Batuputih, NU Online Sumenep
Pengurus Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Batuputih adakan Pelantikan Pengurus Ranting NU dan Halaqoh ke-NU-an yang bertempat di Masjid Baitur Rahman, Dusun Mandala Desa Tengedan, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Sabtu (13/2/2021).
Kegiatan pelantikan tersebut dimulai dari pembacaan SK oleh Pengurus PCNU Sumenep dan dilakukan prosesi pelantikan yang dipimpin oleh KH. Halimi Ishomuddin.
Usai pelantikan dilanjutkan Launching Program Lazisnu NU Batuputih yaitu Berseri (Bersedekah Setiap Hari) oleh Ketua Lazisnu Batuputih Bapak Subaidi. Launching program ini ditandai dengan penyerahan “Kotak Berseri” kepada Ketua NU Ranting Se-Kecamatan Batuputih.
Ketua MWC NU Batuputih, H. Ali Wafa Erfan, dalam kesempatan tersebut menyampaikan selamat kepada semua pengurus yang telah baru selesai dilantik.
“Semoga amanah, dan mari bersama-sama kita sukseskan Kotak Berseri ini dari warga NU untuk warga NU yang lain,” jelasnya.
“Kita tahu bahwa dilingkungan kita banyak anak anak yatim yang belum layak mendapatkan fasilitas pendidikan sehingga dana berseri salah satunya untuk kegiatan tersebut, kalau bukan kita siapa lagi, mari NU jadikan istri bukan jadikan suami,” imbuhnya di akhir sambutan.
Acara dilanjutkan dengan Halaqoh ke-NU-an yang diisi oleh KH. Halimi Ishomuddin, Wakil Rais PCNU Sumenep.
Di depan pengurus ranting se-kecamatan Batuputih, beliau menegaskan bahwa tantangan berat bagi NU adalah dalam hal aqidah yaitu kuatnya arus penyebaran Syi’ah di Indonesia. Mereka datang dengan konsep taqiyyah sebagai rukun Iman.
“Taqiyyah menjadi tameng efektif bagi mereka. Dengan konsep ini, Sy’iah menjadi sulit terdeteksi,” ungkapnya.
Dewan pengasuh PP. Annuqayah tersebut menambahkan bahwa sebagai seorang muslim hendaknya meningkatkan rasa syukur kepada Allah karena diberi kesempatan berkhidmah di NU. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.
Beliau juga mengharapkan agar para penggerak NU yang ada di ranting bisa memahami tantangan NU, terutama tantangan aqidah. Bagi dirinya, kekuatan Islam dan Indonesia ada pada NU sebagai warisan terbaik para leluhur dan para guru. Ini tidak semuanya bisa dilogikakan, tapi sangat dirasakan.
“Mari pengurus ranting perkokoh Ahlus Sunnah Waljamaah. Karena, banyak organisasi yang juga mengaku Ahlussunnah, yang membedakan kita dengan kelompok lain adalah An-nahdiyah. Maka mari jaga bersama,” jelasnya.
Sementara itu, K. Imam Sutadji menambahkan bahwa tantangan NU di era ini sangat berat. “Kita ini ada di tengah-tengah antara kelompok kanan dan kiri jika tidak diperkuat dari tingkat ranting maka kita yang tertindas sendiri,” pungkasnya.
Pewarta : Mahrus Miftah
Editor: Abdul Warits

