Batuan, NU Online Sumenep
Buku Menuju Aswaja Materialis: Aswaja, Sains Marxisme dan Post-Moderatisme Islam yang ditulis oleh Moh Roychan Fajar dibedah oleh Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Sumenep, Selasa, (29/6/2021). Acara digelar di auditorium Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat.
Penulis eksperimental yang bernama Roychan mengutarakan, buku ini ditulis selama satu tahun. Namun diskusi dan referensinya memakan waktu yang cukup lama. Kemudian dia menegaskan, buku ini hadir sebagai gugatan epistemik terhadap wacana Keaswajaan yang sudah lama menghegemoni sosial keagamaan warga NU.
“Buku ini hadir untuk mengkritik terhadap sanggahan tentang wacana Ahlussunnah wal Jamaah yang berada di bawa arus utama dan sering dikampanyekan oleh perguruan tinggi, seperti doktrin Islam Nusantara dan Islam moderat. Kenapa dikritik? Karena banyak narasi arus utama yang terlempar dari problem material kerakyatan,” tutur aktivis FNKPSDA Sumenep itu.
Menurutnya, secara positioning buku ini berdiri di posisi yang berbeda. Hadir dengan pendekatan baru yang menggunakan pendekatan pesantren.
“Marxisme oleh kalangan mahasiswa banyak ditanggapi, tetapi tidak dipelajari secara mendalam. Sehingga kami tulis dalam buku ini untuk mengajak aktivis muda NU untuk lebih terbuka dan dinamis dalam berpikir. Karena yang kita hadapi saat hari ini adalah persoalan lingkungan hidup, seperti perampasan ruang hidup, penggusuran rumah
warga, dan lain sebagainya. Nah jika kita analisis, itu bagian dari arus politik kapitalisme,” tegas pria Pegiat Lingkar Studi Filsafat IJAFA itu.
Mantan Ketua I Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Guluk-Guluk tersebut menyatakan, buku ini menggunakan pendekatan Marxisme sebagai paradigma kritik terhadap tantangan politik ekonomi yang selama ini melanggengkan jalannya pada persoalan kerakyatan.
“Wacana arus studi Islam yang awalnya berpihak pada akar rumput, seakan-akan gerakannya mensupport agenda pembangunan yang berstatus quo. Semestinya wawasan keislaman melawan kapitalisme,” keluhnya seraya menundukkan kepala.
Tak sampai di situ, sampai saat ini belum ada doktrin normatif yang secara serius seperti Marxisme. Oleh karenanya, posisi Marxisme dalam buku tersebut diposisikan sebagai elementer. Sedangkan Aswaja sebagai pondasi fundamentalnya. Untuk merekonstruksi problem ini, ia menggunakan wacana Aswaja dalam 3 dimensi, yakni teologi, fiqih, dan tasawuf.
“Wawasan teologi materialis mengajak pada warga yang tertindas untuk memikirkan Tuhan. Selain itu spirit ketuhanan tidak putus dari perjuangan yang bersifat kelayakan atau kemanusiaan,” imbuhnya.
Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu juga menjelaskan, dalam masalah fiqih ia mengambil satu istilah, yaitu fiqih proletar dalam tataran aksiologis. Mengingat kemaslahatan kelas harus dijunjung oleh akar rumput.
“Pekikan NKRI Harga Mati harus menggaet problem kerakyatan. Setiap acara serimonial teriakan tersebut menggema. Namun ketika hak rakyat kecil dirampas, ia diam. Di sinilah kami tulis Post-Moderatisme agar progrevitas warga NU bisa menghadapi maslahah ini,” ungkap mantan PU Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fajar Instika Guluk-Guluk itu.
Buku ini akan memberi spirit baru untuk memperbaiki problem yang sering terjadi di bawah. Dan ini perlu direfleksikan oleh warga pergerakan, termasuk problem agraria. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa itu mengajak untuk membuat terobosan baru untuk melakukan pendidikan politik yang benar-benar ideologis dan radikal. Karena politik banyak dipahami sebagai pesta elektoral.
“Kita bangun gugus atau medium politik yang punya spirit kelas yang bertolak pada problem rakyat kecil. Sehingga studi awal ini mampu melahirkan teori baru dalam lingkaran nahdliyin, karena zaman 5.0 menyajikan problem yang sangat kompleks,” pungkasnya.
Editor: Firdausi

