Oleh: Zubairi El-Karim
Sikap moderasi dalam beragama menjadi diskursus yang hangat dan menggigit di mana-mana. Terlebih setelah negara merasa terancam dengan gelombang ekstremisme intoleransi dan kekerasan berkepanjangan. Aksi intoleran dan kekerasan itu muncul dari kalangan yang memahami agama secara ekstrem atau berlebihan, baik yang diusung neo liberalisme atau neo radikalisme dan anak cucunya.
Banyak orang salah memahami moderasi, dianggapnya moderasi sebagai aliran keagamaan tertentu, sehingga ditentang dan dibenturkan dengan aliran keagamaan yang lain. Sikap moderasi sejatinya adalah jiwa Islam itu sendiri yaitu Islam Rahmatan lil Alamin. Moderasi lebih sebagai ekspresi cara pandang yang menjadi keseharian Islam. Tidak salah mengatakan Islam itu satu, tak ada Islam lainnya. Tetapi saat memasuki wilayah pemahaman atau pemikiran keislaman, maka wujud ekspresi keislaman pada masalah tertentu menjadi berbeda dan beragam. Ada yang disebut bercorak radikal, liberal, sekuler. Semua itu dalam satu istilah bisa disebut “ekstrem atau sikap berlebihan’ memahami agama. Maka yang benar mehamami agama adalah “Moderat”.
Selama ekstremisme masih di tataran wacana perbincangan masih aman. Namun, jika menjadi tindakan dan perbuatan penghasutan, maka ini alarm bahaya, karena bisa merusak sendi-sendi persatuan, memantik perpecahan, pertumpahan darah, aksi terorisme, bahkan penggulingan sebuah negara. Karena itu maka wacana ekstremisme di media sosial sejatinya tak bisa dibiarkan menggelinding begitu saja, tanpa bantahan dan pelurusan dari kalangan moderat.
Pada titik tertentu ekstremisme akan menggerakkan orang untuk mudah melanggar peraturan, memprovokasi kelompok masyarakat apalagi ditunggangi kepentingan politik, bahkan bisa menggemuruhkan orang melakukan demo besar-besaran semata karena tidak konprehensif memahami objek persoalan. Permasalahan bangsa gagal diurai, terjadi buntu dan bisa menjadi ledakan bom waktu. Semua itu disebabkan gagalnya memahami moderasi kebangsaan.
Contohnya, prilaku orang tidak memercayai virus Covid-19, tidak mematuhi protokol kesehatan, bahkan menolak vaksinasi adalah serangkaian dari sikap ekstrem. Karena hanya membaca masalah dari satu sudut pandang atau hanya dari kajian teori konspirasi yang terus diperdebatkan. Mereka gagal menerima realitas virus yang terhampar di depan mata untuk ditangani lebih rasional dengan pendekatan yang lebih ilmiah serta berkaca pada tindakan sejumlah negara yang telah berhasil menurunkan kurva kasus Covid-19 dan angka kematian dengan cepat.
Karenanya maka sikap moderasi itu berdiri di titik tengah mempertemukan dua kutub pandangan yang berseberangan (teori konspirasi dan realitas rasional) dalam satu kolam bernama Prokes dan Vaksinasi. Ingat titik tengah moderasi bisa saja bergeser ke kanan dan ke kiri sesuai dengan tantangan masalah dan problematikanya.
Untuk mencapai tindakan moderat dalam banyak hal, sungguh bukanlah barang mudah.
Seorang Ahli Tafsir Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, Lc. MA. menyebut ada 3 syarat bagi pencari sikap moderasi terlebih dalam masalah agama, (1) memiliki wawasan luas, (2) mengendalikan emosi jangan melewati batas, dan (3) selalu berhati-hati (ihtiyath).
Pertama, pandangan yang luas, itu hanya bisa dicapai dengan rajin belajar berbagai disiplin ilmu pengetahuan, mempunyai sanad keilmuan yang nyambung dengan pemilik kebenaran sejati Allah SWT. yang diwasilahkan melalui Nabi Muhammad SAW, serta mempunyai literasi yang menyeluruh utuh tentang sebuah wacana yang sedang diperdebatkan.
Karena tidak mungkin setiap orang memiliki spesialisasi disiplin keilmuan dari berbagai bidang, maka lahirlah spesialisasi tertentu dikuasai ahli tertentu, dan orang lain memiliki keahlian yang lain. Ia yang ahli agama belum tentu ahli kesehatan, demikian juga sebaliknya. Maka kata Nabi, berikan urusan sesuatu pada ahlinya agar tidak datang saat kehancuran. Yang ahli agama bicara politik agar agama tak dikorbankan, atau ahli politik legowo tidak bicara agama agar tidak terjadi politisasi agama demi nafsu politiknya. Jangan juga ahli agama bicara soal kesehatan, biarkan ahli kesehatan bicara Covid-19 dengan rumusan dan rekomendasi sehingga ruang Medsos tak semakin bising dengan seliweran mesiu perdebatan yang tak kunjung selesai.
Kalau ahli agama kebelet mau bicara kesehatan, maka yang harus diungkap adalah hasil konsensus ahli kesehatan yang sudah menjadi kebijakan negara untuk diterapkan oleh umatnya. Dengan begitu umat tidak pusing, kompak sejalan mengatasi pandemi. Kalau ditanya kenapa pandemi tak kunjung selesai? Jawabannya selain karena takdir Allah SWT juga karena pengamat awam lebih banyak jumlahnya ketimbang kasus Covid itu sendiri.
Kedua, jangan turutkan emosi melampaui batas. Beragama itu ada aturannya, ada tata caranya. Di saat normal, agama menyarankan adzan sesuai normal perintah Tuhan. Tapi saat abnormal karena ada wabah atau pandemi, maka agamapun bicara rukhsah, agama menurunkan tensi perintahnya. Contoh, saat normal maka normal juga ibadah jamaah di masjid, tapi saat hujan deras datang saja, agama menurunkan tensinya cukup sembahyang di rumah. Apalagi yang datang adalah virus pandemi yang tak kelihatan mata, mengancam jiwa, shalat di rumah menjadi jawaban. Kenapa? Karena agama memahami psikologi umatnya, agama tidak memaksa berlebihan mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
Elastisitas agama itupun juga jangan dibaca pada semua keadaan, sehingga semua masalah digeneralisasi, dipukul rata dan sama, tidak. Penerapan peraturan ketika menyentuh ruang publik komunitas tertentu bersifat proporsional. Karena ia berkelindan dengan poros maqashidus syariahnya.
Contoh, meski peraturan negara melarang menutup masjid di masa PPKM Darurat, tidak masalah bagi masjid/mushala yang hanya berisi komunitas lokal, tetap buka jamaah, karena maqashidnya adalah kehawatiran mendasar pada penularannya. Komunitas lokal sebagaimana biasa tetap jamaah di masjid kampung sepanjang tidak ada campuran warga luar kampung yang datang. Apa ukurannya? Zona Qaryah kampung. Siapa yang mengukur? Otoritas kesehatan. Maka hukum berjamaah di masjid kampung yang homogen bisa memiliki hukum yang berbeda dengan zona masjid kota yang heterogen.
Makanya jangan heran jika masjid kampung tetap ramai jamaah, Idul Adha tetap asyik-asyik saja, karena meski mereka tidak tahu dalilnya, dalil zona proporsional itulah yang menjadikan mereka tetap survive menjalankan ibadah. Inipun dengan catatan memakai Prokes ketat, pakai masker, cuci tangan, sedikit longgar jaga jarak aman. Karena itu pula maka jangan sampai ada tindakan represif kekuasaan pada jamaah kampung yang sedang mengartikulasikan ritualitas ibadahnya dengan cara yang lebih genuine, natural dan dilindungi Tuhan.
Moderasi agama mengenal sikap proporsionalitas pada aturan, tidak menurut emosi keagamaan diumbar sedemikian kencang atau terlalu longgar. Ibarat rumah, tutup pintu buka jendela, tahu kapan pintu dibuka dan ditutup. Memahami betul kapan tutup pintu buka jendela atau sama sekali semua lubang ditutup. Semua ada waktunya. Kaidahnya tetap sama Idza dhaqa ittasa’a, idza ittasa’a dhaqa. Jika represifitas negara mengental, maka kran perspektif dibuka, tapi bila gejolak rakyat mulai tak terkendali, maka elastisitas peraturan tutup pintu buka jendela dilakukan.
Ketiga, Ihtiyath atau kehati-hatian. Syarat sikap moderasi yang ketiga adalah selalu berhati-hati yang proporsional. Sikap berhati-hati berada diantara dua kutub tasyaddud dan tasahhul (mempersulit atau mempermudah). Beragama itu laksana bergelang karet, tidak longgar dan tidak ketat-ketat amat. Gelang karet dipakai tidak jadi beban, menyatu dengan kulit, tidak seperti aksesoris lain yang butuh biaya, ribet, kaku dan selalu memaksa gonta ganti brand image dengan merk terkenal dan kantong tebal.
Gelang karet kemana-mana bisa dipakai, berbaring, duduk dan berjalan, tapi saat darurat, gelang karet mudah dilepas dan ditinggalkan sementara waktu. Beragama juga demikian, hati-hati mengambil keputusan ketat longgar, harus dipertimbangkan dengan matang manfaat dan mudharatnya, zonanya, waktunya, situasinya dan tantangannya.
Laksana karet, agama tetap melekat di badan, tak mudah lepas, hilang atau ditinggalkan, karena sifatnya yang lekat. Tapi begitu inveksi virus menerkam pergelangan kulit kebangsaan maka ritualitas gelang bernama ibadah untuk sementara bisa dipindahkan, dari masjid ke rumah, dari pasar ke online. Untuk apa? Agar kita dapat melindungi diri dan keluarga kita, lebih banyak berkumpul keluarga, relaksasi dari kepenatan, meningkatkan imun, mengurangi mobilitas, membatasi kumpul-kumpul yang tidak sangat penting. Kalaupun harus berkumpul semua persyaratan yang ditetapkan negara harus dipenuhi, cuci tangan, pakai masker, hand sanitizer, jaga jarak dan yang lainnya.
Dengan memahami sikap moderasi yang benar itulah kita optimis, negara kita ini akan segera keluar dari pandemi yang menakutkan, tentu dengan banyak berdoa sungguh-sungguh dan menaati aturan negara. Semoga kita semua selamat, sehat, banyak rezeki dan diampuni Allah SWT. Amin.
*) Wakil Ketua PCNU Sumenep, Dosen Stidar Ganding dan Pegawai Kantor Kecamatan Pragaan.

