Image Slider

Puisi-puisi Agus Widiey

Apologia Sebuah Dosa

Tuhanku
Terimalah doaku
Doa yang tak pernah jemu
Untuk menyebut nama-Mu

Tuhanku
Meski tak kunjung rindu
Aku mesti mengingatmu
Dari waktu ke waktu

Tuhanku
Sejenak aku mengadu
Berilah setitik cahaya
Untuk menghapus segala dosa

Tuhanku
Jangan tanyakan ihwal masa lalu
Yang lebih dekat dengan api-Mu
Dan sangat jauh pada surga indah-Mu

Tuhanku
Jangan pertemukan aku
Pada masa silam yang berlumut duka lara
Biarkan aku berdami dengan-mu sepenuh jiwa

Tuhanku
Aku ingin menyatu

Sumenep, 2021

Penobatan Diri Di Bulan Suci

Ku penggal leher waktu
Agar magrib segera bertemu
Melalaui bacaan ayat suci
Serta dzikir yang meluap dalam hati

Terlalu larut untuk kunikmati
Menobatkan jati diri ini
Sampai jiwa tak sadarkan diri
Bahwa telah tenggelam matahari

Dari fajar sampai senja
Huruf al-qur’an mendekat pada mata
Sehingga tak pernah alpa untuk kubaca
Di seantero masjid suara-suara mengetuk jiwa.

Sumenep, 2021

Imsak Di Batuputih

Barangkali sebuah imsak menjadi tanda
Bahwa kita harus segera beringsut
Dari beberapa makanan di atas meja
Serta menahan segala banyak hal yang menggoda
Dan memilih khusuk dalam dzikir-sujud pada Semesta

Lima menit sebelum imsak terjadi
Kuteguk segelas kopi
Tak lupa kretek dinyalakan lagi
Berharap menjelang matahari
Rayuan iblis semakin menepi.

Sumenep, 2021

Senyummu Adalah Bunga

Senyummu adalah bunga melati
Yang hidup di belantara hati
Mengharumkan rindu pada jiwa
Menumbuhkan batang sandiwara

Tapi kemarau mulai berdiang
Jarak pun mulai membentang
Membuat gugur kesetian
Sebab penungguan cinta tak memberi kepastian

Memang kau bukan bunga berduri
Tapi cukup sempurna menusuk hati
Mengubah nasib rindu
Dengan cara meninggalkanku.

Sumenep, 2021

Jendela Pagi

Demikian sunyi yang menyebut rindu
Sebagai kekasih paling sayu
Setiap pagi mimpi terjaga
Menjelang matahari terbuka
Doa-doa melebihi luasnya jendela
Menyala sampai ke ujung cakrawala.

Sumenep, 2021

Agus Widiey, Lahir di Batuputih, Sumenep, Madura, 17 Mei 2002. Sekarang masih tercatat sebagai santri aktif pondok pesantren Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru, Sumenep, Madura. puisi-puisinya tersiar di berbagi media seperti radar madura, cakra bangsa, harian sib, puisi alit, puisi pedia, dan antologi puisinya antara lain; Rumah Sebuah Buku(2020) Hidup Itu Puisi(2020) Subuh Terakhir(2020) Seruling Sunyi Untuk Mama(2020) Sumpah Pemuda (2021) Merapal Jejak(2021) Goresan Kenangan(2021).

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga