Image Slider

Waspadalah terhadap Orang Munafik

Oleh: Lukmanul Hakim

Perilaku munafik dalam Islam merupakan salah satu perbuatan tercela yang dapat mencelakai diri sendiri maupun orang lain dan sangat dibenci oleh Allah SWT. Kata munafik berasal dari nifak. Nifak merupakan kata sifat. Pelakunya disebut munafik. Nifak secara bahasa berarti habis atau bangkrut. Secara istilah, munafik berarti orang yang menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran atau sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Jika arti secara bahasa dan istilah dihubungkan, berarti orang yang menyembunyikan kekufuran dengan menampakkan keislaman dihadapan kaum muslimin akan sia-sia amal kebaikannya dihadapan Allah. Orang munafik akan mendapat siksa yang pedih di akhirat dan di dunia mendapat kehinaan.

Hal tersebut sudah ditegaskan dalam firman Allah SWT:
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَا لْمُنٰفِقٰتِ وَا لْـكُفَّا رَ نَا رَ جَهَـنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَـعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ مُّقِيْمٌ ۙ
Artinya: “Allah menjanjikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 68).

Karena sifat dan usaha mereka, orang munafik diancam Allah SWT dengan balasan yang setimpal. Mereka selalu memperdaya umat Islam dengan cara yang menghalangi manusia untuk beriman, ajakan kekafiran dan perintah yang mungkar.

Seringkali digambarkan orang munafik sebagai orang tuli, bisu, dan buta karena mereka sengaja menutup telinga, mulut, dan matanya dari kebenaran terlebih lagi menutup hati dari petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.

Sebagai umat Islam, semestinya harus tegas terhadap mereka dan mewaspadainya serta tidak mudah tergoda dengan ajakan mereka. Hal terpenting adalah harus menghindari sifat-sifat munafik ini. Untuk mengetahui ciri-ciri orang munafik sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, maka tulisan ini akan menyampaikan beberapa tanda-tanda orang munafik.

Berbohong dalam berucap merupakan ciri pertama orang munafik. Tentunya dalam hal ini berbohong yang dilakukan adalah bohong yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain meskipun hanya untuk bahan candaan. Perbuatan berbohong seperti ini sifatnya haram.

Seperti dalam hadits dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya:
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: celaka bagi orang yang berbicara lalu bohong agar orang-orang ketawa. Sungguh celaka dia. Celaka dia.” (HR. Bukhari).

Contoh dari sifat pembohong ini adalah ada seorang anak yang bernama Maharani. Maharani di sini merupakan siswa kelas empat. Ia anak yang malas. Ia sering tidak masuk sekolah, alasannya sakit, padahal tidak sakit. Di sekolah Maharani juga syringe, misalnya, ia mengaku pensilnya hilang. Padahal ia tidak membawa pensil.

Ketika teman-teman sibuk membantu mencarikan pensilnya, ia tersenyum saja. Ketika jajan (makanan ringan) pun ia suka, makan kue dua potong, mengaku hanya sepotong. Maharani adalah anak yang suka berbohong. Bohong atau dusta artinya berkata tidak benar. Orang yang suka bohong disebut pembohong. Bohong termasuk akhlak tercela. Kita harus menjauhi perbuatan bohong dan merupakan salah satu tanda munafik. Berbohong sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Ciri kedua orang munafik adalah mengingkari janji. Sangatlah penting bagi kita untuk selalu menjaga lisan, apalagi dalam pengucapan kata “janji”. Janganlah mengucap janji apabila kita tahu tidak dapat menepatinya karena janji adalah sama dengan utang yang harus dibayar atau sumpah yang tak boleh dilanggar. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوْا مَا لَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗ ۖ وَاَ وْفُوْا بِا لْعَهْدِ ۖ اِنَّ الْعَهْدَ كَا نَ مَسْــئُوْلًا
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 34).

Contoh konkrit dari orang yang mengingkari janji di sini adalah berangkat dari pengalaman penulis baru-baru ini. Ada suatu kegiatan di organisasi yang penulis keluti. Dalam perjalanannya, kegiatan tersebut hanya dibatasi untuk beberapa orang saja karena ada beberapa hambatan dan kendala.

Selanjutnya, penulis tidak tinggal diam serta mencari ide dan gagasan agar sebagian yang lain juga bisa ikut serta dalam kegiatan ini. Setelah ide itu muncul, lalu penulis bersusah payah untuk mengkoordinasi kepada orang-orang yang ingin berpartisipasi walau dengan sistem yang berbeda. Tidak berselang lama dari proses koordinasi, ternyata penulis sudah mendapatkan orang-orang tersebut. Mereka juga telah menyepakati, berjanji, dan memastikan diri untuk mengikuti kegiatan ini dengan sistem yang penulis buat.

Alangkah terkejutnya penulis, ternyata tanpa disangka sebelumnya, pada praktiknya mereka lari dan telah ingkar janji kepada penulis karena tidak menggunakan cara yang telah disepakti sebelumnya. Alhasil, mereka malah menyibukkan dirinya dengan haluan baru yang dianggap mereka lebih dari segalanya ketimbang penulis tanpa ada konfirmasi sebelumnya kepada penulis.

Ini berarti ikhtiar yang penulis lakukan sebelumnya berakhir dengan sia-sia. Penulis tidak tahu apa alasan mereka berbuat demikian dan dalang utama dari perbuatan amoral ini masih belum menemukan titik terang.

Dari kisah di atas, penulis hanya bisa pasrah kepada Allah SWT dan memohon perlindungan dari kejahatan orang-orang munafik beserta antek-anteknya.

Seseorang yang munafik juga bercirikan orang yang pengkhianat. Orang yang berkhianat berarti perbuatannya dan ucapannya tidak dapat dipercaya. Sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadis riwayat Ashabu As-Sunan:
“Tunaikanlah amanat itu kepada orang yang telah mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud).

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Dalam timbangan amal perbuatan tidak ada sesuatu yang lebih berat daripada akhlak baik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Perilaku munafik hanyalah salah satu dari banyak sekali perbuatan tercela lainnya. Baik bagi kita untuk selalu menjauhi perbuatan buruk dan selalu berusaha untuk menjadi orang yang berperilaku terpuji. Sungguh dengan banyak berdoa dan berusaha berperilaku baik, dapat menjadi ladang amal kita kelak di akhirat.

*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga