Bagian Pertama
Hujan jatuh di awal bulan Agustus
Burung-burung kecil hendak keluar
Mencari makan, hujan melebat.
Persediaan tinggal sedikit, malam
Ini adalah makanan terakhir
Setelah gelap tiba, hujan mereda
Mereka tidak bisa keluar, jam malam
Diberlakukan untuk semua penghuni hutan
Tiba-tiba para penjaga hutan mengabarkan
Bahwa besok hutan akan ditutup
Kurang lebih selama seminggu
Burung kecil yang tidak punya makanan
Kebingungan, besok apa makan?
Bagian Kedua
Hutan telah ditutup selama beberapa hari
Semua kegiatan ditiadakan
Burung kecil terpaksa keluar sarang
Ia hendak cari makan
Seadanya, asal keluarganya tidak
Kelaparan
Pepeohonan telah dipenuhi baliho,
Spanduk dari calon-calon raja
Hutan. Padahal pemilihan baru
Akan berlangsung tiga tahun dari sekarang
Mereka sudah ribut duluan, meski hutan
Sedang kalut tak karuan
Bagian Kelima
Di masa sulit seperti sekarang ini
Keadilan menjadi barang yang sangat langka
Kalaupun ada, harganya sudah tidak masuk akal
Dan tidak ramah di kantong rakyat biasa
Lebih lagi, Cina tidak bisa niru produk lokal
Karya anak bangsa satu ini, sehingga di pasaran
Keadilan adalah barang yang sekarang paling sulit dicari
Misal suatu saat nanti stok keadilan sudah banyak
Di pasaran dan dijual dengan harga tidak sampai ratusan
Ribu, syarat dan ketentuan tetap berlaku
Bagian Ketujuh
Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati
Air matanya berlinang, emas intannya terkenang
Hari ini Ibu Pertiwi ulang tahun
Tidak ada pesta atau perayaan seperti biasa
Ibu Pertiwi sedang tidak enak badan
Di usianya yang menginjak 76 tahun,
Ia perlu banyak makan bergizi dan olahraga
Supaya tidak gampang tumbang dan
Diserang meriang
Ibu pertiwi sempat tersenyum, kala
Anaknya, Indonesia Raya, berkumandang
Di Negeri Sakura. Merah Putih berkibar
gagah, sakral, penuh air mata
Sebuah kado terindah dari Putra
Putri terbaik Bangsa. Meski kemudian
Ia masih harus tetap melanjutkan sakitnya
Lekas pulih, Ibu pertiwi
Hutan, Gunung, Sawah dan Lautan
Tak hentinya berdoa, agar engkau
Selalu senantiasa berbahagia
Selamat ulang tahun, panjang umur
Hebat selalu
1- 10 Agustus, 2021
*Raeditya Andung Susanto, penyair kelahiran Bumiayu Brebes. Sedang menyelesaikan studinya di Cikarang, Bekasi. Anggota Bumiayu Creative City Forum (BCCF). Penulis puisi anak Balai Bahasa Jawa Tengah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku pertamanya berjudul, Sorai (FAM Publishing, 2019).

