Image Slider

Adaptasi Santri Baru di Pondok Pesantren

Oleh: Lukmanul Hakim

Bersamaan dengan tahun ajaran baru, biasanya masyarakat berbondong-bondong memondokkan anaknya. Lebih-lebih masyarakat pedesaan yang hampir semua anaknya dipasrahkan pada pesantren. Hal tersebut bertujuan agar anaknya dapat menambah kualitas ibadah dan ilmu yang selama ini mereka telah jalani. Mengingat pesantren adalah tempat yang paling ideal untuk melakukan hal-hal yang bersifat pengembangan diri ataupun keterhubungan dengan sang Ilahi.

Seseorang yang berstatus santri baru, khususnya yang datang dari luar daerah, misalkan pesantren di Madura, memiliki tantangan sendiri untuk hidup di lingkungan baru. Sekian tahun hidup bersama keluarga, tiba-tiba harus jauh dari mereka. Lebih-lebih santri cilik yang misalkan mondok sejak usia 7 tahun. Tantangan awal di pesantren adalah bagaimana agar hidup betah. Ketika sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan pesantren, maka mudah bagi dirinya untuk betah. Namun sebaliknya, ketika terus larut dan teringat pada kehidupan di rumah, maka perasaan akan selalu dihantui rasa was-was sehingga tidak betah di pesantren.

Akibatnya, karena terus kepikiran, banyak santri baru yang jatuh sakit. Sakitnya dadakan. Karena sewaktu baru sampai pondok, masih ada orang rumah, ia sangat sehat. Lalu, tiba-tiba malam harinya badannya menjadi panas. Ada yang sampai menggigil, keluar keringat dingin. Bahkan ada yang dibuat-buat, di bawah ketiaknya diberi irisan bawang putih, sehingga suhu panas badannya naik.

Memang, ada sebagian yang sakit karena masih belum bisa beradaptasi dengan iklim atau cuaca pondok. Biasanya di rumah tidur pada kasur yang empuk, di pondok tidur di atas lantai. Di rumah lengkap dengan bantal dan selimut, di pondok satu bantal bertiga. Di rumah leluasa mandi dan makan, di pondok serba antri.

Ada juga yang memang tidak betah, selalu kepikiran pada orang rumah. Jalan setapak menuju rumahnya selalu terbayang-bayang. Bahkan ada yang nekat mau kabur dari pesantren. Santri baru model seperti ini yang membuat pengurus pesantren selalu berjaga diri khawatir kabur.

Salah satu ciri santri yang tidak betah adalah mengucilkan diri dari teman-temannya. Biasanya ia akan menangis di pojok kamarnya. Kalau pemalu, biasanya nangis di kamar mandi. Bisa juga buka pintu lemarinya, lalu tidur-tiduran dengan kepala berbantal lemari. Lalu menangis pelan sambil memikirkan bagaimana cara kabur dari pondok.

Selain iklim daerah pesantren yang membuat tidak betah, terkadang aturan dan materi pesantren yang melatar belakanginya. Pesatnya kegiatan pesantren menjadi salah satu alasan santri baru yang tidak betah. Namun, hal ini pastinya subjektif. Karena tidak semua santri berpikiran seperti itu. Toh kegiatan pesantren bertujuan melatih mental dan kedisiplinan santrinya. Juga, pasti sudah hasil musyawarah dengan wali santri.

Tidak ada kegiatan pesantren yang perlu direvisi karena ada santri yang tidak betah. Sebaliknya, santrinya yang perlu direhabilitasi. Karena terkadang santri mondok disebabkan memiliki masalah di rumah. Bahkan terkadang dimondokkan karena orang tuanya sudah tidak kuat dan selalu meresahkan masyarakat.

Santri yang tidak betah jangan dibiarkan. Jangan sampai ia selalu menyendiri. Ajak jalan-jalan atau ngobrol di depan kamar. Bisa juga di lingkungan madrasah. Baik oleh pengurus pondok, atau teman kamarnya.

Jika tetap tidak betah, misalkan selalu menangis, apalagi sampai  minta diantar pulang, maka segera minta air barokah pengasuh. Harapannya dapat dikenal oleh pengasuh sehingga dikhususkan dalam doanya. Air barokah pengasuh ini salah satu obat mujarab bagi santri yang tidak betah. Kebanyakan santri yang tidak betah di pondok, bisa menjadi betah sebab air barokah dari pengasuh. Air barokah yang dimaksud adalah air yang didoakan oleh pengasuh pesamtren.

Jika cara pertama ini masih belum berhasil mengusir rasa tidak betah santri baru, maka lakukan cara kedua, yaitu segera menghubungi orang tuanya. Biar sinergisitas pengurus dan wali santri semakin kokoh dalam mengurus santri yang tidak betah. Tentu, wali santri yang mendapat kabar anaknya tidak betah, mereka akan kebingungan. Jika di Madura, dapat dipastikan larinya ke kiai yang bisa dan biasa menjadi washilah santri agar betah. Wali santri akan terus berikhtiar mencari jalan agar anaknya bisa betah di pondok.

Setelah ikhtiar, banyak wali santri yang berhasil mencarikan jalan agar anaknya bisa betah. Bagi wali santri, berapun biaya yang harus dikeluarkan, asal anak bisa betah mondok, pasti akan dibayar. Namanya juga orang tua, pasti menaruh harapan besar pada pesantren untuk masa depan anaknya, khususnya dalam masalah keagamaan.

Baik pengurus ataupun wali santri, ketika anaknya tidak betah di pondok, janganlah sakiti fisik mereka. Lakukan beberapa pendekatan, utamanya lewat hati ke hati. Berilah stimulus agamis, jangan yang anarkis. Didoakan terus-menerus, bahkan kalau perlu ibunya puasa sunah, dihadiahkan untuk anaknya.

Syarat alim dan amil di pondok salah satunya adalah betah dulu. Ketika sudah betah di pondok, maka belajar dan ngajinya akan lebih maksimal. Memang benar tidak ada ceritanya orang akan betah di tempat asing dalam waktu sekejap. Butuh perjuangan dan kesungguhan hati. Jangankan santri, terkadang orang nikah yang ikut ke rumah mertua merasa tidak betah.

Santri yang tidak betah bukan harus diiming-imingi oleh wali santri untuk betah. Apalagi sampai dijanjikan akan dibelikan motor asal betah, malahan bukan tambah betah, melainkan semakin gerah di pondok. Wali santri tetap jalin komunikasi dengan pengurus, atau bisa langsung sowan ke pengasuh. Minta pendapat atau solusi bagaimana cara agar anaknya bisa betah.

Namun, wali santri harus introspeksi terlebih dahulu, mengapa anaknya bisa tidak betah. Jangan-jangan itu karma bagi dirinya. Artinya bagaimana waktu dirinya mondok dulu, betah atau tidak. Iya, jika memang dulu sering pulang pondok, wajar saja anaknya tidak betah. Tapi hal tersebut tidak perlu disampaikan pada anaknya.

*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Guru Ngaji di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2016-Sekarang.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga