Image Slider

Musik dan Musikalisasi

Oleh: Firdausi

Musik dan penikmat musik ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Menurut penikmat, musik merupakan sarana hiburan. Genre musik yang digemari remaja sangat beragam. Ada yang gila pada rock, pop, đangdut, hip-hop, ska, jaz, reggae, padang pasiran (gambus, hadrah, dan sejenisnya) dan lain-lainya. Seluruh genre mempunyai gaya khas, aransemen yang berbeda saat dimainkan.

Di balik keindahannya, musik menyuguhkan hal-hal yang menarik bagi konsumennya. Yang sering diperhatikan adalah teknik dan seni memainkannya. Sebab musik tidak sembarang dimainkan. Ada beberapa aturan yang harus diperhatikan. Gitar dimainkan dengan petikan, biola digesek, drum dipukul, terompet dan seruling ditiup, dan lain-lainnya. Selain itu, memainkan musik harus tau cara membaca kord yang tertulis dalam tabulature paper.

Ajaibnya, musik bisa merubah keadaan seseorang. Misalnya, awalnya seorang musisi di Indonesia tidak terlalu ngetren (terkenal). Ketika karyanya viral, mereka dikenal dan dipuja-puji orang. Dulu kondisi ekonominya lemah, sekarang menjadi orang kaya, sebab ciptaannya laris di industri musik. Salah satu contohnya adalah pencipta lagu ‘Bongkar dan Bento’, yakni Iwan Fals yang awal mulanya pengamen, kini menjadi legenda musik dan memiliki banyak fans atau dikenal OI. Berkat musiknya yang menyuarakan suara rakyat kecil, mereka diidolakan orang banyak, termasuk para aktivis muda. Kepingan kaset yang terjual di pasar, lagu-lagu klasiknya masih enak dinikmati oleh khalayak secara online. Ia menafkahi keluarganya tanpa harus ngamen di jalanan. Semuanya dilatarbelakangi saat ia bertemu dengan seorang produser hingga akhirnya menjadi sosok yang disegani oleh musisi di Indonesia.

Sejarah Perkembangan Musik

Di masa Nabi Muhammad SAW, musik sudah ada. Kala itu digunakan masyarakat sebagai puji-pujian kepada tuhannya yang berbentuk berhala. Secara historis, setelah ditemukan alat musik oleh seorang kebangsaan Timur Tengah. Kemudian dikembangkan di Spanyol dengan membuat steman-steman khusus yang dibuat menggunakan tabulature. Sejak itulah muncul aliran-aliran musik yang didominasi oleh gitar.

Di abad Kontemporer, muncul legenda-legenda yang menemukan gaya permainannya sendiri. Jhon Lenon misalnya seorang gitaris grup band The Beatles yang menyihir masyarakat dunia dengan judul lagu Hey jude, Ballad of Jhon and Yoko, Can buy me Love. Muncul juga gitaris andal yang membuat lick-lick canggih. Diawali Chuk Berry yang mengusung genre rock dengan permainan palm-mute down stokenya. Ia banyak mengubah gaya musik dari tahun 1950-an. Kemudian diikuti oleh Jimi Hendrix dengan Bending dan Wammy-barnya. Lalu muncul juga Brian May gitaris Queen dengan harmoni gitarnya yang berlapis-lapis. Edward Van Halen dengan Tapping dan Delay plus Flanger-pashernya. Semua legenda tersebut menambah permainan musik semakin unik dan estetik.

Musik dianalogikan air yang bisa bergerak kapan pun dan ke mana saja. Dari zaman dahulu hingga sekarang, baik di kota dan di desa, musik hidup dan berkembang baik. Anak jalanan, anak sekolah, pesantren (santri), pasti senang. Sebab musik bisa diolah menjadi beragam genre, aransmen, lirik, dan lainnya, seperti dikolaborasikan dengan musik Islami. Dengan demikian, musik itu seni, seni itu indah, manusia menyukai keindahan, sehingga pengaruh musik bisa mengekspresikan perasaan seseorang.

*) Gitaris Shaolin Band STAIN Pamekasan di Era 2006-2010

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga