Oleh: Lukmanul Hakim
Di dalam proses belajar mengajar, motivasi menjadi aspek penting yang mesti dilakukan oleh seorang guru saat ini. Tidak semua siswa dalam suatu kelas mempunyai daya motivasi yang sangat kuat untuk mengikuti jam pelajaran. Ada siswa yang terpaksa masuk kelas karena takut pada gurunya, takut dimarahi orang tuanya, dan ada juga siswa yang masuk kelas karena dorongan dalam dirinya untuk memahami mata pelajaran.
Semua guru dan orang tua menginginkan anaknya mempunyai motivasi yang kuat dalam hal belajar. Hal ini dikarenakan pada prinsipnya, motivasi memiliki korelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Siswa yang sangat termotivasi untuk belajar tentu akan mendapatkan hasil yang memuaskan sebagai pembeda antara siswa yang tidak memiliki motivasi sama sekali dalam dirinya untuk terus belajar.
Motivasi bisa menjadi cambuk bagi siswa untuk meningkatkan aktivitas belajarnya. Sebaliknya, siswa yang tidak memiliki motivasi kuat dalam hal belajar akan mudah bosan, tidak semangat, susah konsentrasi, dan cendurung malas mengikuti mata pelajaran. Dengan demikian, prestasi pun juga akan sulit diraih bagi siswa yang tidak mengantongi motivasi. Kalau ada siswa yang tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan di rapornya selalu berderet angka merah, maka jangan lantas menghakimi dan memberi label siswa itu bodoh. Bisa jadi, siswa itu tidak memiliki semangat belajar yang tinggi karena kurangnya motivasi.
Karena itu, seorang guru harus selalu mampu memberikan motivasi kuat terhadap siswanya. Motivasi erat kaitannya dengan kebutuhan. Siswa akan bertindak dengan cepat apabila dalam dirinya ada kebutuhan. Layaknya makan dan minum, seseorang tentu tidak akan pernah lupa untuk sekedar makan dan minum karena hal itu menjadi kebutuhan untuk menjalani kehidupan. Lantas, bagaimana belajar di dalam kelas bisa menjadi kebutuhan tiap-tiap siswa? Kalau siswa tidak belajar seakan-akan merasa kelaparan dan kehausan? Semua itu tergantung pada sejauh mana seorang guru mampu memberikan pelayanan berupa motivasi yang sangat berarti pada siswanya. Ketika memulai sebuah pelajaran, alangkah baiknya jika guru menjelaskan tentang tujuan yang ingin dicapai dari mata pelajaran itu sehingga siswa mampu menangkap dan mencerna secara baik sebagai hasil dari belajarnya.
Agar minat siswa juga tumbuh, hubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. Minat dan motivasi siswa untuk belajar akan tumbuh ketika materi pelajaran itu ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, sangat urgen bagi guru untuk menjelaskan keterkaitan meteri pelajaran dengan kebutuhan siswa sehari-hari. Jika ada materi pelajaran yang sulit dijangkau dari pengetahuan dan pengalaman siswa, maka guru mempunyai tugas untuk menyederhanakan menjadi lebih mudah dan segera dapat ditangkap oleh siswa. Materi pelajaran yang sulit tentu tidak akan diikuti dengan baik oleh siswa. Materi yang terlalu sulit akan membunuh motivasi belajar siswa dari dalam. Alangkah lebih baiknya jika guru menyesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Motivasi bisa tumbuh ketika siswa dihargai dengan teliti. Penghargaan itu tidak harus berupa materi. Memberikan apresiasi pada anak yang telah menampakkan perkembangan yang sangat signifikan cukup baik bagi anak. Hal ini akan memberikan motivasi tersendiri bagi anak untuk tetap mempertahankan dan bahkan bisa meningkatkan produktivitas belajarnya menjadi semakin lebih rajin.
Guru bisa melakukan apresiasi itu dengan berbagai cara, salah satunya adalah menciptakan persaingan dan kerja sama yang sehat antar siswa. Guru bisa mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa bisa bersaing secara kelompok atau individu. Dalam persaingan ini, guru bisa memberikan apresiasi bagi siswa yang lebih berprestasi dan memberikan motivasi lebih bagi siswa yang belum mampu berkompetisi dengan baik. Menciptakan persaingan antar siswa bisa menimbulkan efek negatif, akan tetapi sisi negatif dari kompetisi ini bisa diatasi dengan pendekatan guru untuk memberikan bimbingan terhadap siswa. Guru yang baik tentu akan menjelaskan bahwa persaingan ini bukan ukuran yang menentukan kecerdasan siswa. Bisa saja siswa mampu dalam suatu disiplin ilmu akan tetapi belum juga menguasai dalam bidang ilmu yang lain. Guru mesti menjelaskan tentang semua keragaman potensi itu sehingga mental siswa terus tejaga.
Dalam rangka mengasah pengetahuan siswa yang telah dijari oleh guru, maka ketika mengajar guru juga harus mampu mengajukan pertanyaan dengan baik. Pertanyaan yang baik akan mampu menggugah selera siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Sebaliknya, jika guru tidak mempunyai keterampilan bertanya, maka juga akan berefek terhadap iklim belajar mengajar yang tidak kondusif. Tidak hanya merasa jenuh dengan cara guru menerangkan yang monoton di dalam kelas, akan tetapi siswa juga bisa saja akan menjadi bosan dengan pertanyaan-pertanyaan guru yang kurang berkualitas. Beberapa kalangan pendidik meyakini bahwa pertanyaan yang bagus juga berdampak positif terhadap siswa, mulai dari meningkatnya partisipasi siswa di dalam kelas dan meningkatnya daya berpikir siswa. Wallahu A’lam.
*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

