Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*
Kita buat istilah sendiri higienisasi untuk menggambarkan kata kerja dari higienitas atau higiene dalam Bahasa Inggris. Kata kerjanya yaitu to hygienize atau hygienise yang saya bahasakan higienisasi. Kita sering menyepelekan sesuatu yang kecil padahal dampaknya besar.
Ya seperti kebersihan misalnya atau saya bahasakan higienitas dan ini diakui dan tidak menjadi salah satu kelemahan kita dari komunitas lain.
Padahal higienitas atau hidup bersih itu menjadi pilar utama hidup ini dan itu menjadi ajaran Islam dan karakter dalam ber-NU.
Higienitas atau higiene dalam KBBI adalah ilmu tentang kesehatan dan berbagai usaha untuk mempertahankan atau memperbaiki kesehatan. Sementara dalam Oxford Learner’s Dictionaries disebutkan bahwa hygiene adalah praktik menjaga diri sendiri serta tempat tinggal dan tempat kerja agar tetap bersih untuk mencegah penyakit. Terus terang saya lebih suka dengan definisi ini.
Higienisasi NU
Higienisasi NU yang dimaksud di sini adalah untuk membuat Jam’iyah Nahdhatul Ulama menjadi higienis, bersih, dan bebas dari kuman, bakteri, atau kotoran.
Higienitas NU bukan hanya sekadar kebersihan dalam bentuk fisik, melainkan juga bagian integral dari konsep keimanan. Bukankah kita sering dengar dan lihat ungkapan populer baik yang terpampang di dinding-dinding pesantren ataupun di beranda-beranda media sosial kita.
النظافة من الإيمان
Artinya: “Kebersihan sebagian dari iman.”
Walaupun ada yang meragukan ini sebagai hadits Nabi, tapi maknanya sejalan dengan hadits seperti:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
Artinya: “Bersuci adalah separuh dari iman.”
Atau selaras juga dengan hadits Nabi:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan.”
Secara konseptual masalah higienitas di NU kita sudah selesai, tapi implementasinya masih belum, paling tidak belum sempurna.
Ya belum sempurna minimal menurut pandangan saya dan insyaallah juga anda.
Di NU – saya lebih khusus bicara di NU – konsep higienitas itu lebih sempurna karena bukan saja bicara masalah higienitas secara kasat mata tapi lebih dari itu adalah suci.
Kesucian merupakan pondasi tak terpisahkan antara personal higienis dan impersonal higienis karena termasuk syarat mutlak (syarat sah) kita dalam melaksanakan ibadah. Sederhananya bersih belum tentu suci, tapi kalau suci sudah pasti bersih.
Higienitas lebih pada hilangnya kotoran secara kasat mata seperti bebas dari kuman dan bakteri.
Sementara suci membutuhkan penyucian dari najis atau hadats. Pakaian yang higienis tapi cara pembersihannya dengan detergen dan tidak dibilas dengan air mengalir untuk menghilangkan najis misalkan (seperti air kencing), maka tetap dihukumi najis, meskipun wangi dan tampak bersih.
Ini menunjukkan higienitas di Islam itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun demikian, praktiknya belumlah dikatakan sempurna.
Higienisasi NU di sini lebih pada Impersonal Hygiene (Kebersihan Lingkungan/Sanitasi). Sementara Meng-NU-kan Higienitas lebih pada personal hygiene.
Nah, dalam diskusi impersonal hygiene saya tertarik dengan hadits di atas (ان الله جميل يحب الجمال). Makna جمال itu kalau di lihat dalam kamus “Lisan al-Arab” karya Ibn Mandhur, didefinisikan sebagai keanggunan, kemegahan, dan kemurnian baik penampilan maupun karakter.
Ini mencakup keindahan lahiriah dalam bentuk dan penampilan fisik, serta keindahan batiniah dalam akhlak dan tindakan. Ia juga dikaitkan dengan makna komitmen, kesabaran, dan kesempurnaan, dan digunakan untuk mengekspresikan perhiasan dan kehalusan.
Dari definisi di sini kita bisa mengetahui bahwa higienitas impersonal lebih pada estetika dan etika. Kalau ini dikaitkan dengan bangunan fisik maka gedung-gedung NU mulai dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU, PRNU dan PARNU, lemba-lembaganya maupun Banom NU mulai tingkat pusat sampai ke bawah harus memperhatikan estetika bangunan.
Tidak harus megah asal kelihatan estetik. Apalagi megah, moderen dan estetik, maka itu akan lebih keren.
Tampilan fisik sebuah bangunan dan estetikanya merupakan identitas visual, landmark (penanda) dan karakter lembaga tersebut. Ia juga merupakan salah satu bentuk branding fisik (tangible branding) yang paling kuat bagi sebuah lembaga, institusi, atau perusahaan.
Arsitektur dan estetika gedung bukan sekadar wadah mati yang difungsikan, melainkan media komunikasi visual yang hidup yang membentuk persepsi publik secara langsung.
Begitu juga dengan warna dan aksesorisnya yang tak boleh berubah karena itu memiliki filosofi tersendiri dan sebagai penanda visual (visual anchor) yang membantu meningkatkan daya ingat masyarakat terhadap lembaga . Ini yang perlu diperhatikan di NU.
Impersonal hygiene atau bisa juga disebut enviromental higiene dalam NU yang mencakup pengertian جمال dalam Islam adalah bagaimana NU sebagai jam’iyah menginterpretasikan dan menjaga lingkungan yang bersih dan aman dengan mengendalikan bahaya seperti kuman, limbah, dan polusi untuk mencegah timbulnya penyakit dan meningkatkan kesehatan.
Hal ini meliputi pembersihan rutin, pengelolaan limbah/air yang tepat, dan pengendalian kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit.
Sebisa mungkin ini menjadi kampanye rutin yang selalu didengungkan dalam setiap saat dan keadaan. Higienisasi NU harus menjadi gerakan bersama antara jam’iyah dan jama’ahnya.
Meng-NU-kan Higienitas
Meng-NU-kan Higienitas di sini adalah proses menjadikan cara pandang dan pola hidup higienis bagi jam’iyah dan jama’ah NU.
Kalau higienisasi NU mengarah pada impersonal hygiene atau enviromental hygiene, maka Meng-NU-kan Higienitas adalah mengarah pada personal hygiene .
Personal hygiene adalah tindakan kebersihan yang dilakukan untuk merawat tubuh sendiri seperti kulit, rambut, kuku, mulut, alat kelamin untuk mempertahankan kesehatan dan menjaga kenyamanan fisik maupun psikologis.
Nah, di NU para pengurus yang terlihat -mohon maaf- masih kumuh, urakan, tidak stylish, jumud, dan tidak sedap dipandang (unsightly) perlu menjadi perhatian karena itu menjadi branding personal yang akan berdampak pada branding jam’iyahnya.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa penampilan stylish itu tidak boleh menghilangkan karakter kesantrian dan ke-NU-annya. Sarung dan songkok harus lebih modis dengan akhlak yang anggun.
Penampilan adalah cerminan kepribadian seseorang. Ia membentuk nilai dan kepercayaan diri seseorang, yang berfungsi sebagai bahasa non-verbal pertama saat berinteraksi.
Penampilan juga mencerminkan cara kita menghargai seseorang. Walaupun ada peribahasa “jangan menilai buku dari sampulnya”, namun untuk konteks hari ini casing akan menunjukkan kualitas diri seseorang.
Ini juga bagian integral dari membangun personal branding pengurus di jam’iyah NU ini dan jama’ahnya. Personal branding pengurus dan jama’ah pasti akan membentuk branding jam’iyahnya.
Perpaduan keduanya sering kali paling efektif, di mana personal brand pengurus NU dapat memperkuat impersonal brand jam’iyah NU.
Maka, penting kiranya kita instrospeksi diri dari penampilan khas NU kita (personal style) agar terlihat rapi, menarik dan enak dipandang (Good looking).
Secara pribadi saya menginginkan kita buat kesan profesional dan semenarik mungkin agar persepsi publik yang kurang baik pada kita bisa berubah tercengang pada kita.
Persepsi publik yang kadang muncul selama ini dengan bahasa “biasa orang NU” yang berkonotasi negatif ini berubah menjadi “grooming-nya NU keren banget hari ini”.
Konsep NU mengenai kebersihan mencakup kebersihan dan kesucian diri, bersuci dari hadats dan najis seperti membiasakan wudhu dalam setiap saat harus menjadi bagian integral dari personal hygiene yang akan menjadi identitas jam’iyah dan jama’ah.
Kemudian arsitektur, estetika bangunan dan lingkungan jam’iyah, kesucian pakaian dan tempat ibadah, kebersihan dan keasrian lingkungan pesantren harus menjadi brand NU saat ini. Demikian harap maklum dari saya yang masih urakan.
*Penulis adalah santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Sumenep.

