Oleh: Mohammad Sabit *)
Dalam tradisi Islam, mujahadah bukan hanya sekedar serangkaian doa, wirid, atau ritual spiritual yang dilakukan secara berjamaah. Mujahadah merupakan proses bersungguh-sungguh berjuang melawan hawa nafsu, menundukkan ego, serta mengendalikan moral dan emosional yang kerap kali menjauhkan kita dari keikhlasan dan ketaatan. Ia merupakan jihad paling berat, karena musuhnya bukan berada di luar diri, tetapi bersemayam di dalam hati dan pikiran kita sendiri. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan bahwa ibadah lahiriah tanpa kesungguhan batin akan kehilangan ruhnya. Oleh karena itu, Mujahadah Kubro harus dimaknai sebagai pemicu transformasi etika dan spiritual, bukan sekadar kegiatan insidental.
Dalam konteks kehidupan modern dan berorganisasi, hawa nafsu tidaklah selalu muncul berbentuk maksiat kasar, tetapi sering hadir sebagai keinginan untuk diakui dan dipuji, ambisi jabatan dan pengaruh, pembenaran diri atas kesalahan, sikap merasa paling benar dan paling berjasa. oleh karena, Mujahadah hadir untuk melawan semua kecenderungan ini secara sadar dan berkelanjutan.
Kegiatan Mujahadah Kubro yang diselenggarakan oleh PWNU Jawa Timur di Malang kemarin menjadi momentum penting bagi jam’iyah Nahdlatul Ulama untuk kembali merefleksikan makna mujahadah dalam arti yang lebih luas. Ribuan warga NU berkumpul, melantunkan doa, dzikir, dan shalawat, menciptakan suasana spiritual yang khusyuk dan penuh harap. Namun, hakikat mujahadah tidak berhenti ketika acara usai dan jamaah pulang ke rumah masing-masing.
Pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah mujahadah tersebut benar-benar mengubah cara kita bersikap, berpikir, dan berkhidmah? Ataukah ia berhenti sebagai kegiatan seremonial yang indah secara tampilan, namun minim dampak dalam kehidupan nyata? Oleh karenanya, mujahadah menuntut kesungguhan dalam beberapa aspek utama.
Pertama,mujahadah moral. Ini adalah perjuangan menjaga integritas, kejujuran, dan adab. Dalam jam’iyah NU. mujahadah moral berarti menolak praktik-praktik yang tidak amanah,tidak memanfaatkan struktur NU untuk kepentingan pribadi, dan serta konsisten menjaga nilai keadaban dalam berkhidmah. Kedua,mujahadah emosionaldalam hal ini banyak konflik organisasi bersumber bukan dari perbedaan visi, tetapi dari emosi yang tidak terkendali. Mujahadah emosional menuntut kesabaran dalam perbedaan, kelapangan dada menerima kritik, dan kemampuan menahan amarah demi kemaslahatan bersama.
Ketiga,mujahadah intelektual dan spiritual yakni berjuang melawan kemalasan berpikir dan kemalasan ibadah. Kader NU dituntut untuk terus belajar, memperdalam pemahaman keislaman, sekaligus menjaga kualitas ibadah personal agar perjuangan lahiriah tidak kering secara batiniah. Keempat,mujahadah melawan egosentrisme dalam Jam’iyah, ini adalah salah satu musuh terbesar dalam berorganisasi adalah egosentrisme—merasa diri paling berjasa, paling berhak didengar, atau paling layak menentukan arah. Egosentrisme sering merusak keikhlasan dan memecah ukhuwah.
Mujahadah sebagai Ruh Khidmah
Di sisi lain mujahadah mengajarkan kita untuk mendahulukan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi, rela berada di belakang tanpa kehilangan semangat, dan serta menerima keputusan kolektif dengan lapang dada. Inilah ruh khidmah, bukan sekedar kerja, tetapi pengabdian yang dilandasi cinta dan keikhlasan. Konsistensi inilah yang menjadi buah dari mujahadah: tetap lurus meski lelah, tetap ikhlas meski tidak terlihat, dan tetap berkhidmah meski tidak dipuji.
Berjuang melawan hawa nafsu juga berarti mampu mengendalikan emosi—tidak mudah tersulut amarah, tidak larut dalam konflik internal, serta mampu mengedepankan hikmah dan kebijaksanaan dalam setiap perbedaan. NU sebagai jam’iyah besar membutuhkan kader-kader yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional. Mujahadah menjadi fondasi penting agar perjuangan NU tetap berakar pada nilai tawadhu’, tasamuh, tawazun, dan ta’adul. Pada akhirnya, mujahadah yang sesungguhnya adalah ketika dzikir menjelma menjadi sikap, doa menjelma menjadi tindakan, dan kebersamaan spiritual menjelma menjadi kerja-kerja nyata untuk umat. Mengabdi dan berkhidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekedar soal jabatan atau peran formal, melainkan soal keikhlasan menjaga niat, kesungguhan merawat jam’iyah, serta kesetiaan pada cita-cita ulama pendiri NU.
Semoga Mujahadah Kubro di Malang kemarin tidak hanya meninggalkan kenangan spiritual, tetapi juga melahirkan pribadi-pribadi kader NU yang benar-benar bermujahadah dalam kehidupan sehari-hari—menundukkan hawa nafsu, mengikis egosentrisme, dan terus berjuang demi kemaslahatan umat serta kejayaan Nahdlatul Ulama yang kita cintai.
*) Mohammad Sabit, Sekretaris MWCNU Ganding

