Oleh: Lukmanul Hakim
Sejarah telah mencatat bahwa kaum santri bukanlah kaum puritan dan pinggiran. Kaum santri menjadi pelopor dari setiap fase perubahan bangsa. Santri dalam dunia pendidikan Islam telah mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, dari coraknya yang asli, konservatif, klasik, ke modern, dan adaptif.
Eksistensi kaum santri dalam maraknya sekolah (umum) versi Belanda, telah menjadi catatan bersama, bagaimana prinsip kesantrian dapat langgeng dalam zaman apapun. Kaidah klasiknya adalah “Memelihara konsep lama yang relevan tanpa mengabaikan konsep baru yang lebih baik.” Dengan prinsip ini dan prinsip Islam secara umum, kaum santri dapat selalu aktif dan dinamis dalam menyikapi perubahan zaman, baik secara ideologi apalagi secara teknologi.
Secara prinsipil santri merupakan sebutan bagi pribadi yang mendalami agama Islam dengan sumber sumber yang autentik dan tidak menyebelahi realitas kebudayaan yang berubah. Dari hal tersebut, kehidupan santri yang sejuk dan egaliter itu diuji. Adapun kepatuhan normatif pada kiai dan ustaz adalah kaidah lain dengan landasan sendiri dalam tradisi Islam.
Dalam kaitan ini, saat memasuki era 4.0, sejatinya kaum santri telah mempertimbangkan kelengkapan skill berbasis digital dan ekonomi-industri serta menjawab persoalan persoalan baru dengan tepat.
Ini sebagai dasar awal untuk menghadapi gelombang masyarakat 5.0 yang lebih terkoneksi, dinamis, tanpa sekat dan rentan terhadap intrik-intrik kepentingan jangka pendek.
Pada fase ini, industrialisasi dan kapitalisasi sumber daya menjadi bagian kerja ekonomi yang paling besar. Termasuk pelayanan jasa berbasis digital dan rentan terhadap paham konsumerisme, hedonis, dan apatis.
Sehingga kaum santri tidak hanya bertanggung jawab terhadap kesiapan dirinya secara personal, namun menjadi penyeimbang dan sekaligus katalisator kearifan masyarakat dalam menghadapi zaman yang semakin terbuka.
Adapun langkah yang harus ditempuh oleh santri di era revolusi industri ini yaitu, tidak boleh gagap terhadap laju kebudayaan industri dengan segala baik-buruknya. Kurikulum kepesantrenan juga mesti memuat serangkaian program yang mengarah pada suatu kemandirian ekonomi kreatif yang dituntut di level 5.0.
Diharapkan, kaum santri tidak hanya sebagai penjaga gawang keautentikan ajaran Islam berdasarkan sanad keilmuan, namun sekaligus menjadi sentra pribadi yang produktif dan penggerak perbaikan di masyarakat dengan tantangan tantangan yang baru, baik pada segi politik, sosio-ekonomi dan teknologi.
Di samping itu, santri di masa ini pun harusnya berevolusi menjadi santri 5.0. Maksudnya, santri yang merupakan sosok pemuda agamis, gemar berdakwah menyebar kebaikan hendaknya sudah memanfaatkan teknologi yang sesuai di zaman ini.
Mengingat di masa perkembangan teknologi ini banyak sekali dampak negatif yang diberikan. Oleh sebab itu, menurut penulis sudah waktunya muncul santri 5.0 membawa kabar baik untuk para pemuda-pemudi Indonesia supaya menjadi pribadi yang memegang suri tauladan Nabi Muhammad SAW.
Pesantren-pesantren di Indonesia kini telah banyak menerapkan pola yang modern dalam segala kegiatan para santri. Mulai dari pembelajaran komputer, desain grafis, majalah, buletin, dan sebagainya. Selain itu penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Arab dalam kegiatan belajar mengajar juga mendorong para santri menjadi individu yang melek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Pengajaran berpola modern diharapkan dapat membuat para santri bisa beradaptasi di luar, terlebih di lingkungan kerja. Label ‘santri jadul’ pun sekarang sudah selayaknya diganti ‘santri 5.0’, sosok baik dengan daya pikir maju tanpa menghilangkan hukum-hukum agama Islam yang berlaku.
Dengan adanya pembelajaran bahasa asing, diharapkan para santri dapat berdakwah secara nasional maupun internasional, supaya semua orang di dunia dapat memahami apa yang sampaikannya.
Terlebih saat ini sudah banyak platfrom media sosial yang bisa digunakan santri sebagai media dakwah menyebar kebaikan, contohnya WhatsApp, Instagram, Facebook, dan YouTube. Dengan adanya platfrom ini diharapkan dapat menyebarkan kebaikan secara luas, bahkan di seluruh dunia.
Bicara di Indonesia, penulis sendiri sudah melihat banyak perkembangan santri dalam pemanfaatan IPTEK, hal ini dapat kita lihat di YouTube. Sudah banyak santri yang berdakwah dengan membuat video pembelajaran tentang Islam, dan video tentang cinta pada Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Tentu ini setidaknya dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas tentang arti penting kebaikan beragama yang dikemas semenarik mungkin dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. Teknologi adalah pisau bermata dua, sedang santri adalah pembungkus pisau itu sendiri.
*) Wisudawan Terbaik Tingkat Institut di Instika Guluk-Guluk Tahun 2021, Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

