, kuulangi sekali lagi
” Tak ada! ”
Yogyakarta, 2020.
Lebaran
Bulan merasa dirinya kotor;
Bermandikan air suci
dari pantai selatan
Tuk menyambut dirinya sendiri
Dengan seribu lilin
Bulan uzlah dari langit
Bersujud bersama arunika dan swastamita
Hendak menghadapNya
O, tuhan apakah aku akan selamanya cerlang,
Jika meluruhkan diriku sendiri?
(2020)
Aku dan Belati
Sebelum laut surut,
aku dan belati saling silang menyayat tubuh waktu
mengasah belati sampai lindap dan runcing
dan aku menghunuskannya ke lubang-lubang langit
‘’Tikamlah aku!”
Belati lebih setia dari anjing-anjing rumah
Mengerkau dengan segala
Kau memegang belati
‘’Sebentar lagi, kau akan menikamku!”
Mata kita meruncing tajam
Saling silang memandang
Siap menikam
Ia menuduhku mematahkan belati
Bahwa jarum jam telah berkhianat kepadaku
Hingga saat nanti
(Subang, 03 2020)
Pulang
Sebelum embun memeluk tubuhmu
Akulah tungku
Sesudah kepergian merenggutmu
Akulah rumahmu
(2020)
Tangisan puan
Pusara itu tertimbun rerumpunan tebal
diselimuti luruhan daun yang kekal
Gemersik angin di bawah pejalan kaki
Bertabur bunga-bunga kamboja
Kudekap erat sebongkah nisan penuh lumut
Seakan mengucapkan selamat datang untuk selamat tinggal
Betapa moleknya pusaramu
Pohon kamboja membungkuk memayunginya
Berguguran bunga-bunga masa lalu
Mengalir air kedalam telaga mimpi
Menetes embun-embun jatuh dari sepasang mata rapuh!
Untuk anakku teguk
Meminum air matanya sendiri
Subang, 30 Juni 2020
Kecupan pertama purnama
Malam ini, purnama mengecup mesra keningmu
Mengecap senyum dalam dinding-dinding waktu
Terpancar segala ingar di setiap kedipnya
menjabat erat sepasang mataku
Tuk tetap singgah dan bermalam di matamu
Barangkali, pertemuan kali ini adalah perpisahan esok
Aku lebih baik tiada bersama langkah yang tak ada jejaknya
Kutunggu derai deras air matamu
Melihatku dipangkuan penuh nista
dengan seluruh pandangan
yang terpaku yang terpaut di hari-hari kepedihan
Subang, 08 April 2020.
Pagar- pagar tinggi
Di antara pagar-pagar yang tinggi
Kumelihat senyum yang terapung
Dijerat renung
Tak terungkap
Digurat oleh rasi-rasi gemintang
Menghampiri jiwa yang terlampir dari hati sanubari
Di rumah tempat berlomba dahaga
Patahnya wajah-wajah tanpa laga
Menimba rasa sunyi dalam hati
Patuh pada yang sedang menepi
Di atas bumi meratap
Antara pergi dan menetap
Ada yang harus mati ketika aku terlelap
Ketika aku keluar dari selembar atap
Terlindung dari dirundung pilu
Tetap berkemah
Menunggu wabah ini pergi dari rumah
Subang, 08 April 2020

