Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Merujuk kepada hadits dari Imamah Jibril, awal waktu shalat erat kaitannya dengan fenomena matahari, seperti momen zawal, panjang benda, matahari terbenam, mega merah dan terbit fajar shadiq. Itu artinya, waktu shalat erat kaitannya dengan posisi matahari.
Hal itu disampaikan langsung oleh Ustaz Fathor Rozi saat mengisi materi ‘Hisab Awal Waktu Shalat’ dalam kegiatan Pelatihan Ilmu Falak dan Kaderisasi Ulama Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh pengurus Lajnah Falakiyah (LF) Annuqayah Putri Guluk-Guluk pada Rabu (23/02/2022) di Aula Madrasah Tsanawiyah 1 Putri Annuqayah.
“Seiring berkembangnya zaman, posisi matahari tersebut dapat dihitung dengan formula-formula yang dirumuskan oleh Ilmu Falak. Misalnya, awal waktu Dhuhur ditandai dengan peristiwa tergelincirnya matahari (zawal). Nah, peristiwa tersebut dapat ditentukan waktunya dengan Ilmu Falak,” tegasnya.
Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur ini mengungkapkan dalam menghitung awal waktu salat memerlukan data koordinat tempat (lintang, bujur, dan tinggi tempat) dan data matahari (deklinasi dan Equation of Time/perata waktu).
“Data-data tersebut kemudian diproses dengan ilmu hitung yang formulanya menggunakan rumus-rumus trigonometri (sin, cos, tan),” ungkap alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini.
Pengurus Bidang Hisab Rukyat (BHR) LFNU Sumenep ini juga memaparkan penentuan awal waktu shalat perspektif ilmu Fikih dan ilmu Falak.
“Waktu Dhuhur dimulai saat matahari tergelincir (zawal), yaitu sesaat setelah seluruh piringan matahari melewati titik meridian pengamat dan berakhir ketika waktu shalat ashar tiba, waktu Ashar dimulai saat panjang bayangan waktu zuhur (zawal) ditambah tinggi benda dan berakhir setelah piringan matahari terbenam di ufuk mar’i,” terangnya.
Tak hanya itu, waktu Maghrib dimulai setelah piringan matahari terbenam di ufuk mar’i dan berakhir ketika pengaruh cahaya matahari sudah terlihat. Ditandai dengan hilangnya warna merah. Untuk waktu Isya’ dimulai ketika pengaruh cahaya matahari saat terbenam sudah tidak terlihat. Ditandai dengan hilangnya warna merah di ufuk barat dan berakhir setelah terbit fajar. Sedangkan waktu Subuh sejak terbit fajar dan berakhir ketika terbit piringan atas matahari.
Alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu juga menjelaskan kepada para peserta mengenai cara perhitungan awal waktu shalat Dhuhur, shalat Ashar, shalat Maghrib, shalat Isya’, shalat Shubuh, dan waktu Syuruq. Ia juga menambahkan tentang cara memperoleh awal waktu shalat melalui aplikasi.
“Lebih mudah dengan menggunakan aplikasi program Win Hisab yang dibuat oleh Kementerian Agama RI,” tambahnya.
Di akhir penjelasannya, Alumni MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk ini berharap agar para peserta memahami betul dan tidak menganggap sepele hal-hal yang berkaitan dengan awal waktu shalat.
“Sikap tidak hati-hati dalam penentuan awal waktu shalat mengakibatkan batalnya berbagai macam bentuk ibadah yang kita lakukan,” pungkasnya.
Di kesempatan yang sama, Ketua LFA Putri, Windha Lusiani juga berharap kepada para peserta pelatihan yang berjumlah 40 orang agar mampu menyerap materi yang telah disampaikan.
“Harapan kita dengan telah diselenggarakannya kegiatan pelatihan hisab awal waktu shalat ini, para peserta mampu menyerap dan memahami materi yang telah diberikan serta dapat mensosialisasikan dan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di masyarakat. Setidaknya untuk penentuan awal waktu shalat, para peserta sudah mampu melakukannya sendiri,” tandasnya.
Editor : Ach. Khalilurrahman

