Image Slider

Menyelisik Kemandirian Santri di Pesantren

Oleh: Lukmanul Hakim

Pendidikan adalah suatu bentuk kegiatan yang dapat menjadikan seseorang untuk mencapai tujuannya dan tahu akan arti dari kehidupan. Pendidikan itu bermacam-macam, salah satunya yaitu pendidikan pesantren. Orang sering menyebut pesantren yaitu dengan mondok.

Pondok pesantren menurut M. Arifin (1991) berarti, suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitarnya, dengan sistem asrama (pemondokan di dalam komplek) di mana santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya di bawah kedaulatan kepemimpinan seseorang atau beberapa orang kiai.

Pada masa sekarang pendidikan pesantren sangatlah dibutuhkan dalam kemajuan bangsa Indonesia. Karena sistem pendidikan yang ada di pesantren tidak hanya mengajarkan masalah agama saja, melainkan sosial, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Dari segi keagamaan sudah jelas membahas mengenai masalah agama, dimulai ibadah di dunia sampai alam akhirat.

Pendidikan pesantren mengajarkan individu kapan harus bersikap baik dan kapan bersikap tidak baik. Pendidikan pesantren tidak kalah saing dengan pendidikan sekolah dan perguruan tinggi atau universitas.

Dalam pendidikan pesantren, individu bisa mempraktikkan ilmu yang didapat, yaitu melalui adaptasi dengan warga masyarakat sekitar dan beradaptasi dengan sesama santriwan-santriwati yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Dari pendidikan itu, mempermudahkan santri untuk berinteraksi dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Karena di pesantren sudah diajari untuk taat kepada kiai dan peraturan serta menghargai pendapat satu sama lain. Dari pendidikan pesantren juga bisa menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah Indonesia.

Kesenjangan dalam bidang pendidikan, baik antar daerah maupun antar kelompok masyarakat, merupakan ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Terdapat dua jenis kesenjangan dalam pendidikan yaitu dalam pelayanan dan kualitas. Kesenjangan dalam pelayanan dapat diatasi dengan pemetaan secara rinci tentang ketersediaan dan keterjangkauan layanan pendidikan, misalnya kesenjangan antara madrasah dan sekolah umum; dibuat prioritas dalam penganggaran dan perlakuan baik antardaerah maupun antara sekolah umum dam madrasah; dan pemetaan ini harus dilaksanakan oleh lembaga profesional yang independen.

Karena dari itu, dengan adanya pendidikan dalam pesantren menjadikan perubahan untuk negara Indonesia. Dengan kreativitas dan ide-ide yang dimiliki seorang santri membantu untuk memajukan perubahan negara. Karena pemuda sekarang harus memiliki jiwa cinta tanah air, dan selalu yakin Indonesia adalah negara yang tidak akan pernah mundur. Seperti yang di katakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), “Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan, asalkan yakin di jalan yang benar.”

Di dalam pendidikan pesantren juga memiliki kegiatan yang menjadi rutinan, yaitu adanya sorogan, bandongan, bahtsul masail, dan metode klasik serta metode kekinian. Selain itu, para kiai juga mengajarkan santrinya untuk bersikap sederhana dan juga mengajarkan untuk mengenal sejarah, salah satunya yaitu sejarah mengenai tokoh-tokoh pahlawan Islam, pahlawan nasional. Dari adanya pendidikan itu maka sedikit demi sedikit muncul Kemandirian pada santri.

Santri terdidik dengan sikap kemandirian, di mana salah satu ciri dari orang-orang sukses adalah memiliki jiwa yang mandiri. Seperti yang dikatakan dalam hadits: “Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).

Seharusnya dunia ini dikuasai oleh yang kuat dan memiliki akhlakul karimah, supaya mencapai kedamaian dan ketertiban. Kemandirian santri itu terkenal dengan pengabdiannya, yaitu pengabdian terhadap kiai.

Selain itu, kemandirian seorang santri bisa dilihat dengan kesederhanaannya, kebersamaannya dalam gotong royong dan solidaritas. Gotong royong dan solidaritas merupakan modal utama bagi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dengan gotong royong itu pula, antara kiai, santri, dan tokoh bangsa yang lain bersatu mengalahkan kolonialisme. Maka dari itu, jangan heran jika santri memiliki kemandirian yang kokoh, sebab mereka mengikuti nasihat kiai dan sistem di pesantren.

*) Wisudawan Terbaik Instika Guluk-Guluk Tahun 2021, Mahasiswa Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga