Kota, NU Online Sumenep
Jam’iyyah Qurra wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) adalah badan otonom yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Struktur kepengurusannya hingga saat ini masif dari pusat hingga di tingkat bawah, yakni kecamatan. Sesuai namanya, banom ini merupakan wadah yang di dalamnya mengakomodir Nahdliyin yang memiliki potensi di bidang Qari, penghafal dan hal lain yang erat kaitannya dengan Al-Qur’an.
Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH. Imam Hendriadi menyebutkan, bahwa lahirnya JQHNU diinisiasi langsung oleh KH. Abdul Wahid Hasyim, putra Hadratussyeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Saat itu, beliau masih menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia era Presiden Ir. Soekarno.
“JQHNU sepanjang yang saya tahu dilahirkan dari inisiatif KH. Abdul Wahid Hasyim, putra Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari,” ujarnya sebelum memimpin doa penutup pada acara Pembukaan Harlah NU Ke-99 PCNU Sumenep yang dikemas dengan Khatmil Qur’an 99 Kali, di Masjid Jamik Sumenep, Selasa (1/2/2022).
Tepat pada malam Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1371 H atau 15 Januari 1951 M, JQHNU secara langsung diresmikan oleh KH. Abdul Wahid Hasyim di Sawah Besar, Jakarta, Kediaman H. Asmuni.
Kiai Imam, begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa berdirinya JQHNU diawali dengan kemunculan organisasi para ahli dan penghafal Al-Qur’an di berbagai daerah. Seperti Jam’iyyatul Huffazh di Kudus, Jawa Tengah, Nahdlatul Qurra’ di Jombang, Jawa Timur, Wihdatul Qurra di Sulawesi Selatan, dan lain sebagainya.
Atas dasar itu, KH. Abdul Wahid Hasyim yang kala itu menjabat sebagai Menteri Agama RI era Presiden Ir Soekarno mengumpulkan para ahli Al-Qur’an untuk memusyawarahkan pendirian JQHNU, tepar pada 17 Ramadhan 1370 H atau 22 Juni 1950 M. Yang kemudian titik terangnya, 12 Rabiul Awal 1371 H atau 15 Januari 1951 M JQH NU resmi didirikan sebagai badan otonom NU.
“Beberapa ahli Al-Qur’an dari berbagai daerah di Indonesia dikumpulkan untuk musyawarah terkait pembentukan JQHNU. Pertemuan itu berlangsung di kediamannya dan menyepakati nama Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz,” imbuhnya.
Sanad Keilmuan JQHNU
Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang itu juga menjelaskan bahwa kegiatan Khatmil Qur’an yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang (PC) JQHNU Sumenep dalam rangka Pembukaan Harlah NU Ke-99, memiliki sanad keilmuan yang jelas.
“Jadi dari sini paling tidak kita tahu bahwa kegiatan Al-Qur’an kita sanadnya jelas, dari KH. Abdul Wahid Hasyim. Beliau putra Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Beliau juga seorang hafidz,” tandasnya.
Diceritakan Kiai Imam, bahwa dulu ada salah seorang santri hafidz yang menjadi santri kesayangan Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, namanya KH. M. Yusuf Masyhar. Di beberapa kesempatan, tidak jarang Hadratussyeikh memerintahkan santri kesayangan itu untuk mengkhatamkan Al-Qur’an.
“Setiap tahun Pondok Pesantren Tebuireng pasti mengkhatamkan Al-Qur’an yang langsung diperintahkan oleh Hadratussyeikh kepada santri kesayangan itu, KH. M. Yusuf Masyhar,” ungkapnya menceritakan.
Dari saking senangnya Hadratussyeikh kepada santri yang hafidz itu, sampai-sampai dijadikan menantu, dengan menjodohkan cucu beliau Ny. Hj. Ruqayyah dengan KH. M. Yusuf Masyhar. Menantu beliau inilah yang menjadi pendiri Madrasatul Qur’an di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
“Sampai-sampai santri yang disukai itu dicarikan jodoh oleh Hadratussyeikh. Cucu beliau Ny. Hj. Ruqayyah dinikahkan dengan KH. M. Yusuf Masyhar, yang mendirikan Madrasatu Qur’an di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang,” pungkasnya.
Atas dasar itulah, Kiai Imam kembali menegaskan bahwa beberapa pondok pesantren di Sumenep yang di dalamnya mendidikan Tahfidzul Qur’an sanad keilmuannya tersambung ke Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
Sebagaimana diketahui, Khatmil Qur’an dan Pembukaan Harlah NU Ke-99 PCNU Sumenep itu digelar dengan melibatkan PC JQHNU, LTM NU, dan Takmir Masjid Jamik Sumenep. Serta beberapa pondok pesantren tahfidz Al-Qur’an di Kabupaten Sumenep.
Editor: Abdul Warits

