Pragaan, NU Online Sumenep
Kiai Muhammad Tibyan Syuja’ merasa bahagia, sebab pesantrennya dijadikan tempat Pelatihan dan Kepemimpinan Dasar (PKD) ke VII yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pragaan.
Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qarorul Makien Sarkoju’ Prenduan tersebut menceritakan bahwa, dulu lembaga pendidikannya dikira keluar dari NU semenjak ayahnya sakit di usia sepuh.
“Alhamdulillah, secara berangsur kami diminta untuk hadir di kegiatan NU. Baik di tingkat Cabang, Majelis Wakil Cabang, dan lainnya. Saat ini seluruh masyaikh di sini sudah berada di kepengurusan cabang. Dan hari ini sebuah pengakuan bahwa lembaga kami masih berada di dalam alur NU,” tuturnya saat mengawali sambutannya selaku tuan rumah, Jum’at (8/10/2021).
Kiai Tibyan menegaskan, sejak kecil dirinya sudah NU. Karena seluruh masyaikh di sini, alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan Sidogiri Pasuruan. Termasuk Kiai Syuja’ (ayahnya) santri KH R As’ad Syamsul Arifin.
“Kedua pengasuh pesantren tersebut kedekatannya dengan NU sangat kuat. Sampai Kiai As’ad berkata, santriku yang keluar dari NU, jangan harap berkumpul denganku di akhirat. Sebaliknya, jika santriku tetap di jalan NU, maka Kiai As’ad akan mengawalnya sampai ke surga. Jika santri saya keluar dari nu maka tidak diakui santriku,” tegasnya.
Menurutnya, akhir ini ada gerakan masif yang digembor-gemborkan oleh aliran di luar NU. Doktrinnya mudah diterima dengan akal.
“Doktrinya mampu menjebak warga, seperti halnya orang Mu’tazilah yang berkata, mau ikut Al-Qur’an atau hadits. Mau ikut Nabi atau Imam Syafi’i,” terangnya.
Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Sumenep itu menyatakan bahwa, dalam bidang aqidah, NU mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Di bidang fiqih, bermadzhab secara qauli dan manhaji kepada salah satu Al-Madzahib Al-‘Arba’ah, yaitu Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hambali. Di bidang tasawuf, mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.
“Dalam hikayah, KH Abd Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri sering berkumpul. Namun beda pemahaman dalam bidang siyasiyah dan fiqih. Walaupun ada perbedaan, beliau tetap saling menghormati. Yang menjadi masalah saat ini adalah tuduh menuduh,” ungkap alumni Pondok Pesantren Sidogiri itu.
Berangkat dari problem tersebut, beliau mengajak kepada peserta untuk memasifkan perjuangan aqidah Aswaja melalui NU.
“NU pasti Aswaja. Aswaja belum tentu NU. Karena banyak Ormas lain yang beraliran Aswaja. Jika kita warga NU, pasti mengakui ajaran Aswaja,” sergahnya.
Kemudian Kiai Tibyan menyitir dawuh Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, sejak dulu Indonesia sepakat bahwa Islamnya mengikuti mazhab Syafi’i. Aliran yang mencuat saat ini muncul belakangan.
“Agama dengan pemerintah dua saudara kembar. Agama kuat karena ada pemerintah. Agama bisa diperkuat dengan pemerintah. Jika pemerintah dikuasai oleh aliran di luar NU, maka mencium Al-Qur’an setelah mengaji, mencium tangan guru, ziarah kubur, wiridan dan sejenisnya akan dianggap bid’ah. Pesan kami, jangan sampai terjebak pada sempalan aliran tersebut,” pungkasnya.

