Image Slider

Adab Bermedia Sosial di Bulan Puasa

Oleh: Damanhuri *)

Berpuasa di bulan Ramadhan itu bukan semata menahan lapar dan haus. Dalam Islam lebih-lebih tradisi pesantren, puasa adalah laku adab: mendidik hati, menata perilaku, dan menjaga hubungan baik dengan Allah, sesama manusia, maupun diri sendiri.

Nah, di zaman serba digital seperti saat ini, satu “ruang” yang sering luput dari perhatian kita adalah media sosial. Padahal, media sosial itu cermin akhlak.

Apa yang kita tulis, bagikan, komentari, dan sukai, semua adalah jejak adab. Karena itu, Bulan Ramadhan ini menjadi momentum yang tepat untuk ngaji hal-ihwal apa saja adab yang perlu dilakukan saat kita bermedsos.

Pertama, adalah menjaga lisan digital. Sejak dulu para kiai kita selalu berpesan bahwa lisan adalah pintu keselamatan sekaligus sumber petaka, salamatul insan fi hifdzil lisan. Di era WhatsApp, Instagram, dan X, lisan itu berpindah ke jari kita.

Komentar pedas, status nyinyir, atau share konten tanpa pikir panjang bisa merusak pahala puasa. Di sinilah pentingnya kita menjaga lisan agar tidak menyakiti. Kalau di dunia nyata kita diminta menahan ucapan, maka di dunia maya pun demikian. Puasa bukan alasan untuk jadi “sultan komentar” agar terlihat eksis dan tahu banyak hal.

Kedua, tabayyun sebelum sharing. Para kiai kita sering menasihati untuk berhati-hati terhadap informasi. Tidak semua kabar layak disebar, meski terlihat “islami” atau “viral”. Apalagi di bulan Ramadhan ini, tak jarang berita hoaks membanjiri laman media sosial kita: Soal ibadah, politik, bahkan gosip tokoh agama.

Adabnya, cek dulu sumbernya, timbang manfaat dan mudaratnya. Kalau ragu, lebih baik diam. Karena diam dari keburukan atau kebatilan itu adalah ibadah.

Seperti riwayat Hadis dari Imam Bukhari-Muslim:

عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت … (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau memilih untuk diam..” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, hindari konten yang memancing emosi. Puasa itu latihan sabar. Tapi media sosial sering jadi arena adu emosi: debat kusir, saling sindir, dan perang opini. Tradisi NU mengajarkan tawazun (keseimbangan) dan tasamuh (toleransi).

Beda pendapat itu biasa, tapi adab tetap dijaga. Kalau diskusi sudah panas dan hati mulai mendidih, mungkin itu tanda kita perlu logout sejenak, menata hati menjaga emosi karena makna puasa sejatinya adalah pengendalian diri.

Keempat, niatkan media sosial sebagai ladang maslahat. Zaman terus berganti dan perubahan budaya tak dapat dipungkiri. Media sosial perlu menjadi sarana dakwah, silaturahmi, dan berbagi kebaikan.

Status yang menyejukkan, konten edukatif, atau sekadar candaan yang tidak menyakiti bisa bernilai sedekah. Di bulan puasa, satu konten yang baik bisa jadi pahala jariyah. Tapi ingat, niatkan untuk memberi manfaat, bukan sekadar panen like dan subscribe.

Kelima, rendah hati dan low profile soal ibadah. Niat harus tetap bersih. Ramadhan memang bikin semangat ibadah meningkat, tapi tidak semua hal harus diupload. Share inspirasi boleh, tapi jangan sampai jadi ajang pamer (riya’) atau bikin kita merasa paling suci. Ingat, media sosial itu cuma platform, bukan tempat buat adu-aduan ibadah.

Keenam, menghormati perbedaan. Tidak semua orang bisa menjalankan puasa Ramadhan. Ada yang sedang sakit, dalam perjalanan, atau memiliki uzur tertentu. Karena itu, sikap empati perlu selalu dijaga. Hindari membuat atau membagikan konten yang menghakimi kondisi orang lain, apalagi yang bernada menyudutkan.

Ramadhan seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan saling merendahkan. Dengan cara itu, suasana bulan suci tetap terjaga penuh kebaikan dan kedamaian.

Enam adab bermedia sosial di bulan puasa di atas adalah bagian dari akhlak yang perlu diamaliahkan.

Puasa bukan hanya soal perut kosong, tapi hati yang jernih dan jari yang terkendali. Kalau kita bisa menjaga adab di dunia maya, insya Allah puasa kita tidak hanya sah secara fikih, tapi juga indah secara akhlak.

Di situlah Ramadhan benar-benar bekerja: membentuk manusia yang lebih santun, bijak, dan penuh rahmat baik offline maupun online dan ujungnya menjadi manusia yang bertakwa.

*) Damanhuri, Sekretaris PCNU Sumenep, Direktur Program Pascasarjana Universitas Annuqayah Guluk-Guluk.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga