Image Slider

Sentra Batik Tulis Al-Barokah, Bintang Industri Batik di Madura

Bluto, NU Online Sumenep

Berbincang dengan Taufan Febriyanto, Jumat (28/01/2022) sang pemilik Toko Sentra Batik Tulis Al-Barokah di Pakandangan Barat, Bluto yang jadi salah satu bintang dalam industri batik Madura. Taufan yang juga seperti lelaki Madura lainnya, gemar bersarung, kini berkolaborasi dengan sedikitnya 60 pengrajin yang rutin memasok hasil karyanya ke toko yang ia sebut galeri.

Selain itu, ada pula 5 orang perajin batik yang setiap hari bekerja di rumah produksinya. Lazimnya warga Madura, bangunan toko Taufan ditandai pilar-pilar besar dengan gaya atraktif. Jika pengunjung masuk ke dalam, sedikitnya 10 ribu lembar kain batik, hingga yang telah dijahit menjadi kemeja atau pun gaun yang terpajang rapi. Pastinya pengunjung akan betah, pasalnya mereka tak buru-buru beranjak pulang, karena mereka akan menikmati waktu untuk lesehan di karpet sambil menikmati motif-motif yang ada, serta meraba permukaannya yang halus, sambil mengobrol dengan sang pemilik yang masih turun tangan langsung melayani pembeli.

Ada air putih yang tersedia gratis, sehingga bisa mengeksplorasi secara tak berbatas. Dengan pelayanan yang hangat kendati pembeli melakukan aksi bongkar sana, bongkar sini. Kain-kain batik itu sebagian dilipat, namun ada pula yang dipajang per lembar. Tak akan ada batik yang sama di sini, karena buatan tangan, maka setiap gambar yang tersaji akan berbeda.

“Di sini tidak ada limit harga, jadi boleh menawar, sambil ngobrol, lebih enak kan,” kata Taufan yang setiap harinya menerima pasokan 50 hingga 100 lembar kain dari para perajin yang jadi mitranya.

Istilah limit harga itu, lanjutnya, ketika ditelisik lebih jauh, ternyata bermakna, tak ada banderol yang disematkan pada batik, sehingga mau tak mau harus ada perbincangan saat pembeli menaksir kain yang menarik hatinya. Makna lainnya dari limit itu, harga yang ditawarkan sangat beragam, mulai Rp75 ribu hingga Rp10 juta per lembar.

“Pekerja dari rumah maupun yang kerja di tempat saya notabene dari kalangan ibu-ibu, pasalnya batik sudah jadi tumpuan hidup warga di sini, Mereka sangat produktif. Karena itu pula, harga di sini bisa terjangkau,” kata Taufan.

Dirinya menyebutkan bahwa pemacu utama batik Madura adalah semuanya tulis, karena tak dikenal tradisi batik cap di sana, murah. Wajar ongkos tenaganya yang kompromis.

Tentunya, tambahnya, itu juga terkait dengan corak motifnya yang tingkat kehalusannya berkorelasi dengan harga. Pada batik puluhan ribu rupiah, motifnya cenderung tak banyak variasi, hanya saja terdapat manik-manik dengan aksen coletan. Sementara, pada batik tulis dengan kisaran jutaan rupiah, teknik mencanting, melorod malam, dan mewarnainya jauh lebih halus dan presisi.

Taufan menyebut, dari batik, sedikitnya para perajin bisa mengantongi sedikitnya Rp1,2 juta perbulan. Sebagian karya-karya mereka, sebanyak 25 persen, dikirim ke berbagai kota di penjuru Indonesia.

“Saya tidak buka toko online, jadi pesanan itu datangnya lewat WhatsApp. Untuk promosinya lewat Facebook. Di sanalah kami pajang foto-foto disitu, mulai dari harga yang murah hingga yang mahal. Tapi sebagian besar pemesan itu, sebelumnya pernah datang ke sini, ngobrol-ngobrol lalu lanjut pemesanan dan dikirim. Sekarang kami rutin kirim ke Jakarta dan kota-kota besar lain, sebagian besar mereka pedagang juga,” ujar Taufan sembari menegaskan.

Dirinya yakin bahwa batik Madura akan senantiasa eksis dengan pembeda utamanya, yakni warna-warna mencolok dan terang, sehingga terkesan muda dan segar. Karakter itu pun berkorelasi dengan gaya para perempuan pulau itu yang menyukai baju dan kosmetik berwarna meriah, mengesankan kehangatan pun nyalinya yang tak bisa diremehkan.

“Sebanyak 75 persen penjualan masih dari pembeli yang datang langsung ke galeri, baik itu pembeli eceran maupun untuk dijual lagi, tapi semuanya sama, kita ajak ngobrol dulu biar suasananya enak,” ucap Taufan yang di Facebook-nya memajang fotonya bersama para pesohor yang bertandang ke tokonya.

Ia menceritakan bahwa banyak tamu yang datang. Mulai Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur, pesinetron Okan Cornelius, komentator sepakbola Valentino ‘Jebret’ Simanjuntak hingga Wury Estu Handayani.

Satu dekade merintis bisnis berbasis kultur lokal, batik yang telah jadi tumpuan hidup antar generasi, Taufan bukan pemain tunggal. Ia berdampingan dengan pebisnis lainnya. Dirinya sukses menjadi salah satu rekomendasi utama toko batik di Pakandangan, karena pendekatan khasnya pada para pembeli.

Kolaborasi berbuah pengembangan usaha bermodal jejaring bisnis yang terjalin organik, Taufan kini menjadi salah satu nasabah Bank Jatim. Ia kini tengah membangun penginapan tiga lantai di Pakandangan, di atas lahan sedikitnya 200 meter.

Tamu yang diharapkan menginap, sebagian adalah pelancong pecinta batik yang ingin menjelajah lebih intens, menikmati proses kerjanya, menorehkan malam, mencoret, hingga berlama-lama berburu motif terbaik.

“Kalau galeri dan restoran sudah ada, jadi mau bangun penginapan. Biaya pembangunannya dibantu oleh Bank. Hubungan yang baik itu penting, dengan pembeli, Bank, dan dinas-dinas di sini untuk memajukan usaha kita dan keberadaan batik Madura ini,” jelas Taufan yang mengandalkan portofolionya sebagai pengusaha dalam mengajukan kredit.

Bukan cuma galeri batiknya yang makin tersohor, pertambahan jenis usaha dan kepercayaan pihak Bank, diraih Taufan dengan jurus utama, ngobrol-ngobrol sambil lesehan. “Jika penasaran, silahkan berkunjung ke tempat kami. Dijamin tidak mengecewakan,” tandasnya.

Editor: Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga