“Pemimpin itu harus siap dilupakan, harus siap tidak ditulis, harus siap dengan risiko.”
Itu salah satu yang disampaikan KH Mohammad Shalahuddin A Warits, saat mengisi Leadership Training dua hari yang lalu.
Tapi, anda tahu, sebagaimana yang juga diungkap beliau, sering kali pemimpin yang seperti itulah yang dikenang oleh sejarah, yang memiliki prestasi gemilang.
Untuk kasus Indonesia, beliau mencontohkan yang memiliki karakter pemimpin seperti itu adalah almarhum KH Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan sapaan Gus Dur.
Saya menjadi pendamping beliau (semacam moderator) di acara itu. Saya sangat berterima kasih kepada Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Putri Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep periode 2020-2021 yang mengundang saya untuk mendampingi beliau.
“Bagi pemimpin, problem itu solusi. Tapi bagi pimpinan, problem itu adalah rintangan dan halangan,” kata beliau lagi.
Beliau memang membedakan antara pimpinan dan pemimpin atau antara manager dan leader.
Atau antara Pemimpin sejati dan yang tidak.
Dari pembedaan itu saya jadi tahu bahwa pimpinan itu sekadar jabatan. Pemimpin itu adalah orang yang memiliki mental dan sikap kepemimpinan.
Seperti apakah mental dan sikap kepemimpinan itu?
Ra Mamak menjelaskan lebih jauh mental dan sikap pemimpin dan pimpinan itu.
“Pemimpin itu punya inisiatif,” jelasnya. Beliau kemudian membedakan dengan Pimpinan yang hanya melaksanakan tugas secara prosedural.
Pemimpin bisa jadi tidak mengikuti prosedur. Justru akan melampaui prosedur jika itu diyakini lebih baik.
Kata lain dari Kiai Mamak, “Pemimpin atau leader itu melakukan segala sesuatu dengan keputusan dan tindakan yang tepat dan benar. Sementara, Pimpinan atau manager melakukan dengan benar.”
Artinya, Pemimpin melangkah dengan ikhtiar yang matang. Sedangkan Pimpinan seperti robot yang berjalan sesuai perintah sang pemegang remote.
KH Mohammad Shalahuddin A Warits adalah salah satu putra mendiang KH A Warits Ilyas, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk. Kiai Warist selain terkenal sebagai ulama juga terkenal sebagai politisi yang ulung dan bersih.
Kiai Mamak lahir 1982. Masih muda. Sekolah MI dan MTs-nya diselesaikan di Annuqayah. Lalu melanjutkan ke Tebuireng Jombang untuk menamatkan pendidikan MAK.
Kemudian terbang ke Universitas Al-Azhar Kairo di Mesir. Setelah itu, setelah di Indonesia lagi beliau kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Masih kurang, masuk lagi Universitas Indonesia Depok. Masih kurang lagi, belajarlah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
“Saya pernah belajar kepemimpinan di 19 organisasi di waktu bersamaan,” kata beliau menceritakan pengalamannya di organisasi termasuk pernah menjadi wartawan, sebagai pimrednya, membesarkan sebuah surat kabar.
Kembali ke soal sikap pemimpin.
Kata Kiai Mamak lagi, pemimpin itu memiliki visi yang panjang, yang berguna tidak hanya pada saat ini, tapi juga untuk masa depan, untuk kalangan masyarakat luas yang dipimpinnya, pun untuk anak dan cucunya.
Pimpinan beda lagi. Kiai Mamak menyebut pimpinan itu hanya fokus pada profit jangka pendek dan untuk golongan atau kelompoknya sendiri, serta demi keselamatan dirinya sendiri.
Penjelasan itu menarik. Setidaknya bagi saya. Rupanya kita butuh pemimpin, bukan pimpinan. Sebab, yang terakhir ini, kata Kiai Mamak, tidak memiliki inisiatif, tidak memiliki keberanian, tidak berani mengambil risiko, dan yang penting berjalan sesuai prosedur.
Karena itu, “Pemimpin lahir tidak dengan sendirinya,” ungkap beliau lagi. Ia lahir dalam sebuah sistem sosial yang memang potensial untuk melahirkan seorang pemimpin.
Tapi pimpinan bisa lahir kapan saja, bahkan di tengah masyarakat yang tidak menghendakinya.
Kenapa bisa begitu?
Jawabannya, kata Kiai Mamak, bisa jadi karena masyarakatnya bermental Pimpinan, sehingga tidak bisa melahirkan seorang Pemimpin.
Tapi Kiai Mamak memberikan solusi agar bisa melahirkan seorang pemimpin. Solusinya, kita harus bersama-sama berlatih menjadi seorang pemimpin, dalam kehidupan sehari-hari. Meninggalkan kebiasaan sebagai pimpinan.
Jika Pemimpin itu: punya sikap peduli, bertanggung jawab, berani mengambil risiko, berani menderita, punya kemampuan menanggung masalah, punya inisiatif jangka panjang, siap untuk dilupakan, dan sikap kepemimpinan yang lain, maka inilah yang diterapkan dalam kehidupan keseharian kita.
Baik dalam kehidupan pribadi.
Baik dalam keluarga.
Pun dalam kehidupan sosial-politik dan lainnya.
Terlebih, kata Kiai Mamak -mengutip Al-Qur’an-, kita memang dilahirkan sebagai Khalifah (Pemimpin) di muka bumi.
Sikap kepemimpinan itulah, apabila sudah tertanam dalam diri masing-masing orang, sudah mendarah-daging, baik pada laki-laki maupun perempuan, maka akan sangat mudah melahirkan seorang pemimpin.
Jika begitu, kata saya di detik-detik terakhir acara, di hadapan peserta yang mendapat motivasi kepemimpinan ini, mari kita biasakan menjadi seorang pemimpin, hingga terbangun mental dan sikap seorang pemimpin, sehingga kelak akan lahir pemimpin sejati dari bagian kita.
Pemimpin sejati memang masih sangat kita butuhkan. Untuk kemakmuran. Ini perlu latihan. Sebab, menjadi Pimpinan tidak perlu latihan. Mungkin cukup tahu cara membagi-bagikan “roti.”
*) Tulisan ini diambil dari akun Facebook Masykur Arif, Dosen Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk dan sudah atas ijin yang bersangkutan untuk dimuat di NU Online Sumenep.

