Image Slider

LKKNU Sumenep Ungkap Dampak Negatif Penggunaan Gawai pada Anak

Ambunten, NU Online Sumenep

Nunung Fitriana, Pengurus Bidang Konseling Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Sumenep menegaskan, waktu pemakaian gawai yang tidak teratur pada anak, akan memberikan dampak adiksi.

Disebutkan, dampak besar itu antara lain: anak mengalami keterlambatan bicara dan bahasa, anak menjadi malas bergerak, berkurangnya perhatian anak, perkembangan otak anak ke arah yang negatif, menimbulkan masalah dalam belajar, tidak bisa bersosialisasi  dengan baik, menyebabkan depresi masa anak-anak, dampak negatif pada karakter, berpotensi menjadi korban predator dan bullying di dunia digital, menimbulkan rasa cemas, gelisah dan khawatir.

“Di usia 0-2 tahun anak jangan terpapar gadget. Di usia 3-5 tahun anak boleh menggunakan gadget untuk program edukatif dengan pendampingan orang tua, maksimal 1 jam sehari. Di usia 6 tahun ke atas, anak boleh diberikan gadget untuk program edukatif dan orang tua harus tahu apa yang ditonton, maksimal 2 jam sehari,” terangnya saat mengisi Seminar Digital Parenting yang dihelat oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Ambunten, Ahad (19/03/2023).

Secara faktual, lanjutnya, 70 persen orang tua memberikan gadget pada anak (6 bulan – 4 tahun) ketika orang tua sibuk. 65 persen orang tua memberikan gadget pada anak untuk menenangkan di tempat umum. 25 persen orang tua meninggalkan anak sendirian dengan gadget menjelang tidur. 94 persen anak usia Taman Kanak-kanak (TK) sudah biasa menggunakan gadget.

“Cara ini menunjukkan sikap yang kurang baik. Karena tidak bisa mengurangi anak bermain gadget. Kendati sudah tahu pengaruh negatifnya, orang tua masih kurang sadar, padahal bermain gadget setiap hari terus meningkat,” ungkapnya pada audien yang berpusat di Gedung KH Hasyim Asy’ari Tambaagung Barat, Ambunten.

Untuk mengatasi problem ini, Nunung memberikan 9 tips pencegahan agar anak tidak kecanduan gadget, antara lain: batasi durasi penggunaan gadget, jadwalkan dan sepakati penggunaan gadget, beri akses terbatas penggunaan gadget, tetapkan wilayah bebas gadget, ajarkan pentingnya menahan diri menggunakan gadget.

Dilanjukan, buat anak sibuk bermain selain gadget, jangan jadikan gadget sebagai babysitters, jangan gunakan gadget untuk menenangkan anak, dan beri teladan penggunaan gadget di lingkungan keluarga.

Wanita yang juga menjabat sebagai Bidang Pendidikan di Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Sumenep ini mengingatkan pada orang tuan bahwa kekerasa digital bisa terjadi di mana saja. Bahkan anak yang berdiam diri di rumah, belum tentu tidak terdampak kekerasa digital.

Oleh karenanya, penting bagi orang tua lebih cerdas mengawal dan mendampingi anak. Apalagi sekarang musim liburan santri. Orang tua harus lebih intens melakukan pendampingan dan pengecekan tontonan anak di musim liburan pesantren.

Dalam sudut pandangnya, peran kehadiran orang tua menjadi penting saat anak memegang gagdet. Tidak hanya hadir secara fisik, tapi benar-benar membersamainya. Menjaga kualitas kebersamaan, tetap lebih bagus dari pada kuantitas.

“Ibu yang baik adalah ibu yang bisa memberikan kebersamaan yang berkualitas terhadap anak meskipun hanya dalam waktu yang singkat,” tandasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga