Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah (HIMA) Guluk-Guluk Sumenep tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang penutupan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menghadirkan ruang penguatan tradisi intelektual melalui bedah buku The Qur’anything: Anonymous of The Cave karya KH Muhammad Ismail Yahya Al-Ascholy.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Asy-Syarqawi tersebut diikuti oleh mahasiswa, santri putra dan putri dari berbagai jenjang pendidikan, para kiai, serta dosen di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah, Selasa (30/06/2026).
Pengurus Yayasan Annuqayah, KH Ainul Haq, dalam sambutannya menuturkan bahwa penyelenggaraan bedah buku merupakan bagian dari komitmen pesantren untuk menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren.
“Tujuan kita menghadirkan guru-guru kita adalah agar para santri memiliki sambungan sanad kepada guru-guru mereka. Itulah yang menjadi kekuatan utama tradisi pesantren,” ungkapnya.
Selanjutnya, forum memasuki sesi bedah buku dengan menghadirkan Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Universitas Annuqayah, Abd. Mun’iem, sebagai moderator.
Sementara itu, KH Muhammad Al-Mubassyyir bertindak sebagai pembanding yang mengulas berbagai gagasan yang terkandung dalam buku tersebut.
“The Qur’anything, sebuah buku yang mengulas surat dalam Al-Qur’an ini hadir sebagai jembatan untuk menghubungkan realita kehidupan dengan romansa dan intimasi yang terkandung dalam Al-Qur’an. Buku ini tak hanya menguak dan mengisahkan, namun juga memancing minat pembaca untuk benar-benar menggeluti isinya,” jelasnya.
Dalam buku ini, Kiai Ismail Al-Ascholy mampu menyandingkan pemaknaan bahasa Al-Qur’an dan menyepadankan dengan praktik dalam kehidupan.
“Daripada terasa jauh karena keagungannya, Al-Qur’an justru terasa begitu nyata, dekat, hidup, serta mudah dijangkau efeknya. Bahasa yang digunakan juga santai, sehingga alih-alih membaca buku berbobot, pembaca seperti diajak berdiskusi bertemankan kopi dan hanyut dalam renyahnya obrolan,” tambahnya.
Sementara, penulis buku sekaligus pembedah Kiai Ismail Al-Ascholy menuturkan bahwa karya The Qur’anything; Anonymous of The Cave merupakan kelanjutan dari karya The Qur’anything; Sepuluh Surat dari Tuhan yang hadir dengan pendekatan yang lebih ringkas, lebih tajam, dan lebih langsung ke inti.
“Jika seri pertama mengusung gaya yang lebih padat – sebuah perjalanan melalui seratus ayat dengan kedalaman makna yang terfokus,” tambahnya.
Kiai Ismal Al-Ascholy menerangkan, setiap halaman bukan sekadar penjelasan, melainkan undangan untuk memahami ayat secara jernih, rasional, dan hidup dalam kesadaran pembacanya.
“Buku ini menjadi jejak intelektual sekaligus spiritual dari sebuah perjalanan panjang bersama Al-Qur’an. Bukan hanya untuk dibaca – tetapi untuk direnungkan, diulang, dan dihidupkan,” terangnya.
Selanjutnya, yang ia ingin sampaikan dari semua ini adalah bahwa membaca Surat Al-Kahfi memang jelas menjadi pelindung dari fitnah Dajjal.
“Masalah kita sekarang bukan Dajjal. Bahkan, Nabi sering menyatakan bahwa ada selain Dajjal yang paling beliau khawatirkan atas umat Islam. Misalnya, ulama su’, gus-gusan, postingan yang berbahaya bagi akidah maupun kesalehan, dunia yang membuat lupa akhirat, maksiat yang sudah sangat biasa di hati, melawan orang tua, guru, dan seterusnya,” pungkasnya.
Editor: Moh Khoirus Shadiqin

