Cerpen: Olivia Ni*
Pagi masih gelap ketika Fisha sudah bangun dari tidurnya. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul lima pagi, tetapi dapur kecil di rumahnya sudah mulai hidup. Suara air mengalir, wajan yang dipanaskan, dan aroma bawang goreng perlahan memenuhi ruangan.
Fisha bergerak dengan cekatan. Ia menyiapkan sarapan, memasak nasi, dan membuat bekal untuk suaminya yang akan bekerja sebentar lagi. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar.
“Sudah bangun dari tadi?” Tanya suaminya, Fajar. Sambil duduk di kursi dapur
Fisha tersenyum kecil. “Seperti biasa”
Sejenak Fajar memperhatikannya. Ia tahu istrinya selalu memulai lebih awal dari siapapun di dalam rumah itu. Setelah sarapan selesai, Fajar berangkat bekerja. Rumah kembali sunyi. Fisha membereskan dapur, mencuci piring, lalu menyapu ruang tamu. Semua itu adalah rutinitas yang sudah ia jalani sejak menikah dua tahun yang lalu.
Fisha tidak pernah menganggap pekerjaannya di rumah sebagai sesuatu yang rendah. Baginya, mengurus rumah adalah hal yang mulia. Ia memastikan rumah tetap nyaman. Makanan tersedia, dan semuanya berjalan dengan baik. Namun dibalik kesibukan itu, ada satu mimpi lama yang masih tersimpan dalam hatinya.
Setelah pekerjaannya selesai. Fisha duduk di ruang tamu dan membuka sebuah kotak kecil di rak. Di dalamnya ada buku-buku lama dan sebuah map berisi ijazah SMA. Tangannya menyentuh kertas itu perlahan.
Waktu sekolah dulu, Fisha termasuk siswi yang rajin. Ia suka belajar dan sering mendapatkan nilai yang bagus. Gurunya pernah mengatakan bahwa ia memiliki kemampuan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Kamu jangan berhenti sampai di MA saja ya! kamu harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena ibu tahu bahwa kamu itu hebat dan mempunyai pemikiran yang luas,” kata gurunya dulu.
Namun setelah lulus, keadaan dalam keluarganya membuat Fisha memilih menikah lebih dulu. Ia tidak menyesal dengan keputusannya. Ia menyayangi suaminya dan kehidupannya sekarang. Hanya saja, mimpi untuk melanjutkan pendidikan tidak pernah benar-benar hilang.
Suatu sore, Fisha sedang menyiram tanaman di depan rumah seketika tetangganya, Bu Alvin, datang menghampirinya.
“Kamu rajin sekali ya, Fisha. Dari pagi sampai sore selalu saja sibuk,” katanya.
Fisha tersenyum.
“Sudah biasa, Bu.”
Bu Alvin memperhatikan Fisha sejenak sebelum berkata, “Kamu dulu katanya pintar di sekolah ya?”
Fisha sedikit terkejut. “Ah… biasa saja.”
“Sayang sekali tidak lanjut kuliah,” lanjut Bu Alvin.
Bu Alvin terdiam sebentar. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Walaupun sebenarnya percuma juga,” kata Bu Alvin lagi sambil tertawa kecil. “Wanita kalau setinggi apa pun sekolahnya, ujung-ujungnya tetap di dapur.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi entah mengapa terasa berat di hati Fisha. Ia hanya tersenyum tipis, meskipun di dalam hatinya muncul banyak pikiran. Malam harinya, setelah makan malam selesai dan rumah sudah rapi, Fisha duduk bersama Fajar di ruang tamu.
Ia ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, “Mas, boleh aku bertanya sesuatu?”
Fajar menoleh. “Apa?”
Fisha menarik napas pelan.
“Menurut Mas… apakah salah kalau seorang wanita ingin kuliah?”
Fajar terlihat sedikit heran dengan pertanyaan itu.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
Fisha menceritakan percakapannya dengan Bu Alvin siang tadi. Setelah selesai, ia menunduk pelan.
“Kadang aku berpikir,” katanya lirih, “Apakah mimpi untuk belajar lagi itu berlebihan?”
Fajar terdiam beberapa saat.
Kemudian ia berkata pelan, “Menurutku tidak.”
Fisha mengangkat wajahnya.
“Mengurus rumah itu memang mulia,” lanjut Fajar. “Tanpa orang yang mengurus rumah dengan baik, keluarga tidak akan berjalan dengan nyaman.”
Fisha mendengarkan dengan saksama.
“Tapi memiliki pendidikan dan mimpi yang tinggi itu juga bukan sesuatu yang salah,” kata Fajar lagi.
Mata Fisha perlahan berkaca-kaca.
“Ilmu tidak akan membuat seseorang menjadi lebih rendah. Justru ilmu bisa membuat hidup kita lebih baik. Termasuk untuk keluarga kita.”
Fisha merasa hatinya hangat mendengar kata-kata itu.
“Mas tidak keberatan kalau aku ingin kuliah suatu hari nanti?” tanyanya pelan.
Fajar tersenyum.
“Kenapa harus keberatan? Selama kita bisa mengatur semuanya dengan baik, aku justru bangga.”
Air mata haru hampir jatuh dari mata Fisha. Malam itu ia menyadari sesuatu. Selama ini ia takut bermimpi karena khawatir dianggap melupakan perannya sebagai istri dan pengurus rumah tangga. Padahal sebenarnya, dua hal itu tidak harus saling bertentangan.
Beberapa minggu kemudian, Fisha mulai mencari informasi tentang program kuliah yang jadwalnya fleksibel. Ia membaca brosur, mencari informasi di internet, dan bertanya kepada teman-temannya.
Ia tetap menjalankan tugasnya di rumah seperti biasa. Pagi hari ia memasak dan membersihkan rumah. Siang hari ia mengurus keperluan keluarga. Namun malam hari yang menjadikan waktunya untuk belajar.
Di meja kecil dekat dapur, Fisha mulai belajar lagi. Ia membaca buku, menulis catatan, dan mengulang pelajaran yang lama. Suatu malam Fajar melihatnya belajar dengan serius.
“Kamu terlihat seperti mahasiswa sungguhan,” katanya sambil tersenyum.
Fisha tertawa kecil.
“Mungkin karena aku memang ingin menjadi mahasiswa.”
Beberapa bulan kemudian, Fisha akhirnya mendaftar kuliah di sebuah universitas yang membuka kelas malam. Hari pertama kuliah terasa menegangkan sekaligus menyenangkan. Ia duduk di ruang kelas bersama mahasiswa lain yang sebagian besar lebih muda darinya. Namun Fisha tidak merasa minder. Ia justru merasa penuh semangat. Setiap pelajaran yang ia dengarkan membuatnya sadar betapa luasnya dunia pengetahuan.
Ketika pulang ke rumah malam itu, Fisha berdiri sejenak di depan pintu dapur. Dapur yang sama tempat ia memasak setiap hari. Ia tersenyum. Dulu ia sempat berpikir bahwa dapur adalah batas dari hidupnya. Sekarang ia menyadari sesuatu yang berbeda. Dapur bukanlah batas. Dapur adalah bagian dari hidupnya, sama seperti buku-buku kuliah di tasnya. Mengurus rumah tetap ia lakukan dengan penuh cinta. Namun sekarang ia juga memiliki kesempatan untuk berkembang, belajar, dan mengejar mimpi. Suatu hari nanti, mungkin anak-anaknya akan melihatnya membaca buku atau mengerjakan tugas kuliah. Dan Fisha ingin mereka memahami satu hal. Bahwa menjadi wanita yang mengurus rumah adalah hal yang mulia. Namun memiliki pendidikan dan mimpi juga bukan sesuatu yang salah. Karena kuliah bukan untuk melawan kodrat seorang wanita.
Kuliah adalah cara untuk menambah ilmu, memperluas wawasan, dan membuat hidup—serta keluarga—menjadi lebih baik. Dan bagi Fisha, mimpi yang dulu hampir padam kini kembali menyala dengan terang.
SENTOL DAYA 16 MARET 2026
*Santri aktif PP. NURUL IHSAN

