Image Slider

Investasi Masa Depan Generasi Bangsa

Oleh : A. Firman Maulana

Tahun 1901 menjadi tahun yang sangat bersejarah bagi awal kebangkitan pergerakan pemuda. Mengapa? Karena di tahun itulah, generasi harapan bangsa yang tertindas dan terjajah selama berabad-abad lamanya mulai bangkit—meski awal kebangkitan itu terjadi di negeri orang.

Peristiwa perkumpulan yang dipelopori oleh Dr. Sutomo bersama para pemuda Indonesia lainnya dikenang sejarah sebagai lahirnya kesadaran nasional bangsa Indonesia. Pada waktu itu, rakyat pribumi—inlander, ditindas oleh kolonial Belanda, Jepang, Portugis, dan yang lainnya. Hal ini yang menjadi dasar bagi perkumpulan tersebut, hingga lahirlah organisasi Budi Utomo sebagai wujud pengejawantahan semangat revolusi pemuda bangsa.

Tidak hanya itu, peristiwa penting lainnya juga terjadi dengan aktor utamanya adalah pemuda bangsa. Tahun 1928 menjadi bukti nyata pertentangan dan semangat perubahan bagi seluruh rakyat, bahwa tanah yang mereka basahi setiap harinya dengan linang air mata adalah tanah mereka sendiri. Dan menjadi haram hukumnya rakyat pribumi kehilangan kesejahteraan. Apalagi yang terjadi adalah penindasan demi penindasan.

Dua peristiwa di atas menjadi hal yang sangat krusial bagi mental pemuda. Karena, mereka menjadi paham, bahwa di tangan mereka terdapat cita-cita dan harapan besar bangsa terhadap negeri tanah mereka dilahirkan. Tercapainya kemerdekaan dan bertahannya wilayah teritorial negara Indonesia tidak lain dipelopori oleh gerakan pemudanya. Sejarah yang membumihanguskan tanah para penjajah adalah tendensi dari keseriusan para pemuda untuk berikhtiyar menjalani kehidupan yang merdeka.

Namun, menjadi sangat tragis untuk diungkapkan situasi pemudanya saat ini. Kondisi mental para pemuda berbanding terbalik dengan revolusi mental pemuda era 90-an. Hal ini terjadi akibat beberapa faktor yang menjadi penghambat terhalangnya kesejahteraan rakyatnya. Bahkan, di era yang mafhum dengan istilah zaman milenial, keadaan pemudanya terlihat melempem dan tampak seperti macan yang kehilangan taringnya. Faktor-faktor tersebut antara lain, adalah pertama, kehidupan yang cenderung hedonis. Kedua, rasa perjuangan yang mulai menipis, sehingga yang diburu adalah sesuatu yang instan. Ketiga, kurangnya rasa simpati terhadap keilmuan.

Tiga faktor di atas menjadi pemicu ketidakstabilan kondisi generasi bangsa. Masa yang berapi-api dari jiwa seorang pemuda menjadi tidak berarti manakala harus berhadap dengan nafsu yang memikat hati untuk bermakmum kepadanya. Nafsu yang memikat adalah tantangan terbesar seorang pemuda dalam menatap masa depan. Nafsu menjadi musuh terberatnya. Dan bahkan, ia akan kehilangan segala masa depannya apabila nafsunya sudah berhasil mengalahkan akal sehatnya dalam menatap target untuk masa depan.

Tidak hanya itu, seorang pemuda sudah sepantasnya mempunyai jiwa-jiwa pejuang. Jiwa yang semacam itu akan menjadi panglima perubahan untuk mewujudkan niat dan target dari seorang pemuda. Coba kita falsh back terhadap sejarah bangsa ini yang menjadikan para pemuda sebagai aktor utama dari perjuangan. Sebut saja peristiwa penggulingan terhadap rezim otoriter—Soeharto. Rezim yang berkuasa selama kurang lebih 32 tahun, tunduk terhadap pergerakan para pemuda. Hal ini menandakan bahwa para pemuda mempunyai peran sentral untuk mengubah ketidakstabilan negeri ini.

Yang terakhir, para pemuda harus lebih paham, bahwa dengan ilmu, investasi kesuksesan negara kesatuan ini akan semakin terasa. Kesuksesan negara ini akan menjadi nyata jika rakyatnya sejahtera. Rakyat sejahtera menjadi sangat mustahil apabila para pemudanya tidak dituntut untuk belajar, belajar dan belajar. Dunia intelek menjadi kebutuhan primer di zaman ini. Hal ini mampu kita lihat dari fenomena yang terjadi di negeri ini. Misal, pelegitimasian seks non-marital yang menjadi disertasi dari seorang dosen.

Ketika para pemuda salah memahami konteks dari disertasi tersebut, maka sangat wajar apabila negara kita dibodohi oleh orang asing. Mengapa? Hal ini terbukti dari ketidakmampuan generasi bangsa dalam mencerna bangsanya sendiri dari sektor historis, empiris, dan psikomotorisnya. Sehingga, yang terjadi malah anomali yang berkepanjangan.

Oleh karena itu, penulis mengajak kepada seluruh pembaca untuk tetap bersemangat dalam menempuh pendidikan. Karena kita pahami bersama, bahwa pemuda adalah penentu segalanya.

)*Santri PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Sekretaris Rayon IKSASS Sumenep dan sekaligus Pendiri Forum Literasi Pemuda Desa.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga