Batuan, NU Online Sumenep
Pimpinan Cabang Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PC JQHNU) Sumenep bersilaturahim ke Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Selasa (3/3/2026), di Meeting Room KH Moh. Ilyas Syarqawi. Pertemuan ini menjadi momentum memperkuat konsolidasi kelembagaan sekaligus meneguhkan gerakan Qur’ani di lingkungan Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep.
Silaturahim tersebut dihadiri jajaran Pengurus Harian PCNU Sumenep dan Dewan Organisasi PC JQHNU Sumenep. Suasana diskusi berlangsung hangat dan dialogis, membahas penguatan koordinasi serta strategi pembinaan kader-kader Al-Qur’an berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah.
Ketua PCNU Sumenep, KH Md. Widadi Rahim, menyampaikan apresiasi atas inisiatif silaturahim tersebut. Ia menegaskan pentingnya konsolidasi internal JQHNU sebagai badan otonom yang memiliki peran strategis dalam menjaga tradisi keilmuan Al-Qur’an.
“Terima kasih atas kehadiran Pimpinan Cabang JQHNU Sumenep. Konsolidasi internal harus terus dilanjutkan. Kami berharap JQHNU tetap menggerakkan organisasi dan menguatkan khidmahnya di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, JQHNU memiliki posisi penting dalam pembinaan qari’-qari’ah, hafizh-hafizhah, khatthat, mufassir, serta kader Qur’ani yang setia pada manhaj Aswaja.
Sementara itu, Sekretaris PC JQHNU Sumenep, Ustadz Harun Adiyanto, S.Ud., menjelaskan bahwa JQHNU merupakan wadah para pelantun, penghafal, penulis, dan pengkaji Al-Qur’an di lingkungan NU. Ia menekankan bahwa seluruh metodologi pembelajaran yang dikembangkan berlandaskan prinsip Aswaja, dengan meneguhkan nilai tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), ta’adul (adil), dan tawasuth (moderat).
“Pendekatan JQHNU bertujuan memelihara kesucian Al-Qur’an, meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an, sekaligus merawat tradisi para qurra’ dan huffazh dalam naungan NU,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Tim Instruktur Tartila Bil Qolam PC JQHNU Sumenep turut memaparkan sejumlah metode pembelajaran yang diterapkan. Mulai dari talaqqi dan musyafahah untuk menjaga ketepatan tajwid dan makhraj, metode tahfidz dan taqrir dengan sistem pengulangan terjadwal, hingga pendekatan praktis seperti Tartila Bil Qolam yang mengintegrasikan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an.
Selain itu, pembinaan seni baca Al-Qur’an (tilawah) juga menjadi perhatian serius, termasuk persiapan kader qari’-qari’ah menghadapi ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). JQHNU juga memiliki Majelis Ilmi sebagai forum pakar dalam kajian ulumul Qur’an sekaligus penentu standarisasi metode pembelajaran.
Dalam diskusi ditegaskan bahwa metodologi JQHNU merupakan integrasi antara tradisi pesantren dan pendekatan modern. Tradisi sorogan, bandongan, dan khataman tetap dipertahankan, namun diperkaya dengan kurikulum sistematis, modul pembinaan, serta evaluasi berbasis teknologi.
Silaturahim ini ditutup dengan komitmen bersama antara PCNU Sumenep dan PC JQHNU Sumenep untuk memperkuat sinergi dalam membangun gerakan Qur’ani yang berkelanjutan di Kabupaten Sumenep.

